alexametrics

Aturan Anyar MotoGP 2020 Akan Menguntungkan Barisan Rookie

8 November 2019, 12:55:49 WIB

JawaPos.com– MotoGP telah memutuskan regulasi anyar musim 2020. Dalam rilis MotoGP, setidaknya ada tiga aturan krusial yang diterapkan musim depan. Regulasi tersebut diputuskan lewat pertemuan Komisi Grand Prix.

Mereka yang ambil bagian, antara lain, CEO Dorna Carmelo Ezpeleta, Paul Duparc (FIM), Herve Poncharal (IRTA), Takanao Tsubouchi (MSMA), Jorge Viegas (FIM president), Carlos Ezpeleta (Dorna), Mike Trimby (IRTA, secretary of the meeting), dan Corrado Cecchinelli (director of technology).

Aturan pertama, soal tes terbatas di kelas MotoGP. Mulai musim depan pembalap rookie diperbolehkan ambil bagian dalam shakedown test selama tiga hari di Sepang. Sebelumnya, tes seperti itu hanya diperuntukkan pembalap uji tim pabrikan dan rider tim yang mendapat keuntungan konsesi. ”Dalam tiga hari itu, motor dites para pembalap uji sebelum pada keesokan harinya diserahkan kepada rider utama,” tulis MotoGP tentang shakedown test.

Dengan diperbolehkannya turun dalam shakedown test, rookie punya lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan motor baru. Selama ini aturan tentang pembatasan uji coba memang memberatkan rookie. Mereka yang biasanya datang dari Moto2 atau kelas lain di bawahnya diberi waktu yang sama dengan rider-rider berpengalaman lainnya dalam melakukan tes. Padahal, motor MotoGP sangat berbeda dengan karakter motor Moto2 atau motor-motor di kategori lainnya. Bahkan, ada yang perlu mengubah gaya balapnya secara signifikan agar bisa beradaptasi dengan motor MotoGP.

MotoGP 2020 bakal kedatangan dua pembalap rookie. Yakni, Brad Binder dan Iker Lecuona. Binder bakal mengisi kursi balap Red Bull KTM. Dia diplot menggantikan peran Johann Zarco yang berpisah dengan tim pabrikan Austria itu sebelum musim 2019 berakhir.

Sementara itu, Lecuona segera menjadi tandem Miguel Oliveira di Tech 3. Dia menggantikan rider Malaysia Hafiz Syahrin yang kurang perform musim ini. Kedua pembalap yang musim ini berkompetisi di Moto2 tersebut sama-sama berada di bawah naungan KTM.

Regulasi kedua, terkait penggunaan winglet atau sayap aerodinamika yang menempel di motor MotoGP. Dengan mendasarkan kepada kasus kecelakaan parah yang menimpa rider Tech 3-KTM Miguel Oliveira di Sirkuit Phillip Island, GP Australia, bulan lalu, MotoGP memutuskan bahwa seluruh perangkat aerodinamika wajib dilepas jika kondisi cuaca membahayakan. Kasus di GP Australia adalah angin kencang.

Akibat empasan angin kencang yang menerjang di tikungan pertama Sirkuit Phillip Island, Oliveira kehilangan kontrol pada motornya. Celakanya, perangkat aerodinamika memperparah dampak kecelakaan tersebut. ”Kami menginginkan keselamatan menjadi faktor utama dalam setiap menyusun regulasi. Keselamatan pembalap harus nomor satu,” tulis pernyataan resmi Komisi Gran Prix MotoGP sebagaimana dilansir Crash.

Selanjutnya, race direction akan bertanggung jawab menentukan dan mengumumkan konsensus tersebut bisa diterapkan pada balapan lainnya. Semua itu kembali mengacu kepada perkiraan cuaca atau kondisi angin pada tiap seri balapan.

Perubahan regulasi terakhir adalah mengenai jatah wild card di kelas Moto2. Pada musim 2019, rider wild card ditiadakan. Penyebabnya adalah ketersediaan mesin dan sasis yang minim setelah peralihan dari mesin Honda ke Triumph. Namun, seiring dengan bertambahnya ketersediaan dan penggunaan motor baru tersebut, wild card kembali diadakan. Namun, jatah tersebut nanti hanya diperuntukkan tim-tim pabrikan.

Selain itu, Magneti Marelli juga dipastikan menjadi ECU wajib dan diseragamkan untuk kelas intermediate itu. Langkah tersebut menyusul peraturan yang sama yang diberlakukan di kelas MotoGP tiga tahun lalu.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : nap/c4/cak



Close Ads