alexametrics

Enam Ganda Putra Terbaik Sepanjang Masa Versi Herry Iman Pierngadi

8 April 2020, 14:41:53 WIB

JawaPos.com-Tidak diragukan lagi, Herry Iman Pierngadi adalah salah seorang pelatih ganda putra terbaik dan terbesar di dunia saat ini. Sejak 1993 (sempat keluar sebentar dari pelatnas pada 2008-2011), Herry banyak sekali melahirkan ganda-ganda putra elite dan bergantian menaklukkan turnamen-turnamen terbesar dunia.

Kepada wartawan Jawa Pos Ainur Rohman, Herry memilih enam ganda putra terbesar sepanjang masa menurut versinya. Lima berasal dari Indonesia, sedangkan satu adalah pasangan Tiongkok.

Herry Iman Pierngadi bersama Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan saat mereka menjadi juara All England 2019. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Di bawah ini adalah enam pasangan tersebut. Urutan penyebutan pasangan-pasangan ini, bukan berdasarkan peringkat terbaik dalam versinya. Tetapi, dilakukan secara acak.

1. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo

(Prestasi fenomenal: Pemegang rekor nomor satu dunia terlama dalam sejarah ganda putra dunia. Pemegang rekor jumlah gelar terbanyak ganda putra BWF World Tour dalam satu musim. Juara back-to-back All England 2017 dan 2018).

Tentu saja Gideon/Kevin akan masuk dalam daftar saya. Bagi saya, selain prestasinya cukup baik, Gideon/Kevin ini adalah pasangan yang fenomenal. Terutama dalam dua tahun terakhir. Mereka itu sangat stabil.

Apalagi, Kevin memiliki skill di atas rata-rata. Yang saya suka dari Gideon/Kevin adalah cara main mereka yang berbeda dan unik. Mereka punya kecepatan, antisipasinya bagus, dan yang pasti kemampuannya di atas rata-rata ganda putra lain di dunia saat ini.

Selain itu, Gideon/Kevin ini bermain sangat atraktif. Mereka juga punya banyak fans kan?

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo saat berlaga di All England 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI)

2. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

(Juara dunia 2013, 2015, 2019. Hendra sendiri adalah juara dunia 2007 dan peraih emas Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido).

Yang istimewa dari Hendra/Ahsan saat ini adalah ketenangannya. Yang lalu-lalu sih mereka juga cepat ya. Namun sekarang, keunggulan mereka adalah ketenangan. Dan satu lagi adalah rotasi. Rotasi Hendra dan Ahsan ini bagi saya sangat baik. Hendra di belakang bisa, di depan bisa. Begitu juga dengan Ahsan. Dia juga bisa di depan dan belakang.

Selain itu, bola-bola mereka bagus. Akurasinya juga bagus. Dan yang juga istimewa adalah mental juara mereka yang cukup kuat. Itu mungkin karena mereka pasangan senior dan berpengalaman.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan berpelukan setelah memastikan diri menjadi juara dunia 2019. (STR/AFP Photo).

3. Ricky Subagja/Rexy Mainaky

(Emas Olimpiade Atlanta 1996, juara dunia 1995, juara Piala Dunia 1993, 1995, 1997).

Bagi saya, mereka adalah pasangan yang fenomenal, luar biasa, dan revolusioner. Gaya mainnya bagus. Menyerang dan punya power. Tetapi yang paling penting dari Ricky/Rexy menurut saya, mereka adalah peletak dasar ganda putra modern dalam sejarah bulu tangkis Indonesia.

Setelah Eddy Hartono/Rudy Gunawan, Ricky/Rexy bukan hanya penting dalam konteks perubahan gaya main ganda putra dunia. Tetapi, mereka juga mengubah pandangan orang tentang ganda putra.

Dulu, ganda putra lebih banyak bermain defense, menunggu, dan lalu menyerang. Sedangkan Ricky/Rexy menyerang terus. Selain itu, Ricky/Rexy ini bisa menggeser perpektif banyak orang.

Dulu, orang-orang itu idolanya selalu pemain tunggal. Ada stigma bahwa ganda itu di bawah tunggal. Begitu memang yang terjadi di antara para pemain remaja di klub. Tidak ada rasanya (pemain muda) yang langsung ingin menjadi pemain ganda. Semua ingin tunggal. Dan ganda, cuma opsi kedua.

Nah, fenomena Ricky/Rexy ini yang mengubah padangan orang-orang Indonesia tentang ganda putra. Banyak pemain muda lalu tertarik menjadi pemain ganda.

Ricky Subagja (kanan) memeluk Rexy Mainaky setelah mengalahkan pasangan Thailand Pramote Teerawiwatana/Siripong Siripool pada final Asian Games 1998. (Toshifumi Kitamura/AFP)

4. Cai Yun/Fu Haifeng

(Emas Olimpiade London 2012, juara dunia 2006, 2009, 2010, 2011)

Saya suka sekali dengan cara main Cai Yun/Fu Haifeng. Mereka mainnya menyerang. Dan mereka memang fenomenal. Baik itu secara permainan dan prestasi.

Gaya main menyerang memang cocok dengan saya. Karena metode melatih saya adalah menyerang.

Di dunia ini, hampir semua juara (ganda putra) ajang-ajang besar adalah pemain menyerang. Tipe-tipe bertahan di ganda putra jarang sekali yang bisa berprestasi sangat tinggi. Misalnya sekarang ada (Hiroyuki) Endo/(Yuta) Watanabe yang suka main bertahan. Namun, saya kira mereka tidak akan tahan lama.

Pasangan Tiongkok Cai Yun (kiri) dan Fu Haifeng saat meraih medali emas ganda putra di Olimpiade London 2012. (Adek Berry/AFP).

5. Candra Wijaya/Tony Gunawan

(Emas Olimpiade Sydney 2000, Juara All England 1999)

Alasan pertama mengapa Candra/Tony masuk daftar terbaik versi saya adalah tipe main mereka adalah menyerang. Selain itu, kualitas mental mereka memang luar biasa. Nggak ada kata menyerah dalam pemikiran mereka. Nggak ada rasa takut. Nggak ada panik.

Mungkin satu-satunya yang agak panik waktu Olimpiade Sydney 2000 saja. Waktu itu di semifinal dan final, mereka mengalahkan dua ganda Korea Selatan yang sedang kuat (mengandaskan Kim Dong-moon/Ha Tae-kwon di semifinal dan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung di final, Red).

Padahal, sebelumnya di All England 2000, Candra/Tony kalah di semifinal. Lalu final All England waktu itu terjadi pertandingan sesama Korea (Kim Dong-moon/Ha Tae-kwon mengalahkan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung). Tapi dia Olimpiade, Candra/Tony bisa mengalahkan dua Korea itu untuk meraih medali emas.

Candra Wijaya (kanan) dan Tony Gunawan merayakan keberhasilan mereka meraih emas Olimpiade Sydney 2000. Di final, mereka mengalahkan ganda Korea Selatan Lee Dong-Soo/Yoo Yong-Sung. (Robyn Beck/AFP)

6. Candra Wijaya/Sigit Budiarto

(Juara Dunia 1997, Juara All England 2003)

Candra/Sigit ini bagi saya menarik karena mereka adalah pasangan dengan dua karakter yang sangat berbeda. Namun, mereka bisa menjadi satu. Candra adalah pemain yang bisa dikatakan ambisius, menggebu-gebu dan, berapi-api. Sedangkan Sigit adalah pemain yang agak slow dan tenang.

Tipenya Candra ini mirip Gideon/Kevin sekarang.

Mereka bisa bersatu disebabkan karena komunikasi dan pendekatan yang baik dari tim pelatih. Karena tak jarang, mereka memiliki perbedaan pendapat saat bertanding.

Kalau dari cara main, Sigit sangat komplet. Serang bisa, defense juga bisa. Kalau Candra ini nggak mau defense. Pokoknya serang terus! Ha..ha..ha..

Yang juga menarik, saya kira adalah pemainan Kevin sekarang adalah perpaduan dari tiga pemain yakni Candra, Tony, dan Sigit. Unsurnya Candra ada sedikit, Tony sedikit, dan Sigit sedikit. Semua ada dalam diri Kevin.

Intinya, bagi saya itu Candra/Sigit adalah pasangan yang lengkap. Candra karakternya menggebu-gebu dan tidak mau kalah. Sedangkan Sigit punya skill dan teknik yang berada di atas rata-rata.

Candra Wijaya (kiri) merayakan keberhasilannya ke final Kejuaraan Dunia 2003 di Birmingham. Bersama pasangannnya, Sigit Budiarto, mereka mengalahkan ganda Tiongkok Cai Yun/Fu Haifeng. (Nicolas Asfouri/AFP)

Editor : Ainur Rohman



Close Ads