alexametrics
Indonesia Masters 2020

Pusing, Lelah, Berkunang-kunang, Terbayar Lunas dengan Gelar Juara

20 Januari 2020, 11:28:26 WIB

JawaPos.com-Greysia Polii/Apriyani Rahayu mencatat sejarah baru. Untuk kali pertama, pasangan peringkat kedelapan dunia itu bisa meraih juara di rumah sendiri, Istora Senayan.

Pada Indonesia Masters 2018, mereka sudah begitu dekat dengan gelar. Sayang, mereka dijegal Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi. Pada edisi tahun lalu, Greysia/Apriyani malah terhenti di semifinal.

Kemarin Greysia/Apriyani mendobrak tuah Istora dengan sangat dramatis. Mengalahkan Maiken Fruergaard/Sara Thygesen, pasangan Denmark yang sejatinya levelnya jauh di bawah mereka. Peringkat ke-30. Tapi luar biasa kuat. Greysia/Apriyani harus bertempur habis-habisan selama 80 menit sebelum akhirnya menang 18-21, 21-11, 23-21.

’’Jujur kami lelah sekali. Pusing, kepala berkunang-kunang. Kami dari awal tidak memikirkan hasil akhir. Kami hanya ingin memperbaiki performa kami,’’ tutur Greysia setelah laga.

Apriyani menimpali, dirinya dan Greysia sama sekali tidak menyangka bisa juara. ’’Saya berkaca tahun lalu kami terpuruk. Gimana caranya kami keluar dari masalah. Kami mau juara, mau maju. Di rumah sendiri, di Indonesia, kami bisa menunjukkan performa terbaik,’’ tuturnya dengan suara bergetar.

Apri, yang selalu tampak tangguh, meneteskan air mata saat konferensi pers. Melanjutkan tangisnya yang sudah pecah di podium.

Ganda putri terbaik Indonesia itu memang mengalami penurunan performa sejak pertengahan tahun lalu. Gelar juara terakhir yang mereka dapat adalah India Open pada Maret 2019. Peringkat mereka merosot, dari yang pernah nomor 3 dunia menjadi 8.

Namun, kemarin Greysia/Apriyani tampil sangat berbeda. Tepatnya mulai game kedua. Mereka bergeming menghadapi serangan-serangan tajam Fruergaard/Thygesen. Mode bertahan superrapat yang diterapkan sulit ditembus.

Sampai akhirnya lawan lelah dan membuat kesalahan sendiri. Apri kembali menjadi bintang. Saat Greysia membuat error, pemain 21 tahun itulah yang mengcover lapangan.

Misalnya, saat game ketiga. Mereka sempat unggul 17-14 sebelum pasangan Denmark mengejar. Fruergaard/Thygesen bahkan sudah mencapai championship point. Dua kali pula. Ngeri. Eh, Apri mampu bermain tenang hingga berkali-kali drive dan smes dia menjadi penyelamat.

’’Saya sangat bangga sama Apri. Dia mau terus ditekan, didorong biar keluar emasnya, potensi paling dalam kita asah terus,’’ jelas Greysia. ’’Kami memuji Denmark bisa main bagus. Tadi mereka main enjoy walaupun dengan sorakan Istora. Jadi, itu yang kami coba ambil positif di lapangan. Nothing to lose,’’ lanjut pemain 32 tahun tersebut.

Fruergaard/Thygesen memuji penampilan solid Greysia/Apriyani. ’’Tentu kami sangat kecewa. Sempat match point di game ketiga, tapi tidak bisa menang,’’ ucap Thygesen.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/c19/na



Close Ads