alexametrics

Audisi PB Djarum Berhenti, Yoppy Rosimin: Nggak Mutung, Tapi Terjepit

11 September 2019, 10:14:01 WIB

JawaPos.com – PB Djarum Kudus berada pada situasi tak enak. Itu lantaran PB Djarum harus mengambil langkah meniadakan audisi umum beasiswa Djarum mulai tahun depan. Di satu sisi, PB asal Kudus ini tak ingin mengubur mimpi calon atlet belia untuk berkarir sebagai pebulutangkis kelas dunia.

Bahkan, untuk memperjuangkan niat memfasilitasi atlet muda terbaik, PB Djarum sampai rela menanggalkan logo Djarum yang tertera di kaus atlet. Namun, menurut Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin, pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tetap mendesak. ”Zero tolerance. Itu yang mereka katakan kepada kami saat rakor (rapat koordinasi),” ujar Yoppy seperti dikutip Jawa Pos Radar Kudus.

Proses audisi umum 2019 disampaikan olehnya tetap berjalan. Ini karena tak ingin membuat kecewa peserta yang sudah mendaftar, terutama yang rela datang dari jauh. ”Saya minta dispensasi ke mereka (KPAI, Red) tahun ini saya selesaikan sampai final di Kudus. Setelah itu kami off,” ujarnya.

Perihal audisi umum yang bakal off mulai tahun depan, Yoppy tak tahu akan berlangsung sampai kapan. Menurutnya, selagi PB Djarum tak diberi ruang untuk menggelar audisi umum, audisi umum tak akan digelar. Sebab, menurutnya KPAI dan PB Djarum sudah berbeda jalur. ”Mereka itu ke kiri. Sedangkan kami ke kanan. Kan sudah beda tho. Akhirnya nggak ketemu,” ujar Yoppy.

Duduk bersama dengan pemangku kebijakan juga telah dilakukan oleh PB Djarum. ”Sekarang mau gimana lagi. Ini sudah paling mentok. Saat rakor itu sudah ada Kemenpora, KPAI, KONI, Kemenkum HAM, BPOM, dan Menkes. ”Kurang apa? KPAI tetap bilang zero tolerance. Kami ini terjepit dan tak punya ruang lagi. Ya sudah, berhenti saja (audisi umum). Sampai kapan? Sampai kami punya ruang bergerak lagi,” terangnya. ”Kami nggak mutung. Haaa…, tapi kami terjepit,” imbuhnya.

Terjepit yang dimaksudkan, sebenarnya logo Djarum itu mengarah pada nama PB Djarum. Namun dipersepsikan oleh pihak lain sebagai brand produk tembakau. ”Padahal jelas Djarum Badminton Club. Beda dengan ini,” imbuh Yoppy seraya menunjukkan brand rokok Djarum Super. ”Jika dibilang kami tak ikhlas membibit atlet, karena dianggap tak mau meninggalkan brand Djarum, memang kami kurang apa selama ini? Sudah banyak yang kami berikan demi kemajuan bangsa,” ungkapnya.

Saat ditanya Jawa Pos Radar Kudus soal jalan lain pencarian bibit muda, Yoppy menjawab dengan gurauan. ”Nanti buka Google Maps. Kami nyari lewat jalur tikus. Haaa… Kami masih cari dan membina atlet belia,” ujarnya sambil tertawa.

Dia menambahkan, PB Djarum dan pembibitan tidak bubar. Audisi umum saja yang off. ”Jadi, ada mata rantai pembibitan yang putus. Kami tetap akan cari bibit atlet lewat audisi khusus. Seperti di turnamen berskala kecil melibatkan talent schouting. Misalnya di salah satu kota ada klub bulu tangkis, atletnya ditandingkan dengan legend bulu tangkis PB Djarum. Jika bagus bisa diambil. Namun, dengan hal ini cerita heroik pebulutangkis kecil tak akan ada lagi. Seperti peserta dari pelosok yang sampai rela menabung lama demi ikut audisi umum sampai di Kudus,” lanjut Yoppy.

Tugas talent scouting itu nantinya saling mengadu sesama atlet sampai didapat atlet terbaik. Jumlah atlet yang diincar sama dengan jumlah atlet yang dijaring saat proses audisi umum. Yakni 20-30 atlet terbaik usia 11-13 tahun setiap tahunnya.

Tetapi, ini dirasa pula oleh Yoppy memiliki kelemahan. Proses perekrutannya menjadi lebih lama. Selain itu, PB Djarum dibatasi untuk tidak mengumumkan secara terang-terangan kepada masyarakat umum. Tak hanya itu, apabila di satu tempat tersebut tidak ada lagi atlet terbaik, maka PB Djarum melalui talent scouting bisa dibilang pulang dengan tangan hampa.

Oase masih ada. Itu terkait kelangsungan atlet PB Djarum. Karena, kaderisasi tetap berjalan dengan baik. Bahkan, menurut Yoppy saat ini sudah ada lima atlet usia 17-18 tahun yang siap menjadi pelapis atlet Pelatnas. Pun dengan nasib alet PB Djarum alumni audisi umum sebelumnya yang tetap berkesempatan meraih level yang lebih tinggi. ”Sejauh ini yang dipermasalahkan KPAI hanya audisi umumnya,” imbuhnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin



Close Ads