alexametrics
Fuzhou China Open 2019

Kenangan Pahit di Jakarta, Membuat Kento Momota Bangkit dan Menggila

11 November 2019, 07:30:00 WIB

JawaPos.com-Tahun ini, ada pemain yang koleksi gelarnya lebih banyak daripada Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. Dia adalah Kento Momota. Di Fuzhou China Open, bintang asal Jepang itu meraih gelar ke-10!

Rinciannya, sembilan dari turnamen BWF Tour, plus Kejuaraan Dunia 2019. Di final tadi malam, Momota mengalahkan pemain nomor dua dunia asal Taiwan Chou Tien-chen dengan skor 21-15, 17-21, 21-18 dalam pertandingan yang sangat intens selama 83 menit.

Tahun ini, Momota 11 kali menembus final. Satu-satunya kekalahan terjadi pada Indonesia Masters, di Istora Senayan Jakarta, Januari lalu. Dia kalah oleh pemain Denmark Anders Antonsen. Ternyata, kejadian di awal musim itu benar-benar membekas bagi pemain 25 tahun tersebut.

”Aku menyesal banget. Sebab, sebenarnya, saat itu di Indonesia aku dalam performa terbaik,” ucap Momota di situs resmi BWF.

Momota menggunakan kekalahan tersebut sebagai pemicu untuk bekerja lebih keras. ”Aku tak mau lagi kalah di final. Jadi aku benar-benar berusaha keras. Kalau sudah masuk final, harus juara,” tegas dia.

Salah satu kemenangan terbaiknya, selain di Fuzhou, adalah China Open. Saat dia melawan Anthony Sinisuka Ginting, juga dalam rubber game yang ketat.

Kemarin, Chou juga memaksa Momota mengeluarkan seluruh kemampuan dan energinya. Smesnya kencang dan akurat. Defense dia juga cukup oke. Namun, memang permainan netnya kurang matang.

Momota sering mendapat poin dari adu netting. ”Kalau reli masih bisa aku ladeni. Tapi skill Momota di depan net lebih tajam daripada aku. Sulit sekali mendapat keuntungan dari situ,” curhat Chou.

Kento Momota (kanan) dan Chou Tien-chen di podium Fuzhou China Open 2019. (bwfbadminton.com)

Sepuluh gelar sepanjang 2019 tentu saja menjadi modal besar Momota menuju ajang yang paling dia tunggu, Olimpiade di kandang sendiri, Tokyo 2020.

Kisah sedihnya ketika gagal berangkat ke Rio 2016, menjadi pemacu semangatnya untuk meraih impian masa kecilnya; emas Olimpiade.

Momota gagal terbang ke Olimpiade Rio karena mendapatkan skorsing satu tahun larangan bertanding pada kancah internasional dari Federasi Bulu Tangkis Jepang.

Momota mendapatkan hukuman itu terhitung sejak April 2016. Dia didakwa bersalah karena terbukti enam kali berkunjung ke tempat judi ilegal di Tokyo.

”Aku tak menonton pertandingan Olimpiade 2016 karena aku merasa sangat menyesal. Itu adalah waktu yang sangat berat. Namun, terima kasih kepada orang-orang yang mendukungku, orang-orang yang membantuku melewati masa-masa itu,’’ kata Momota kepada Tokyo Weekender.

Juara dunia junior 2012 tersebut kembali beraksi pada 2017. Dia merangkak sejak dari turnamen-turnamen kelas Challenger. Sebab, rankingnya tidak mencukupi untuk bisa berpartisipasi di ajang-ajang besar.

Setelah bekerja dengan sangat keras di lapangan maupun di tempat kebugaran, Momota kembali ke puncak pada tahun lalu. Pemain 25 tahun kelahiran Mino tersebut meraih delapan gelar, termasuk kejuaraan dunia 2018 di Nanjing.

Kemenangan atas jagoan tuan rumah Shi Yuqi pada final 2018 tersebut, menahbiskan Momota sebagai tunggal putra pertama Jepang yang menjadi juara dunia dalam sejarah.

’’Aku ingin menjadi seperti Lee Chong Wei dan Lin Dan yang mendominasi dunia bulu tangkis dalam waktu yang sangat, sangat lama. Mereka tidak hanya berada di puncak dalam tempo yang panjang, tetapi juga selalu menampilkan kualitas terhebat untuk menghibur fans,’’ tegas Momota.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : gil/na



Close Ads