alexametrics

Dituding Sony dan Ricky Kurang Hargai Atlet, Berikut Klarifikasi PBSI

20 Mei 2020, 16:08:02 WIB

JawaPos.com – Siang ini (20/5), dua mantan pemain pelatnas PP PBSI Ricky Karanda Suwardi dan Sony Dwi Kuncoro mengunggah tulisan yang mengejutkan di Instagram. Menurut Sony dan Ricky, PP PBSI kurang menghargai atlet.

Hal yang mereka permasalahkan adalah cara PP PBSI ketika melakukan degradasi. Sony dan Ricky kecewa karena kali pertama mengetahui terdegradasi malah dari media. Sony dari koran. Sedangkan Ricky dari media sosial.

“Sampai saat ini saya belum pernah dengar mantan-mantan atlet pelatnas yang didegradasi dengan cara pembicaraan yang baik (mohon dikoreksi kalau salah),” tulis Sony di Instagram.

Keluhan Sony dan Ricky itu dijawab oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susy Susanti. Menurut Susy, sebelum mempublikasikan nama-nama atlet yang terkena degradasi, PBSI terlebih dahulu memberi tahu pelatih. Dan pelatih yang akan meneruskan ke atlet.

“Saya rasa semua pelatih sudah menginfokan. Tidak mungkin kan kami tak melibatkan pelatih dari atlet yang bersangkutan? Semuanya pasti diinfokan,” kata Susy saat dihubungi JawaPos.com Rabu (20/5).

Peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 itu mengungkapkan bahwa PBSI tidak asal mendegradasikan atletnya. Tetapi semua terukur, berdasarkan data yang dimiliki.

“Kami tidak mungkin berbohong, semua berdasar data yang PBSI miliki. Seperti prestasi terakhir apa, target ke depan apa, jadi nggak asal mendegradasikan saja. Misal, atlet ini sudah 13 tahun di pelatnas, umur baru 27 tahun, prestasi terakhirnya apa. Kalau tidak ada, ya tidak masuk,” tegas Susy.

“Regenerasi pasti ada. Daripada anggarannya diberikan ke atlet yang belum mempunyai target, lebih baik dialokasikan ke generasi berikutnya. Saya juga pernah jadi atlet, pasti punya target ke depannya. Kalau tidak punya, ya buat apa? PBSI juga punya target, punya tanggung jawab. Pendegradasian juga bukan mutlak keputusan Kabid Binpres. Semua dirumuskan dengan pengurus. Ini loh datanya, prestasi terakhir dia ini loh,” lanjut Susy.

Susy menambahkan, meskipun atlet tersebut berstatus magang atau pemain profesional, mereka tetap mendapatkan jatah turnamen. Namun yang membedakan magang dan atlet tetap pelatnas adalah soal pemberangkatannya.

Hal-hal seperti tiket, akomodasi, hotel, dan lainnya ditanggung oleh atlet magang yang bersangkutan.

Tapi, kata Susy, jika atlet magang tersebut berprestasi dan mendapat juara, biaya pemberangkatannya bakal diganti oleh PBSI. “Kami menghargai sekali kok, jika mereka juara, pasti kami ganti, minta bonus ke Menpora. Semua sudah ada aturannya,” jelasnya.

Susy berharap semua atlet magang bisa mencontoh Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Ganda nomor dua dunia itu sebelumnya sempat menjadi atlet magang. Tetapi ketika mereka berprestasi, PBSI memberikan reward dan mereka mendapatkan fasilitas pelatnas.

“Saya salut sama Hendra. Dia bilang ke saya, Ci saya mau mundur, saya mau main profesional di liga Asia, saya butuh tempat latihan. Mendengar itu, PBSI ngasih tempat latihan. Dan terbukti kan Hendra berprestasi, ya kami kasih reward, minta bonus juga ke Menpora. Kami tidak pernah menelantarkan atlet magang,” kata Susy.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Jenderal PP PBSI Achmad Budiharto mengapresiasi masukan dari Sony dan Ricky Karanda. Yakni terkait pemberian sertifikat atau piagam dari PBSI kepada atlet yang mengalami degradasi.

“Terima kasih masukannya ya. Nanti, akan menjadi bahan penyempurnaan mekanisme pemanggilan dan pemulangan atlet yang sudah berjalan selama ini,” ucap Budiharto.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Gugun Gumilar



Close Ads