alexametrics

Cara Jepang Menghadapi Ancaman ”Gangguan Alam” di Olimpiade Tokyo 2020

17 Oktober 2019, 19:00:10 WIB

JawaPos.com-Gempa, topan, dan badai seperti ”makanan” sehari-hari bagi warga Jepang. Pada pergelaran Olimpiade Tokyo tahun depan, giliran suhu panas ekstrem yang mengintai. Sejak awal tahun ini, serangkaian usaha diuji coba untuk membuat peserta dan pengunjung tetap nyaman berada di tengah temperatur yang menggerahkan itu.

DALAM pidatonya pada acara ”One Year to Go” di Tokyo International Forum 24 Juli lalu, Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach memuji setinggi langit kesiapan Tokyo sebagai tuan rumah. Pria asal Jerman itu mengatakan tidak pernah melihat persiapan pra-acara sebagus pemerintah Jepang dalam pergelaran Olimpiade-Olimpiade sebelumnya.

”Jujur, untuk ukuran setahun sebelum penyelenggaraan, belum pernah saya melihat host Olimpiade sesiap Tokyo,” ucap Bach disambut tepuk tangan hadirin dilansir Reuters.

Salah satu tamu kehormatan yang hadir saat itu adalah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Banyak hal yang membuat Tokyo disebut-sebut sangat siap menyelenggarakan ajang empat tahunan yang akan berlangsung 24 Juli–9 Agustus 2020 itu.

Pembangunan venue yang lancar, fasilitas umum kelas wahid, sampai antusiasme warga Jepang untuk menyukseskan ajang tersebut sangat tinggi. Juli lalu, panitia mengklaim 200 ribu orang telah mendaftar sebagai sukarelawan.

Selain itu, mereka mengumumkan 3,2 juta tiket berbagai pertandingan telah ludes terjual pada sesi pertama penjualan khusus untuk penonton domestik. Tapi, masih ada satu hal yang selalu mengkhawatirkan penyelenggara. Dan itu berada di luar kendali mereka.

Prakiraan cuaca menyebutkan, cuaca panas ekstrem bakal melanda Tokyo selama pergelaran Olimpiade. Sepuluh hari terakhir Juli dan awal Agustus adalah masa di mana Jepang diselimuti cuaca terpanas. Tahun ini, rata-rata suhu Tokyo selama periode tersebut adalah 31 derajat Celsius. Bahkan, berdasar data badan bencana nasional Jepang, melonjaknya suhu di kota itu tahun ini telah menewaskan 57 orang.

”Kami menyadari, kondisi cuaca akan menjadi tantangan terbesar dalam agenda olimpiade dan paralimpiade mendatang,” ucap Masa Takaya, juru bicara panitia Olimpiade Tokyo 2020 dilansir Reuters.

Untuk itu, panitia telah menyiapkan beberapa siasat dalam mengatasi cuaca terik tersebut. Di antaranya, memulai pertandingan lebih pagi. Salah satu yang sudah dipastikan adalah maraton. Lomba lari jarak jauh itu bakal start satu jam lebih awal pada pukul 06.00 waktu setempat.

Tidak cukup dengan memajukan jadwal, kemarin (16/10) pihak panitia telah memastikan venue maraton dipindah dari Tokyo ke Sapporo, di Pulau Hokkaido. Alasannya, wilayah paling utara Jepang itu memiliki cuaca yang lebih bersahabat. Di Sapporo, cuaca pada pagi dan siang hari 5–6 derajat Celsius lebih sejuk dibanding Tokyo pada Juli dan Agustus. ”Ini salah satu bentuk dari komitmen kami untuk memastikan kesehatan atlet,” ucap Bach dalam rilis resmi IOC.

Sejumlah aturan untuk penonton juga akan dilonggarkan. Misalnya, diperbolehkannya membawa botol minuman dari luar venue. Di beberapa venue outdoor, pihak panitia juga telah menyiapkan salju buatan yang akan disemprotkan ke tribun penonton ketika suhu sangat terik.

Uji coba telah dilakukan pada test event Kano di Sea Forest Waterway, Tokyo, bulan lalu. ”Percobaan pertama cukup baik. Tapi, ada beberapa evaluasi seperti permukaan tribun yang menjadi lebih licin,” ucap Tomoaki Matsumoto, panitia acara dilansir Japan Times.

Terkait dampak badai Hagibis yang melanda Jepang akhir pekan lalu, panitia telah mengonfirmasi bahwa hanya ada beberapa kerusakan kecil pada sejumlah venue Olimpiade di Tokyo. Kerusakan pun terjadi bukan di area venue utama cabor.

”Beberapa pagar venue memang hancur. Tapi, itu akan bisa diperbaiki lagi dalam beberapa hari ke depan,” ucap Masao Hijikata, executive director representative Olimpiade 2020.

Menyiasati Cuaca Panas Ekstrem di Olimpiade Tokyo 2020

*IOC memindahkan venue marathon dan jalan cepat dari Tokyo ke Sapporo, Hokkaido untuk mendapat cuaca lebih bersahabat.

*Jalanan sepanjang 42 km untuk maraton akan diberi lapisan khusus yang bisa meredam suhu sekitar 8 derajat celcius.

*Beberapa tribun penonton di venue outdoor akan disiram salju buatan. Salah satunya pada cabor Kano yang dilangsungkan Sea Forest Waterway, Tokyo.

*Pintu venue indoor yang memiliki AC akan dibiarkan terbuka untuk membuat udara di luar gedung lebih sejuk.

*Penonton akan diperbolehkan membawa botol minuman sendiri. Hal yang dilarang pada gelaran olimpiade-olimpiade sebelumnya karena berkaitan dengan sponsor dan keamanan.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : irr/c25/cak


Close Ads