alexametrics
SEA Games 2019

Nikmati Teror Fans, Bantai Tuan Rumah, Akhiri Dahaga Emas Satu Dekade

11 Desember 2019, 11:30:10 WIB

JawaPos.com – Butuh waktu 10 tahun bagi tim voli putra Indonesia menuntaskan dahaga juara di SEA Games. Kali terakhir Merah Putih mengumandangkan Indonesia Raya pada edisi 2009 di Laos. Setelah itu, kita tak pernah lagi juara selama satu dekade penuh.

Selalu kalah oleh Thailand.

Namun, nasib baik berpihak pada Indonesia tahun ini. Nizar Zulfikar dkk terhindar oleh Thailand di final. Juara bertahan selama empat edisi itu dijegal Filipina di semifinal. Nah, tuan rumahlah yang akhirnya gantian dibantai Randu dkk tadi malam.

Indonesia menang 3-0 (25-21, 27-25, 25-17).

Tim voli putra Indonesia tidak pernah kehilangan satu set pun sejak penyisihan sampai final SEA Games 2019. (CDM Indonesia)

Dan yang luar biasa mental pemain Indonesia sungguh kuat. Mereka mampu meredam teror belasan ribu penonton yang sangat intens PhilSports Arena, Pasig. Justru terlihat, skuad Indonesia, sangat menikmati atmosfer. Yang paling ekspresif tentu saja I Putu Randu Wahyu Pradana yang kerap melakukan selebrasi-selebrasi unik setelah mencetak angka.

’’Lawan Filipina, saya yakin menang pasti. Tapi tidak sangka akan 3-0. Saya sudah siap kalau sampai 3-1,’’ tutur Li Qiujiang, pelatih yang menangani pelatnas putra selama enam bulan terakhir.

’’Lalu, sebelum bertanding saya sampaikan ke pemain, jangan tegang. Ini permainan beregu dan beberapa di antaranya pernah bermain di SEA Games 2017. Jadi harus siap,’’ imbuh dia.

Indonesia mendapatkan teror dari penonton yang memadati PhilSports Arena, Pasig. Namun ,Tim Indonesia tak terpengaruh. (Twitter/raffytima)

Bisa dibilang, pelatih asal Tiongkok itu pembawa hoki. Mr. Li, sapaan akrabnya, wira-wiri melatih timnas sejak 1997. Selama itu pula, prestasi Li meyakinkan. Dari enam SEA Games, dia berhasil mengantar timnas meraih emas empat kali. Sisanya perak.

Tahun ini Indonesia memang sangat dominan. Sebagian besar skuadnya adalah veteran edisi 2017. Di antaranya, I Putu Randu Wahyu Pradana, Nizar Zulfikar, dan Yuda Mardiansyah Putra. Mereka sedang matang-matangnya. Masih ditambah Sigit Ardian dan Doni Haryono. Nama terakhir itu sukses menggantikan Rendy Febriant Tamamilang yang diparkir karena kebutuhan taktik.

Rivan Nurmulki juga menjadi senjata luar biasa Indonesia dengan spike-spike dahsyatnya. Sempat mengalami cedera anterior cruciate ligament parah pada lutut kiri dan kanannya (di lutut kiri, ACL Rivan putus), Rivan pernah meminta izin mudur dari pelatnas. Namun, untung saja niat itu tidak terealisasi. Rivan kembali ke timnas dan membantu Indonesia merebut emas.

Kematangan skuad itu terbukti. Sejak babak penyisihan sampai final, Randu dkk tidak kehilangan satu set pun.

Selalu menang 3-0!

Mulai Vietnam, Kamboja, dan Filipina di grup A hingga Myanmar di semifinal. Tuan rumah kembali dipukul 3-0 di final. Kemarin mental prima mereka terlihat di set kedua. Tertinggal sejak awal, timnas mampu memaksakan deuce dan menang.

’’Ini luar biasa. Kami sudah menunggu selama 10 tahun,’’ kata Ketua Umum PP PBVSI Imam Sudjarwo dengan semringah. ’’Ke depan, walaupun menang, kami tetap akan meng-upgrade pemain. Setelah ini, kami evaluasi mana yang kira-kira harus dipertahankan dan mana yang harus diganti dengan pemain baru,’’ paparnya.

Sayang, medali emas dari tim voli indoor putra itu tidak berdampak banyak bagi perolehan medali Indonesia. Kemarin hanya ada dua emas yang dikantongi. Selain voli, satu emas berasal dari cabor jiu jitsu. Muhammad Ariq Noor menjuarai nomor nezawa 120 kg.

Capaian tersebut mematenkan Indonesia di posisi keempat klasemen. Tidak mungkin menyalip Vietnam yang sudah mengamankan 97 emas dan Thailand dengan 92 emas.

Namun, Chef de Mission Indonesia Harry Warganegara tidak risau dengan posisi di klasemen. Apalagi, medali telah melampaui target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo dengan 60 emas. ’’Memang tidak sampai runner-up. Kami cuma ikut 428 nomor pertandingan dari 530 nomor yang ada,’’ kata Harry.

Dia tidak menampik bahwa ada beberapa target yang meleset dari perkiraan. Misalnya, renang, sepeda, dan pencak silat. Tapi, kata Harry, kegagalan itu ditutup dengan kejutan emas dari cabor lain.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Nuris Andi Prastiyo, Dipta Wahyu, dan Tyasefania Febriani dari Manila, Filipina


Close Ads