alexametrics

Meski Pernah Juara, Bagi Anders Antonsen Bermain di Istora Itu Sulit

16 Juli 2019, 15:09:48 WIB

JawaPos.com-Kalau ada venue yang paling sulit ditaklukkan, itu adalah Istora Senayan. Bukan karena kondisi lapangan yang berangin. Tetapi, Indonesia terkenal dengan suporternya yang luar biasa meriah. Untuk menjadi juara di sini, pemain harus bisa menjaga fokus dan konsentrasi selama pertandingan. Paling tidak, itulah yang dirasakan Kento Momota.

Pemain terbaik dunia itu begitu penasaran dengan Istora. Dia memang berstatus juara bertahan. Tapi, gelar edisi 2018 itu adalah satu-satunya yang bisa dia dapat di Indonesia. Tidak bisa diulang. Tidak di Asian Games (dia kalah di babak 16 besar oleh Anthony Sinisuka Ginting). Tidak juga di Indonesia Masters 2019. Januari lalu, dia ditaklukkan rising star Denmark Anders Antonsen.

’’Sebagai pemain nomor satu dunia, kesempatan saya untuk menjadi juara mungkin besar. Tapi, saya tidak ingin lengah. Saya akan tetap berusaha untuk itu,’’ tutur Momota dalam konferensi pers di media center Istora Senayan kemarin.

Jika melihat drawing, peluang Momota untuk kembali menjadi juara cukup terbuka. Meskipun, dia harus melalui dua pemain Indonesia yang selalu on fire kalau bermain di Istora. Yakni, Ginting dan Jonatan Christie. Sangat mungkin Ginting yang mengalahkannya di final China Masters 2018 bakal menantinya di perempat final. Lalu, jika berhasil melewati Ginting, di semifinal bisa jadi dia bertemu Jonatan.

Nah, kalau Jojo yang mengalahkannya di babak kedua Malaysia Open April lalu juga berhasil dilalui, bukan tidak mungkin dia kembali bertemu Antonsen di final. Itu bakal menarik. Pemain peringkat ke-11 itu berada di pul bawah. Dengan absennya Viktor Axelsen, praktis calon penantangnya dari pul bawah tinggal Antonsen, Shi Yuqi, dan Chen Long.

Antonsen sendiri senang bisa kembali ke Istora. Enam bulan berselang setelah kemenangannya di Indonesia Masters. ”Saya punya pengalaman indah kali terakhir bermain di sini,” ucap Antonsen. ”Istora sangat berisik. Sulit bermain di sini. Tapi, ini adalah tantangan yang bagus. Saya harus tenang. Jangan sampai terganggu oleh hal lain,” papar pemain 22 tahun tersebut.

Di sisi lain, pemain ganda campuran Zheng Siwei juga sangat penasaran dengan Indonesia Open. Tiga kali pemain Tiongkok itu bermain di turnamen berlevel super 1000 tersebut, belum pernah sekali pun dia juara. Tahun lalu bersama Huang Yaqiong, mereka terhenti di semifinal. Saat masih bersama Chen Qing Chen pada 2017, Zheng hampir merasakan gelar. Tapi, dia kalah oleh Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di final.

Zheng/Huang memang sudah dua kali juara di Istora. Tapi, keduanya terjadi di Indonesia Masters 2018 dan 2019. Plus sekali di Asian Games. Mereka tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi juara di turnamen berhadiah total USD 1,25 juta (sekitar Rp 17,4 miliar) itu. Terlebih, di turnamen terakhir yang mereka ikuti, Singapore Open, Zheng/Huang gagal juara.

”Kami akan berusaha sebaik mungkin karena sebelumnya belum pernah meraih gelar juara Indonesia Open. Akan sangat berat. Masing-masing negara punya pemain yang sangat hebat,” ucap Zheng.

Pasangan itu menantikan pertemuan dengan ganda campuran andalan Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. Setelah lewat masa Owi/Butet, ganda campuran peringkat ke-6 itu jadi lawan yang dianggap cukup menyulitkan. Kali terakhir mereka bentrok di semifinal All England dan pertandingan sangatlah ketat. Peluang terjadinya pertemuan itu ialah pada babak perempat final.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : feb/c6/na



Close Ads