alexametrics

Anthony Ginting: Pasti Orang Nggak Percaya Saya Bisa Juara Tahun Lalu

Beban Berat di China Open 2019
17 September 2019, 18:16:46 WIB

JawaPos.com– Anthony Sinisuka Ginting memikul beban berat di China Open 2019 kali ini. Dia satu-satunya pemain Indonesia yang berstatus juara bertahan. Tahun lalu, dia tampil sangat hebat dengan mengalahkan Kento Momota di final.

Tahun ini, dia harus juara, jika tidak ingin kehilangan banyak poin pada kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Mempertahankan gelar jelas misi yang superberat. China Open adalah gelar terakhir dia. Sejak awal tahun 2019, dia belum berhasil menjadi juara di turnamen apa pun. Sudah begitu, performa Ginting dalam tiga turnamen terakhir menurun. Peringkat dunianya pun turun lagi ke posisi 9. padahal pemain 23 tahun itu sempat berada di peringkat 7 hingga awal Juni.

”Belakangan saya merasa fokus dan kepercayaan diri naik turun. Habis dapat poin, tapi langsung hilang lagi,” curhat Ginting waktu ditemui di Pelatnas Cipayung akhir pekan lalu. ”Dalam pertandingan, saat musuh ubah pola main, saya lambat menyesuaikan. Kalau sebelumnya bisa ada antisipasi,” lanjut dia.

Melihat drawing tahun ini, Ginting punya kans lolos ke semifinal. Setidaknya di atas kertas. Di babak pertama, dia akan berhadapan dengan pemain Jepang Kenta Nishimoto. Sejarah pertemuan mencatat, mereka sama-sama dua kali menang dan dua kali kalah. Pertemuan terakhir terjadi di Singapore Open 2019 April lalu. Ginting menang straight game 21-10, 21-16.

Jika bisa menaklukkan pemain peringkat ke-12 itu, maka lawan di babak 16 besar seharusnya tidak sulit. Antara Parupalli Kashyap (India) atau Brice Laverdez (Prancis) sama-sama belum pernah menang atas Ginting.

”Pemain Jepang bisa dibilang ulet. Tipe yang tidak gampang mati sendiri atau dimatikan,” ujar Ginting, me-review peluangnya menghadapi Nishimoto. ”Fisiknya juga lumayan bagus, jadi tiap match harus benar-benar jaga fokus. Juga harus berani ngadu,” lanjut dia.

Seandainya mulus ke perempat final, ada kans Ginting bertemu jagoan tuan rumah Shi Yuqi atau semifinalis Kejuaraan Dunia asal India Sai Praneeth. Akhir Agustus lalu, pemain nomor tiga dunia itu mengumumkan batal terjun di China Open. Pemulihan cedera engkelnya belum tuntas. Namun, hingga tadi malam, dia belum menyatakan mundur. Ada kemungkinan, dia tetap bermain.

Drawing itu sebenarnya lebih ”ringan” jika dibandingkan tahun lalu. Pada edisi 2018, Ginting melindas nama-nama yang lebih mengerikan. Mulai dari Lin Dan di babak pertama, lalu Viktor Axelsen, Chen Long, hingga Chou Tien-chen di semifinal. Dan terakhir Momota di final.

”Tahun lalu bisa dibilang beruntungnya banyak. Pasti orang-orang lihat kayak nggak percaya. Saya sendiri nggak percaya bisa lewati itu. Pas lihat drawing saya ragu sendiri. Cuma tahun lalu memang rezeki dikasih Tuhan,” kenang Ginting. ”Kalau tahun ini mungkin tidak sama. Tapi yang pasti saya mau berusaha. Lawan siapa nanti pasti berusaha lebih siap saja,” sambung dia.

Ginting bercerita, status juara bertahan juga menjadi perhatian khusus pelatih tunggal putra Hendri Saputra. Pelatih asal PB Tangkas itu banyak memberi masukan terkait faktor nonteknis. ”Memang kan orang lebih banyak kalah di nonteknis. Musti juara ya jadi tegang. Koh Hendri lebih mewanti-wanti soal itu,” ungkap Ginting. ”Sejauh ini nggak ada masalah. Dia berpesan, ketika bertanding nggak usah pikirkan bahwa tahun lalu juara. Intinya jangan menggebu-gebu tapi jangan terlalu nyantai. Harus bisa kontrol,” ucapnya.

Hari ini, Ginting masih bisa berlatih dan menyiapkan mental. Besok dia baru berlaga di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Jiangsu, China. Badminton lovers benar-benar menaruh harapan besar terhadap tunggal putra kesayangan mereka agar bisa kembali juara seperti tahun lalu.

Anthony Sinisuka Ginting Dalam Empat Turnamen Terakhir

Australian Open

Runner-up

Indonesia Open

16 besar

Japan Open

Perempat final

Kejuaraan Dunia

16 besar

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/na



Close Ads