alexametrics

Melihat Prospek Mantan Juara Dunia Junior Indah Cahya Sari Jamil

7 Maret 2022, 14:25:47 WIB

JawaPos.com-Indah Cahya Sari Jamil diyakini merupakan salah seorang pemain putri muda sektor ganda campuran yang paling berbakat di Indonesia.

Indah yang masih berusia 19 tahun, mencatat prestasi gemilang di sektor junior. Pada 2018, bersama Leo Rolly Carnando, Indah sukses menjadi juara dunia junior di Markham, Kanada.

Sedangkan pada 2019, Leo/Indah kembali masuk final kejuaraan dunia junior. Namun, pada partai puncak di Kazan, Rusia, mereka dikalahkan ganda campuran Tiongkok Feng Yanzhe/Lin Fangling.

Indah juga menjadi komponen penting tim Indonesia yang menjadi juara dunia junior beregu campuran 2019. Itulah untuk kali pertama dalam sejarah, tim Indonesia berhasil meraih Piala Suhandinata.

Pelatih Vita Marissa mengapit Leo dan Indah yang menjadi juara Asia Junior 2019. (PP PBSI)

Sebelumnya, pada tahun yang sama, Leo/Indah juga berhasil menjadi juara Asia. Di partai final, mereka memukul Feng/Lin di kandang lawan dalam pertarungan rubber game yang sangat dramatis dengan skor, 16-21, 22-20, dan 22-20.

Menginjak ke senior, Leo kemudian diputuskan untuk fokus bermain di ganda putra. Berpasangan dengan Daniel Martin, Leo menjadi salah satu pasangan muda Indonesia dengan prospek paling cerah.

Leo/Daniel menjadi juara dunia junior 2019 dan juara Asia 2019. Sedangkan di kancah senior, tahun lalu, penampilan puncak mereka adalah ketika mampu menembus final Hylo Open, Jerman.

Pada partai puncak, mereka dikalahkan seniornya dan ganda putra nomor satu dunia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Sebelumnya, pada periode 2018 dan 2019, Leo/Daniel meraih tiga gelar ajang BWF International Challenge yakni di Bangladesh, Turki, dan Malaysia.

Selepas dari kejuaraan dunia junior 2019, Indah kemudian dipasangkan sebentar dengan Ghifari Anandaffa Prihardika. Lalu, pada 2020, Indah berpartner dengan Teges Satriaji Cahyo Utomo.

Bersama Teges, Indah sukses menjadi juara pada dua turnamen di Eropa secara beruntun. Yakni di Dutch Junior International dan German Junior.

Namun, rencana untuk memperpanjang prestasi di kancah junior menjadi berantakan karena pandemi Covid-19 yang mengganas secara global. Ini membuat, selepas German Open, Teges/Indah tidak pernah lagi bertanding sepanjang 2020.

Pada akhir 2021, Teges/Indah kembali turun berlaga. Mereka berkompetisi pada ajang Bahrain International Series dan Bahrain International Challenge. Pada dua ajang itu, Teges/Indah terhenti pada perempat final dan semifinal.

Nah, pada awal 2022, berdasarkan diskusi antara pelatih ganda putra dan ganda campuran, Teges akhirnya pindah dari sektor ganda campuran ke ganda putra. Ini membuat Indah kembali tanpa pasangan.

Jadi, tidak mengejutkan ketika tidak ada nama Indah dalam skuad Indonesia yang berlaga pada ajang Polish Open International Challange dan Orleans Masters Super 100 yang berlangsung pada bulan ini. Belakangan, tim Indonesia menarik diri dari Polish Open karena khawatir dengan dampak invasi militer Rusia ke Ukraina.

Pelatih ganda campuran Indonesia Nova Widianto mengungkapkan bahwa pada 2022 ini, Indah telah dipromosikan dari kelompok pramata ke senior. Tetapi, memang, ada dua kendala sehingga Indah tidak didaftarkan dalam dua turnamen itu.

Kendala pertama, Indah baru saja sembuh dari cedera meniskus di lutut kanan. Cedera itu, kata Nova, memang tidak begitu parah. Tetapi, dia harus menunggu Indah sembuh total agar bisa maksimal dalam latihan dan pertandingan.

“Dalam seminggu terakhir, Indah sudah latihan full. Kondisinya sudah semakin baik,” ucap Nova kepada JawaPos.com.

Faktor kedua, saat ini tim pelatih masih belum menentukan siapa pasangan Indah. Menurut Nova, memilih pasangan untuk Indah bukan soal yang mudah.

Nova sadar bahwa Indah, meski baru berusia 19 tahun, memiliki bakat dan kematangan permainan yang baik.

“Jadi sekarang kami sedang memantau para pemain putra yang seumuran untuk dipasangkan dengan Indah. Basis pemilihannya berdasarkan kualitas individu,” ucap Nova.

“Dari pandangan saya, ada yang bagus dari Jawa Tengah dan Banten. Dan ini masih kami pantau terus,” tambah Nova tanpa menyebut dengan detail pemain yang dia maksud.

Nova menambahkan bahwa berdasarkan tradisi panjang yang ada di pelatnas, ganda campuran kerap memiliki komposisi paten yakni kombinasi senior dan junior.

Formula tersebut berhasil dengan baik terutama lewat Nova sendiri yang berpasangan dengan Liliyana Natsir, lalu Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan Praveen Jordan/Debby Susanto.

Setelah periode itu, pelatih ganda campuran pelatnas PP PBSI memasangkan pemain yang nyaris sepantaran dalam diri Praveen dan Melati Daeva Oktavianti.

Praveen/Melati sempat sangat menjanjikan terutama ketika mereka menjadi juara All England 2020. Satu musim sebelumnya, Praveen/Melati berada di podium tertinggi Denmark Open dan French Open.

Tetapi belakangan, Praveen/Melati tidak konsisten. Prestasi mereka terus merosot. Puncaknya adalah ketika Praveen/Melati terdepak dari skuad tim nasional Indonesia.

Menurut Nova, salah satu problem pasangan dengan umur yang tidak terpaut jauh adalah komunikasi. “Kadang, ego masing-masing pemain sama-sama besar. Ini yang menyulitkan,” ucapnya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat ini tim pelatih pelatnas juga memiliki program sesi konseling secara rutin antara pemain dan psikolog.

Tujuannya adalah agar komunikasi terjaga dengan baik. Jadi, ada pengertian yang baik antar partner. Masalah-masalah yang terpendam, bisa segera diurai, dipecahkan, dan ditemukan solusinya. Jadi, komunikasi yang buruk diharapkan tidak menjadi problem yang berdampak pada performa di lapangan.

Saat ini, sepeninggal Praveen/Melati dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, skuad pelatnas Indonesia mengandalkan dua ganda campuran yakni Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (nomor 22 dunia) dan Adnan Maulana/Mychelle Crhystine Bandaso (ranking 31 dunia).

Mereka akan memulai debut sebagai ganda nomor satu dan dua pelatnas Cipayung pada German Open 2022 yang bergulir mulai besok (8/3).

“Menjadi pemain senior yang diandalkan tidak gampang. Tetapi siap nggak siap, mereka harus siap menjadi pasangan andalan pelatnas,” ucap Nova.

“Selain itu, kami juga terus menyiapkan pasangan-pasangan yang berada di bawah mereka. Tujuannya agar kemampuan pasangan inti dan pelapis semakin dekat dan seimbang,” tambah Nova.

Editor : Ainur Rohman

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads