alexametrics
Indonesia Masters 2020

Kalah Versus The Daddies, Ganda No 1 Taiwan: Kualitas Lawan Luar Biasa

17 Januari 2020, 18:41:57 WIB

JawaPos.com-Sejatinya, Wang Chi-lin/Lee Yang bermain sangat baik pada perempat final Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, hari ini (17/1).

Ganda nomor satu Taiwan itu terus unggul nyaris sepanjang game ketiga. Namun, sang lawan, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bangkit pada saat yang sangat tepat, memenangkan pertandingan, dan merebut tiket semifinal.

Hendra/Ahsan menang dengan skor 9-21, 21-15, dan 21-19.

Pada game ketiga itu, pertandingan berjalan dengan sangat seru. Chi-lin/Lee Yang sangat mendominasi pertandingan. Mereka tampil sangat cepat, kuat, taktis, dan efisien di depan net. Permainan no-lob yang mereka peragakan benar-benar membuat The Daddies tertekan.

Namun, dalam kondisi tertinggal 18-19, Hendra/Ahsan tiba-tiba mendapatkan momentum besar. Mereka berhasil mencetak tiga angka beruntun dan akhirnya memenangi pertandingan.

Praktis, pada game ketiga itu, Hendra/Ahsan hanya unggul sekali yakni pada situasi 20-19. Namun mereka bablas menjadi pemenang.

Ahsan terlihat tidak percaya dengan kemenangan yang baru mereka dapatkan. Dia geleng-geleng dan menggaruk kepalanya yang tentu saja tidak gatal itu. Sambil mengumbar senyum lebar, Ahsan dan Hendra lalu menyalami dan memeluk lawannya.

”Kami tidak bisa bermain serapi Hendra/Ahsan. Sebenarnya semua plan kami sudah bisa berjalan dengan baik, tapi sayang belum bisa berhasil karena kualitas lawan kami yang benar-benar luar biasa. Tapi secara keseluruhan, kami puas dengan permainan kami tadi, meski kami kalah,” kata Lee Yang kepada Jawa Pos.

Komentar Lee Yang itu jelas mengacu pada permainan di game pertama dan ketiga. Pada pembuka laga, mereka bermain dengan dahsyat, unggul sangat jauh sampai 19-8.

Ganda nomor 7 dunia itu lalu menutup game pertama dengan skor telak 21-9.

Pada game kedua, giliran Hendra/Ahsan yang tidak terkejar mulai awal sampai akhir.

Berharap bisa menang pada game penentuan, Chi-lin/Lee Yang akhirnya gagal melewati ganda nomor dua dunia tersebut.

”Tentu, pengalaman Hendra/Ahsan yang bikin mereka sangat matang seperti sekarang,” kata Lee Yang.

”Sebagai pemain senior, kontrol bola mereka masih sangat baik. Itu jika dibandingkan kami atau pemain-pemain muda lain yang kadang masih suka berantakan mengendalikan bola. Faktor lain seperti servis, rotasi, dan pace mereka juga masih sangat oke,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Ahsan mengaku sangat bersyukur bisa menang dalam partai krusial ini. Chi-lin/Lee Yang, kata pemain 32 tahun itu, sangat tidak mudah untuk ditundukkan.

Hendra menambahkan, pada game pertama, Chi-lin/Lee Yang membuat permainan mereka menjadi tidak berkembang. Sebab, lawan tampil sangat agresif, terus menekan, hingga membuat bola-bola pengembalian Hendra/Ahsan kerap tanggung dan mudah dihajar.

“Pola main mereka bagus, power juga lebih kuat. Harus berani sama mereka. Jadi, mereka nggak nyaman dengan pola main kami,” kata Hendra.

Dalam permainan yang begitu menegangkan itu, Hendra/Ahsan terlihat begitu tenang dan bisa menguasai keadaan. Namun, sesungguhnya, mereka mengaku sempat panik.

“Panik sih pasti ada, ya tapi dicoba saja. Kalau sudah coba dan nggak bisa kan yang penting sudah dicoba,” ucap Ahsan.

Pada semifinal, Hendra/Ahsan masih menunggu lawan. Yakni antara pemenang antara Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto versus ganda Denmark Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Banu Adikara


Close Ads