alexametrics

Para Bintang Indonesia yang Lolos Olimpiade Mulai Panaskan Mesin

16 Juni 2021, 23:07:16 WIB

JawaPos.com – PBSI memanaskan mesin menjelang Olimpiade Tokyo 2020. Hari ini mereka menggelar pertandingan internal bertajuk Simulasi Olimpiade Tokyo.

Pertandingan tersebut berlangsung selama dua hari di pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

Dalam Olimpiade tahun ini, PBSI meloloskan 11 pemain. Mereka terdiri atas dua pasang tunggal putra, dua pasang ganda putra, satu tunggal putri, sepasang ganda putri, dan sepasang ganda campuran.

Nah, Simulasi Olimpiade Tokyo tersebut menggunakan format satu kali bertanding. Selain anggota tim Olimpiade, anggota pelatnas lain ikut serta. Untuk tim Olimpiade, hari ini mempertandingkan tunggal putra dan ganda putra.

Kabid Binpres PP PBSI Rionny Mainaky mengatakan, ada pertimbangan kenapa simulasi tersebut hanya satu kali pertandingan. Itu berbeda dengan home tournament tahun lalu. Saat itu menggunakan sistem round robin dan babak gugur. Serta ada gelar juara yang diambil.

Ada hal yang harus dijaga dari pemain, yaitu minimalisasi risiko cedera.

”Minggu depan mereka sudah masuk training center. Jadi, kami mau mereka tetap dalam kondisi yang prima,” ujarnya dalam rilis PBSI kemarin.

Lawan M. Ahsan/Hendra Setiawan juga berbeda. Mereka akan menghadapi pasangan baru. Yaitu, M. Reza Pahlevi Isfahani/M. Rian Ardianto.

Rionny menjelaskan, ganda putra sengaja tidak dipertemukan antar sesama kontestan Olimpiade dulu. ”Kami mau memberikan sedikit beban dan gengsi dengan memasang pemain muda agar atmosfer pertandingannya terbentuk seperti di pertandingan sungguhan,” lanjut Rionny.

Pemilihan lawan juga diperhitungkan. Setidaknya lawan bisa mengimbangi permainan tim Olimpiade. Dengan hanya satu kali pertandingan, Rionny berharap semua pemain bisa tampil all-out.

”Ini penting untuk bahan evaluasi pelatih. Juga untuk pemain muda sekalian pembuktian bisa bersaing dengan seniornya,” imbuhnya.

Pelatih tunggal putra Hendri Saputra menyambut baik adanya Simulasi Olimpiade Tokyo tersebut. Dibatalkannya berbagai turnamen membuat mereka kesulitan untuk mengukur perkembangan Jojo dan Ginting.

”Akhirnya menyiasati dengan konteks pola latihan. Kami coba disamakan seperti pertandingan. Juga di simulasi kami bisa lihat kondisi mereka dan dampaknya apa nanti,” kata Hendri.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c13/bas

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads