alexametrics
SEA Games 2019

Emas Ini Adalah Hasil Perjuangan Sangat Luar Biasa Emil dan Hendro

10 Desember 2019, 08:00:21 WIB

JawaPos.com – Emilia Nova berteriak girang ketika memastikan dirinya sebagai pelari pertama yang masuk finis lari gawang 100 meter.

Dia seolah tidak percaya bisa menyabet emas kemarin. Dia langsung menghampiri sang pelatih, Fitri Haryadi, yang sudah menunggu di tepi lintasan New Clark City Athletic Stadium, Clark City.

Keduanya berpelukan lama sekali, sambil terisak.

Ya, setahun belakangan memang tidak mudah bagi perempuan yang akrab disapa Emil itu. Sejak Februari, dia berjuang mengatasi cedera tumit. Rasa sakit itu bahkan sempat dialami saat tampil pada babak penyisihan kemarin pagi.

Namun, perjuangan dan kerja kerasnya berbuah manis. Untuk kali pertama, Emil bisa membawa pulang medali emas SEA Games.

’’Emas ini harapan aku di tahun ini karena prosesnya berat banget,’’ tutur Emil setelah pengalungan medali. ’’Sangat bersyukur bisa dapat emas. Senang banget. Apalagi, aku lihat di Instagram banyak teman dan orang Indonesia yang nggak aku kenal pada support,’’ lanjut atlet 26 tahun itu.

Emil mencatatkan waktu 13,61 detik. Lebih lambat 0,28 detik dari rekor terbaiknya yang dibukukan di Asian Games 2018. Capaian itu juga menjadi prestasi terbaik dia selama turun di multievent dua tahunan ini.

Pada SEA Games 2017, Emil hanya meraih perak dari nomor saptalomba dan gagal di nomor lari gawang.

’’Puas sama catatan waktu. Apalagi dengan proses saya tahun ini. Pelatih bilang Emil luar biasa soalnya bisa melewati ini dan yakin sama diri sendiri walau lagi sakit. Tidurnya juga kurang,’’ tutur atlet asal DKI Jakarta tersebut.

Lain lagi cerita Hendro Yap. Dia memperpanjang dominasi di SEA Games dengan meraih emas jalan cepat 20.000 meter. Itu adalah emas keempatnya beruntun! Ya, Hendro tak pernah gagal merebut emas sejak edisi 2013.

Hendro Yap (tengah) meraih emas keempatnya secara beruntun di SEA Games 2019. (Tyasefania Febriani/Jawa Pos).

 

Namun, emas keempat itu tak diraih dengan mudah. Atlet kelahiran 25 Januari 1990 tersebut tidak sempat menjajal rute. Hanya 12 jam sebelum bertanding, panitia tiba-tiba mengubah venue.

Sebelumnya di stadion atletik New Clark City, dipindah ke seputar area Bandara Clark. Sudah begitu, Hendro mendadak drop ketika bangun pukul 04.00 waktu setempat.

’’Rasanya kepala agak pusing, terus tulang linu seperti rematik. Di situ saya mulai nggak yakin,’’ kenang Hendro. ’’Cuma, saya berusaha jangan sampai memperlihatkan ke musuh. Supaya musuh nggak menang mental,’’ lanjut dia.

Pejalan cepat Vietnam Xuan Vinh Vo menempel ketat sejak kilometer pertama. Hendro sulit melepaskan diri. Itu terlihat dari catatan waktu yang sangat ketat. Hendro membukukan waktu 1 jam 31 menit 20 detik, sedangkan musuh hanya berselisih 0,18 detik di belakangnya. ’’Hancur. Catatan waktu ini jelek sekali buat saya pribadi,’’ sesal Hendro.

Namun, pada akhirnya, dengan segala kesulitan Hendro mendulang emas.

Sementara itu, setelah bercokol di peringkat kedua klasemen medali, kini Indonesia terperosok di posisi keempat. Dalam sehari, Vietnam dan Thailand berhasil menggeser dominasi Merah Putih. Hingga pukul 19.00 WIB, Indonesia mengumpulkan 70 emas, 89 perak, dan 102 perunggu.

Jika dibandingkan dengan Minggu (8/12), perolehan emas Indonesia memang lebih seret kemarin. Tambahan emas hanya datang dari atletik dan bulu tangkis. Dari cabor populer itu, ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu memberikan tambahan dua emas.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Nuris Andi Prastiyo, Dipta Wahyu, dan Tyasefania Febriani dari Manila, Filipina


Close Ads