alexametrics
Catatan Wartawan Jawa Pos Candra Kurnia

Semoga Kelak Ada ’’Afridza Corner’’

9 November 2019, 08:00:15 WIB

JawaPos.com-Dari dalam mobil shuttle untuk media yang sedang meliput GP Malaysia 2016 silam, seorang staf yang berada di balik kemudi menunjuk ke sebuah titik. ’’Itu, Bang, tikungan 11 tempat (Marco) Simoncelli crash,’’ katanya.

Di sana, tampak beberapa karangan bunga yang menumpuk tanda baru saja seseorang meninggalkannya. Waktu itu Kamis sore sebelum rangkaian balapan di akhir pekan dimulai.

Sudah lima tahun berlalu sejak insiden menyesakkan yang merenggut nyawa rider Italia di kelas MotoGP Marco Simoncelli. Seluruh pencinta MotoGP tetap mengenangnya dan selalu saja ada yang datang melayat ke tikungan 11 itu. ’’Setiap tahun ada yang berhenti di sana. Untuk berdoa atau meletakkan bunga,’’ tambah sopir tadi.

Setiap Kamis di akhir pekan balapan, rider-rider MotoGP memang selalu melakukan track walk bersama para mekanik. Tujuannya, mengetahui kondisi terbaru lintasan seperti permukaan aspal, suhu lintasan, atau kemungkinan adanya perubahan detail-detail lainnya.

Salah satu yang selalu menyempatkan diri berhenti di tikungan 11 Sirkuit Sepang adalah Valentino Rossi. Rider Monster Yamaha itu memang sahabat kental Simoncelli. Dialah yang paling menyesali insiden tersebut. Saat tragedi Simoncelli terjatuh, Rossi-lah yang berada tepat di belakangnya dan secara tidak sengaja menabraknya. ’’Saya akan selalu merindukannya. Dia rider hebat di lintasan dan begitu manis di luar lintasan,’’ sebut Rossi lima tahun setelah Simoncelli meninggal.

Tentu saja setiap rider, atau siapa pun yang datang setiap tahun ke tikungan 11 Sirkuit Sepang, selalu menyisipkan doa serta harapan agar Simoncelli adalah yang terakhir. Namun, delapan musim setelah insiden tersebut berlalu, satu lagi rider bertalenta gugur. Hanya berjarak satu tikungan dari titik di mana Simoncelli mengalami kecelakaan, yakni tikungan 10.

Dia adalah Afridza Syach Munandar, pembalap kebanggaan Indonesia.

Dunia motorsport langsung berduka. Mengheningkan cipta untuk mengenang Riza –sapaan Afridza– dilakukan menjelang rangkaian balapan MotoGP Malaysia Minggu (3/11). Semua rider top MotoGP menyampaikan belasungkawa yang mendalam melalui akun media sosial mereka. Dan Asia Talent Cup menyatakan telah memensiunkan nomor start 4 selamanya untuk menghormati Riza.

Meski tak turun membalap di seri terakhir ATC di Sirkuit Sepang, raihan poin Riza yang berada di posisi ketiga klasemen pembalap tak terkejar lagi oleh rider lainnya. Dia mengakhiri musim ini di podium ketiga. Sebuah foto yang menampilkan peringkat pertama dan runner-up, Sho Nishimura, kemudian Takuma Matsuyama (keduanya rider Jepang), serta motor Afridza yang tanpa penunggang benar-benar menyayat hati.

Kini seluruh dunia telah mengenang Riza sebagai pahlawan balap. Sudah sepatutnya, di negerinya sendiri, pembalap 20 tahun tersebut mendapatkan penghormatan yang layak. Saya bermimpi kelak ada sebuah sirkuit di Indonesia yang diberi nama Afridza Munandar.

Seperti Marco Simoncelli yang ditabalkan sebagai nama sirkuit di Misano. Atau seperti yang sudah dilakukan di banyak sirkuit di Eropa, di mana sebuah tikungan didedikasikan untuk seorang legenda balap. Ya, sebuah tikungan itu bernama ’’Afridza Corner’’.

Editor : Ainur Rohman



Close Ads