alexametrics

Atletik Bakal Jadi Lumbung Medali Bagi Indonesia Di SEA Games 2019

12 November 2019, 16:42:48 WIB

JawaPos.com-Atletik menjadi salah satu lumbung medali Indonesia pada SEA Games 2019. Induk dari seluruh cabang olahraga tersebut ditarget merebut enam emas. Seluruhnya dibebankan kepada para atlet berpengalaman.

Target itu lebih tinggi daripada perolehan emas Indonesia pada SEA Games 2017 di Malaysia. Dua tahun silam kita merebut 5 emas, 7 perak, dan 11 perunggu. Tahun ini sebenarnya Indonesia punya nama baru yang bisa menjadi tumpuan. Yakni, sprinter Lalu Muhammad Zohri. Namun, dia tidak diterjunkan di SEA Games agar fokus ke persiapan Olimpiade 2020.

Tidak adanya nama Zohri di skuad membuat nomor-nomor lari jarak pendek sulit merebut emas. Termasuk estafet 4 x 100 meter. Sebab, rata-rata atletnya masih baru. Lebih dari separo baru bergabung di pelatnas awal tahun ini. Kemampuan mereka belum optimal.

’’Ya, kami akui memang sulit tanpa Zohri. Tapi, kami berusaha memberikan yang terbaik dan hasil yang maksimal,’’ kata pelatih lari jarak pendek Eni Nuraini. Dia tidak menyesali keputusan PB PASI yang menerjunkan atlet muda di SEA Games. ’’Karena tujuan federasi mengangkat atlet-atlet muda itu biar regenerasinya cepat,’’ lanjut dia.

Nah, tanpa Zohri, emas diproyeksikan datang dari nomor-nomor lain. Yakni, lompat jauh putra dan putri, 100 meter lari gawang putri, dan tolak peluru putri. Ditambah 20 ribu meter jalan cepat putra serta lari 10 ribu meter putri. Atlet yang diharapkan pun adalah mereka yang berstatus veteran SEA Games. Misalnya, Triyaningsih dan Hendro Yap.

Triya, pelari spesialis jarak menengah, adalah kolektor 11 emas SEA Games. Capaiannya membentang dari edisi 2007 sampai 2017. Sementara itu, Hendro Yap, atlet jalan cepat, mencetak hat-trick emas sejak 2013 sampai 2017. Masih ada nama lain seperti Sapwaturrahman (lari gawang), Eki Febri Ekawati (tolak peluru), serta Maria Natalia Londa (lompat jauh).

Kalau ada nama baru yang diproyeksikan emas, itu adalah Emilia Nova. Pada SEA Games 2017, dia memetik perak. Namun, medali itu didapat dari nomor saptalomba. Tahun ini dia hanya terjun di nomor 100 lari meter gawang.
Prestasi terbesar Emil, sapaan akrabnya, adalah meraih perak Asian Games 2018. Catatan waktunya kala itu, 13,33 detik, juga memecahkan rekornas.

Melihat persaingan di Asia Tenggara, Emil diprediksi mampu meraih emas. Calon pesaingnya seperti Tran Thi Yen Hoa (Vietnam) memiliki personal best 13,40 detik. Sementara itu, Raja Nursheena Azhar (Malaysia) punya catatan waktu terbaik 13,84 detik.

Hanya, Emil harus waspada. Sebab, dia baru pulih dari cedera plantar fasciitis. Yakni, peradangan pada tissue tumit. Dia belum pernah mengulang catatan tersebut. Kali terakhir berlomba di Summer Universiade 2019 Juli lalu, Emil membukukan waktu 14,19 detik.

’’Kalau lancar latihan sampai SEA Games, yakin sih bisa dapat medali lagi,’’ kata Emil ketika ditemui setelah latihan kemarin. ’’Dulu tiga minggu sebelum Asian Games 2018 juga sempat sakit. Cuma rezeki aku dapat medali saat itu, ya bisa dapat,’’ imbuh dia.

Pada SEA Games 2017, Emil sebenarnya turun di dua nomor. Yakni, lari gawang dan saptalomba. Belajar dari pengalaman tersebut, Emil tidak mau lagi turun di dua nomor. ’’Sekarang aku fokus nomor aku sendiri, lari gawang. Aku nggak mau turun dua-duanya, tapi malah nggak dapat apa-apa. Mending aku turun satu (nomor) saja, tapi hasilnya bisa maksimal,’’ ujar cewek 24 tahun itu.

Sementara itu, di nomor elite 100 meter putra, PB PASI menerjunkan M. Bisma Diwa Abina dan Adit Rico Pradana. Bisma dan Rico sama-sama memiliki personal best 10,56 detik. Sebagai perbandingan, peraih perunggu SEA Games 2017, Kritsada Namsuwun asal Thailand, mencatatkan waktu 10,43 detik.

Jadi, peluang kita sangat tipis.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/c19/na



Close Ads