alexametrics
Hongkong Open 2019

Kans Juara Dirampok Wasit, Ginting: Kecewa, Marah, Tapi Saya Menerima

17 November 2019, 21:38:36 WIB

JawaPos.com-Anthony Sinisuka Ginting tertunduk di belakang lapangan Hongkong Coliseum. Dia cukup lama membungkuk, bertumpu pada raketnya. Terlihat, aura kepedihan menyelimuti pemain Indonesia nomor delapan dunia tersebut.

Pada bagian lapangan yang lain, sang lawan Lee Cheuk Yiu berselebrasi dengan heboh. Puas merayakan kemenangannya, pemain tuan rumah itu lantas melihat ke arah Ginting.

Pemain nomor 27 dunia itu lalu berjalan menghampiri Ginting. Mengajak berbicara dan menghibur. Lee lantas memeluk pebulu tangkis berusia 23 tahun tersebut.

Ginting memang pantas luar biasa terpukul. Keputusan umpire asal Jerman Joerg Hupertz menutup peluangnya untuk menjadi juara Hongkong Open 2019.

Saat itu, Lee meraih championship point dalam kedudukan 21-20. Dalam situasi sangat menegangkan, Ginting lantas menyambar bola netting Lee. Dari tayangan ulang televisi terlihat jelas bahwa bola sodoran Ginting itu sangat bersih dan sah.

Bola sabetan Anthony Sinisuka Ginting harusnya sah. Sebab, sebelum Ginting menyambar, bola sudah melewati net. Namun wasit menganggap Ginting melakukan kesalahan. (badmintonworldtv)

Sebelum Ginting melakukan sabetan, shuttlecock sudah melewati net. Raket milik Ginting juga sama sekali tak menyentuh net. Walau posisi raket sudah di area permainan Lee, namun poin itu clear menjadi milik Ginting. Itu berdasarkan pasal 13.4.2 yang dikeluarkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Pertandingan sejatinya berlanjut dalam kedudukan 21-21.

Namun, ternyata wasit Hupertz berkata lain. Ginting dianggap melakukan kesalahan. Poin itu lantas mengantar Lee juara di kandang sendiri. Skor akhir game ketiga menjadi 20-22.

Media sosial meledak dan berang dengan keputusan wasit.

Bahkan tunggal nomor tiga dunia Anders Antonsen menulis di Instagram bahwa Ginting sama sekali tidak melakukan kesalahan. Harusnya, imbuh pemain asal Denmark itu, terdapat situasi challenge untuk memutuskan apakah wasit telah melakukan keputusan benar atau keliru.

’’Tentunya saya sangat kecewa, marah, dan merasa keputusan wasit tidak fair. Ini terjadi di poin kritis dan saya merasa tidak ada yang salah. Tapi namanya permainan, saya harus bisa menerima. Ada yang menang dan ada yang kalah,” kata Ginting dalam siaran pers PP PBSI yang diterima Jawa Pos.

Ginting layak meradang. Sebab, dia berusaha sangat keras, jatuh bangun, dan mati-matian untuk memperjuangkan kemenangannya. Pada game ketiga itu, Ginting sempat tertinggal jauh 8-14. Namun pelan-pelan dia bangkit, menyamakan kedudukan 18-18, dan bahkan mencapai match point lebih dulu dalam kondisi 20-19.

Namun ternyata, Lee berhasil mencetak tiga angka beruntun. Dan satu poin terakhir tersebut terjadi karena kesalahan fatal wasit dalam memberikan keputusan.

’’Di game ketiga saat ketinggalan, saya ingat di babak sebelumnya saya pernah begini dan bisa menang, lalu saya semangat lagi dan bisa menyusul. Tapi akhirnya seperti ini. Saya kurang beruntung,” ucap Ginting, pasrah.

Permainan Ginting sejatinya sangat solid pada game pertama. Dia mendikte total permainan dan menang mudah 21-16. Ginting tidak sekalipun tertinggal dalam pengumpulan angka.

Pada game kedua, Lee bangkit. Banjir kesalahan yang dilakukan Ginting membuat Lee mengambil alih kontrol permainan dan akhirnya menyamakan kedudukan 1-1 via keunggulan sangat telak 21-10.

Anthony Sinisuka Ginting (kiri) menjadi runner-up Hongkong Open 2019. (Widya Amelia/PP PBSI).

”Saya sudah mempersiapkan diri dengan baik, saya tahu Lee akan bermain dengan percaya diri di depan publiknya sendiri. Waktu di game kedua itu memang ada perubahan cara main karena kondisi angin,” ucap Ginting.

Sepanjang Hongkong Open 2019, Ginting sejatinya bermain sangat luar biasa. Sejak babak pertama sampai semifinal, dia menyingkirkan nama-nama top mulai dari Ng Ka Long Angus, Jan O Jorgensen, Chou Tien-chen, dan Jonatan Christie.

Semua berakhir lewat perjuangan sangat keras sampai tiga game dan selalu memakan tempo lebih dari satu jam. Laga melawan Chou (pemain nomor dua dunia) dan Jonatan (ranking enam dunia) berjalan sangat dramatis. Ginting sempat di ambang kekalahan namun bisa bangkit untuk meraih kemenangan.

Dengan hasil ini, Indonesia gagal membawa pulang gelar dari Hongkong Open 2019. Sebelum kekalahan Ginting, juara dunia 2019 Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga menjadi runner-up. The Daddies dikalahkan Choi Sol-gyu/Seo Seung-jae asal Korea Selatan dalam rubber game yang berakhir 21-13, 13-21, dan 12-21.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads