alexametrics
Pengakuan Getir Peraih Emas SEA Games, Hendro

Saya Hanya Dibutuhkan Saat Masih Muda dan Berprestasi

11 Desember 2019, 18:30:00 WIB

JawaPos.com-Hendro Yap merebut emas dari nomor jalan cepat 20 km Senin lalu (9/12). Itu adalah emas keempatnya di ajang SEA Games. Sayang, sepulang dari Filipina, dia tak lagi tergabung dengan pelatnas atletik. Atas nama pembinaan, Hendro dicoret.

—-

Persiapan sudah matang. Catatan waktu sudah sesuai dengan target. SEA Games 2019 di Filipina tinggal beberapa pekan. Hendro Yap juga sudah siap berangkat ke Manila. Dia akan terjun di nomor spesialisasinya, jalan cepat 20 km. Oleh PB PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia), dia ditarget meraih emas. Seperti pada tiga edisi SEA Games sebelumnya.

Eh, belum juga berangkat, dia menerima kabar buruk. Seorang pengurus PASI mendatanginya. Menyampaikan bahwa Hendro tak lagi tergabung di pelatnas tahun depan.

’’PASI ingin fokus ke atlet youth dan junior saja saat ini,’’ tutur Hendro ketika ditemui kemarin. ’’Itulah yang membuat motivasi saya menurun sebelum lomba,’’ lanjut dia.

Dia memang tidak lagi muda. Hendro lahir 29 Januari 1990. Bulan depan dia genap 30 tahun. Masalahnya, dia masih menjadi pejalan cepat terbaik yang dimiliki Indonesia. Belum ada yang bisa menyaingi, bahkan sekadar menyamai, catatan waktunya.

Dia mengukir rekornas saat mengikuti Asian Race Walking Championship 2016. Dia melahap jarak 20 km dalam 1 jam 27 menit 24 detik.

Dicoret dari pelatnas, Hendro Yap akan berlatih sendiri untuk mengejar tiket lolos ke Olimpiade Tokyo 2020. (Hendro Yap/Instagram)

Ketika diberi tahu soal pencoretannya, Hendro tidak bisa menerima begitu saja. Dia sempat mengutarakan keberatan. Bagaimanapun, Hendro menjadi keluarga besar pelatnas sejak 2007.

’’Waktu itu saya hanya menyampaikan seperti ini, ’Apakah keputusan itu sudah fixed dan paling bijak yang telah dibuat? Karena dulu waktu saya junior, saya sulit berprestasi jika tidak bersama senior’,’’ tutur Hendro. ’’Namun, dijawab sudah (fixed, Red). Dan soal peningkatan prestasi akan diserahkan ke pelatih. Tidak butuh senior,’’ tuturnya getir.

Terang saja Hendro kecewa berat. Yang membuatnya makin sakit hati, dia masih berprestasi. Buktinya, dia masih mampu memenuhi target emas yang dibebankan kepadanya.

Emas yang diraihnya di Clark City Senin lalu adalah emas SEA Games keempat sepanjang karirnya. Dia tidak pernah luput merebut medali paling mengilap itu sejak SEA Games 2013 di Myanmar.

Padahal, sebelum perlombaan tantangannya begitu berat. Hendro sempat bangun dalam kondisi pusing hebat, beberapa jam sebelum lomba. Apalagi, penyelenggara dengan tiba-tiba mengubah rute lomba.

Hendro yang sempat kebingungan, berusaha untuk tetap tenang. Dia masih bertekad menjadi yang terbaik. Dan itu dia buktikan dengan mendulang emas.

’’Saya hanya dibutuhkan saat masih muda dan berprestasi. Bahkan saat saya masih berprestasi saja seperti ini,’’ ucapnya, lantas tertawa masam.

Meski didepak dari pelatnas, Hendro tidak serta-merta pensiun. Malah dia berambisi menembus Olimpiade Tokyo 2020. Demi mewujudkan itu, dia akan berlatih sendiri tanpa ada pelatih yang mendampingi.

Jelas sulit.

Namun, agar performanya tidak menurun, Hendro akan memperbanyak tryout. ’’Saya hanya ingin menunjukkan kepada semuanya bahwa Hendro belum menyerah dan masih bisa berprestasi,’’ tegas dia.

Hendro adalah salah satu contoh atlet dengan mental baja. Dia menekuni atletik karena itu jadi tiket untuk keluar dari jerat kemiskinan. Hendro lahir dari keluarga susah. Setelah dia lulus SMP, orang tuanya bahkan tidak punya biaya untuk memasukkannya ke SMA. Karena ingin tetap sekolah, Hendro diam-diam menjadi atlet.

Kenapa diam-diam? Sebab, orang tuanya tidak setuju. Hendro menderita asma. Saat ketahuan latihan, Hendro dimarahi. Bahkan dipukul. Namun, dia kukuh pada pendirian. Sebab, beasiswa dari jadi atlet bisa dipakai untuk membiayai sekolah.

Setelah masuk pelatnas, tantangan yang dihadapi Hendro tidak berhenti. Pada 2012, dia mengalami cedera ACL. Hendro sampai divonis bakal lumpuh karena pengapuran hebat pada lututnya.

Namun, lagi-lagi semangatnya tidak padam. Dia tak menyerah kepada nasib. Hendro berjuang hingga tidak pernah absen meraih emas SEA Games sejak 2013.

Sayang, karirnya di pelatnas sudah usai…

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Nuris Andi Prastiyo, Dipta Wahyu, dan Tyasefania Febriani dari Manila, Filipina


Close Ads