Perjalanan Andrew Limanto Melengkapi Enam Medali World Marathon Majors

Pemilik Six Star Medal Termuda di Indonesia
15 Mei 2022, 19:48:00 WIB

Setelah menyelesaikan Chicago Marathon pada 7 Oktober 2018, Andrew Limanto berkeinginan menggebu untuk menjalani mimpi. Melengkapi medali World Marathon Majors (WMM) yang sudah dimilikinya. Empat tahun kemudian, mimpi itu terwujud.

RUTE lari Andrew untuk mendapatkan six star medal WMM berawal 2018. Kala itu dia bersama lima rekan larinya dari Surabaya mengikuti Tokyo Marathon pada 25 Februari 2018. Setelah berlari dan mengikuti beberapa event race di Indonesia, Tokyo menjadi marathon majors pertama yang diikutinya.

”Deg-degan itu sudah pasti. Meski pernah ikut race marathon sebelumnya, peserta Tokyo ini lebih dari 30 ribu orang. Jadi, agak grogi,” ulas lelaki asli Surabaya tersebut.

Warga Surabaya Barat yang memilih lari karena dianggap praktis itu lolos dari Tokyo Marathon dengan catatan waktu 5 jam 1 menit 16 detik. Pengalaman manis mengikuti marathon majors ternyata menjadi candu. Andrew menyebut memulai marathon majors di Tokyo adalah pilihan tepat. Penyelenggara benar-benar memastikan kenyamanan pelari.

Rute sangat steril, jalan bersih, toilet mudah dijangkau dan bersih, serta tim medis tersebar di sepanjang rute lari. Rute lari pun cenderung flat dengan tanjakan yang tidak seberapa. Selain itu, warga Tokyo memberikan dukungan dan semangat yang tidak henti buat pelari di sepanjang rute.

”Yang jadi sedikit kendala ya suhu Tokyo. Saat itu suhunya antara 2–3 derajat Celsius. Buat kita warga tropis, itu dingin banget,” sambung bapak dua anak tersebut.

Dengan pengalaman manis itu, tidak butuh lama bagi board of director PT Dua Kelinci itu melanjutkan perjalanan marathon majors-nya. Pada tahun yang sama, delapan bulan kemudian, Chicago Marathon adalah rute selanjutnya. ”Yang diingat dari Chicago itu toiletnya. Jorok. Beda dengan Tokyo yang bersih,” katanya, kemudian tertawa.

Setelah pulang dari Chicago, pikiran Andrew pun dipenuhi mimpi. ”Ini sudah dua medali saya kumpulkan. Jadi, kenapa enggak enam-enamnya sekalian tak lengkapi?” ujar alumnus Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya itu. Menurut dia, menyelesaikan WMM akan jadi bagian dari legacy yang akan ditinggalkan untuk anak cucunya. ”Nanti lak mereka bisa cerita bahwa bapaknya ini punya enam medali WMM,” sambungnya, lantas tersenyum.

Dengan harapan itu, Andrew pun semakin giat berlatih dan mendaftar marathon majors selanjutnya. Pada 2019 dia menyelesaikan tiga marathon majors. London, Berlin, dan New York City. ”Saya kebut biar segera selesai,” ujar Andrew yang mendapat julukan Penjaga Hari Graha Family itu.

Tiga maraton tersebut membawa cerita berbeda. Meski tidak seheboh maraton di Amerika, Andrew paling menyukai vibes London. Berlin menjadi maraton berkesan karena ada sekitar 50 pelari dari Surabaya yang ikut maraton start dan finis di Brandenburg Gate itu.

”Kami berangkat bareng, start dan finis bersama. Seru,” kenangnya. Dan, di New York City, Andrew merasakan atmosfer masyarakat NYC yang sangat bersemangat. ”Di NYC suporternya gila. Ada live music, band, orang-orang kasih beragam jenis makanan, dan yel-yel sepanjang jalan,” ujar lelaki 38 tahun tersebut.

Namun, di antara enam maraton tersebut, Boston Marathon menjadi pemungkas yang paling berkesan. Tak hanya rute yang menantang, medali six star tertunda dimilikinya seiring pandemi yang melanda.

”Pada 2019 itu sudah ada kepastian saya mendapat slot di Boston untuk 2020. Tapi, kemudian batal karena itu awal pandemi. Kemudian, 2021, saya juga dapat, tapi tidak diizinkan keluarga karena angka persebaran Covid juga masih tinggi di seluruh dunia,” papar dia.

Pada 2020 slot Boston yang dimilikinya diubah penyelenggara dengan mengadakan event virtual. Andrew pun mendapatkan semua pernak-pernik maraton Boston yang dikirim ke rumah. Termasuk medali Boston Marathon virtual.

Namun, sudah pasti itu belum lengkap tanpa berlari langsung di Boston. Akhirnya kesempatan itu datang pada 2022 ini. Pada 18 April lalu, Andrew mewujudkan mimpinya untuk melengkapi keenam medali WMM. ”Rasanya senang sekali. Akhirnya setelah dua tahun menanti, kesampaian juga,” ujarnya.

Andrew mengenang, begitu berkalung medali six star itu, sepanjang jalan banyak yang menyapanya meski tidak saling mengenal. ”Mereka appreciate sekali. Mengajak kenalan, berfoto bersama, dan menyentuh medali saya. Padahal, ada yang larinya lebih kencang daripada saya,” cerita pebisnis yang berkantor di kawasan HR Muhammad, Surabaya, itu.

Gempita mendapatkan six star pun semakin lengkap ketika menemukan fakta bahwa dia menjadi pemilik medali six star WMM termuda dari Indonesia.

”Setelah Boston Marathon, ada 35 orang Indonesia yang medali six star-nya sudah lengkap. Dan, saya jadi yang termuda,” kata dia. Lantas, setelah ini masih akan lari? ”Tetap. Saya akan ikut event-event lain juga. Tapi ya itu, karena sudah tidak ada lagi yang akan dikejar, setelah ini lebih fun run saja,” ujarnya.

ROAD TO SIX STAR MEDALS WMM ANDREW LIMANTO

Tahun | Maraton | Catatan Waktu

2018 | Tokyo Marathon | 5:01:16

2018 | Chicago Marathon | 4:12:45

2019 | London Marathon | 4:03:08

2019 | Berlin Marathon | 4:03:13

2019 | New York City Marathon | 4:02:37

2022 | Boston Marathon | 4:02:54

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : c7/tia

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads