alexametrics
SEA Games 2019

Poinnya Dipotong Juri, Ayahnya Meninggal, Bisa Bangkit Dapat Dua Emas

3 Desember 2019, 17:00:27 WIB

JawaPos.com-Pagi ini, Edgar Xavier Marvelo dalam kondisi sangat kalut. Perasaannya kelewat kacau. Sehari sebelumnya (2/12), dia diselimuti kegalauan karena gagal meraih emas changquan.

Padahal pada Kejuaraan Dunia 2019 di Shanghai, Oktober lalu, Edgar sukses meraih emas changquan. Pada SEA Games 2019, juri memotong nilai Edgar sebanyak 0,1. Dalam wushu, itu singnifikan karena berarti 10 angka. Alhasil, jangankan mendapatkan emas, Edgar malah terlempar ke posisi keempat.

Perasaan Edgar bertambah kusut dini hari tadi. Beberapa jam sebelum bertanding pada nomor daoshu/gunshu, keluarganya di Jakarta mengabarkan bahwa ayah Edgar, Lo Tjhiang Meng, meninggal dunia karena gagal jantung.

Pelatih wushu nasional Novita mengatakan bahwa sebelum bertanding, tim pelatih memeluk dan memberikan dukungan, serta suntikan kekuatan kepada Edgar. “Saya tanya kondisinya dan Edgar menyatakan siap. Sebelum pemanasan kami berpelukan dan bilang ke Edgar untuk melepaskan semua,” ucap Novita seperti dikutip dari Antara.

“Kami hanya berpesan bahwa ini sudah jalannya, siapa pun akan mengalami ini. Nah saat ini, dia adalah wakil negara. Sedang mengemban tugas negara. Tutup pesan ini dengan manis, karena kami yakin papanya sedang menunggu hasil ini,” imbuh Novita sambil berlinang air mata.

Ternyata pesan pelatih begitu melekat pada diri Edgar. Dia tampil luar biasa untuk merebut emas. Bahkan, pada nomor duilian, Edgar juga membantu tim Indonesia berdiri di podium tertinggi.

Edgar Xavier Marvelo mempersembahkan emas yang dia peroleh untuk mendiang ayahnya. (Antara Photo)

Bersama Seraf Naro Siregar dan Harris Horatius, Edgar untuk kali kedua membuat lagu Indonesia Raya berkumandang di World Trade Center, Pasay, Manila hari ini.

Trio Indonesia mengumpulkan 9,54 poin. Kita mengungguli tim Brunei Darussalam yang meraih perak dengan 9,50 poin dan Filipina di peringkat tiga dengan angka 9,49.

Dengan 2 emas dari Edgar dan tambahan 2 perak yang diraih Harris Horatius pada nomor nandao/nangun dan nanquan, Indonesia keluar sebagai juara umum nomor seni atau taolu.

Merah Putih mengalahkan tuan rumah Filipina yang berada di peringkat kedua dengan 2 emas, 1 perak, dan 1 perunggu. “Edgar betul-betul the real champion. Dia bisa mengatasi keadaan ini dengan baik,” kata Novita.

Edgar sendiri tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dalam wawancara dengan wartawan, dia sempat menitikkan air mata. Dua emas ini, dia persembahkan untuk mendiang ayahnya.

”Waktu kejuaraan dunia, papa juga masuk rumah sakit dan sempat melewati masa kritis,” kata Edgar. ”Di sana papa pesan, apapun yang terjadi dengan papa aku enggak boleh berhenti wushu, harus terus melanjutkan wushu dan harus selalu ikut pertandingan yang ada. Dan aku hari ini hanya menjalankan apa yang papa pesan,” tambah Edgar.

Air mata kembali mengalir pelan membasahi pipinya. Suara Edgar bergetar karena sentuhan keharuan.

Edgar dijadwalkan terbang ke Indonesia hari ini. Namun karena badai kammuri sedang melanda wilayah Filipina, penerbangannya dibatalkan. Edgar kemungkinan baru bisa berangkat Rabu pagi ini (4/12).

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Nuris Andi Prasetyo, Tyasefania Febrianti, Dipta Wahyu dari Filipina



Close Ads