Tong Sin Fu: Pencetak Generasi Emas, Ditolak Negeri Kelahiran (3)

3 Juli 2020, 15:00:02 WIB

JawaPos.com-Tanpa ada peringatan, secara tiba-tiba Tong Sin Fu meminta Herry Iman Pierngadi mengangsurkan tangan kirinya. Dengan mimik muka serius, Sin Fu lantas melihat garis tangan Herry.

“Oke Her, kamu bisa sukses. (Karir) kamu akan bisa panjang di sini,” kata Sin Fu kepada Herry.

Herry IP tidak akan pernah melupakan kejadian singkat di suatu hari pada 1993 tersebut. Saat itu adalah tahun pertamanya menangani tim pratama Pelatnas PP PBSI. Herry adalah pelatih yang masih sangat hijau.

Di sisi lain, Sin Fu adalah pelatih papan atas dunia. Dia sukses mencetak generasi emas tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia pada awal 1990-an.

Tentu saja, Herry sangat terkejut dengan kesimpulan Sin Fu atas garis tangannya. Saat itu, Herry dan Sin Fu ditempatkan pada kamar yang sama di Pelatnas PP PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

Dan ternyata, belakangan, ramalan Sin Fu itu benar. Sampai hari ini, Herry masih menjadi pelatih kepala ganda putra Indonesia. Dan memang, Herry berhasil menjalani karir yang sangat gemilang.

Herry IP bersama Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan saat mereka menjadi juara All England 2019. (Ainur Rohman/Jawa Pos)

Sebagai pelatih kepala ganda putra nasional sejak 1999, Herry telah mengantarkan pemainnya meraih segalanya. Mulai medali emas Olimpiade, kejuaraan dunia, All England, Piala Thomas, dan tumpukan gelar lain yang diraup dari turnamen-turnamen BWF World Tour.

Dua ganda besutan Herry saat ini, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bercokol di ranking 1 dan 2 dunia. Sedangkan satu ganda lainnya, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menempati posisi 6 dunia.

*

Tong Sin Fu dalam kenangan Herry IP adalah pelatih yang pendiam. Dia tak akan bicara jika tidak ada sesuatu hal yang penting untuk diomongkan. Pria yang dikenal dengan nama Tang Xianhu di Tiongkok tersebut, adalah sosok yang sangat serius.

“Orangnya jarang guyon,” kata Herry.

Karakter Sin Fu itu, kata Herry sangat berbeda dengan pelatih kepala ganda putra ketika itu Christian Hadinita. Dalam memori Herry, Christian adalah pribadi yang lebih terbuka dan hangat.

“Ada jahilnya, ada humornya, dan memang dekat dengan para pemain. Itu dari kacamata saya,” katanya.

Walau berbeda pendekatan, namun dalam hal kualitas melatih, imbuh Herry, baik Sin Fu maupun Christian memiliki kemampuan yang setara. Hal ini juga diakui oleh juara dunia 1995 Hariyanto Arbi dan mantan ganda putri nomor satu dunia Finarsih.

Selain dalam metode, kedisiplinan dua pelatih tersebut hampir sama. Insting Sin Fu dan Christian juga luar biasa tajam untuk menakar kualitas seorang pemain. Bedanya, Sin Fu detail dalam mencatat. Sedangkan Christian memiliki intuisi yang sangat lancip.

Sayang, Sin Fu tidak memiliki penerus di Indonesia. Ini berbeda dari Christian yang sukses meneruskan tongkat estafet kepelatihan nasional secara mulus kepada Herry.

Menurut Herry, Christian adalah peletak batu pertama permainan agresif ganda putra Indonesia melalui Ricky Subagja/Rexy Mainaky. Saat itu, karateristik dan gaya bertanding ganda putra dunia nyaris sama. Bertahan, menunggu, dan memilih melakukan serangan balik.

Ikon Indonesia saat itu adalah Eddy Hartono/Rudy Gunawan.

Christian tidak ingin terus-menerus ikut arus. Dia lantas melakukan revolusi dengan membuat Ricky/Rexy tampil agresif dan menyerang sejak pembukaan. Apalagi, kualitas Ricky/Rexy sangat menunjang dan cocok dengan filosofi Christian. “Gaya main saya adalah hasil dari kegeniusan Koh Chris,” aku Rexy kepada Jawa Pos.

Christian Hadinata saat mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement Award di Indonesia Sport Awards 2018. (Dok JawaPos.com)

Christian, ucap Herry, adalah pelatih yang menciptakan metode taktik nolob panjang. Hal itu lantas dikembangkan Herry menjadi lebih variatif untuk mengikuti perkembangan zaman. Pelatih yang saat ini berusia 57 tahun tersebut, menajamkan taktik Christian dengan nolob pendek dan kombinasi. “Itu karena eranya beda dan sistemnya beda,” terang Herry.

Pada zaman Christian, saat itu sistem skor pertandingan masih 15. Sedangkan saat Herry menjadi pelatih kepala, dia sudah mengalami sistem 15, 7, 11, dan yang paling kontemporer adalah 21.

Dari cara berkomunikasi, Herry juga mirip dengan Christian. Mereka sama-sama dekat dengan pemain. Namun, sama seperti taktik permainan bulu tangkis, Herry mengembangkan gayanya sendiri ketika berinteraksi dengan para pemain.

“Koh Chris ngomongnya lebih halus. Saya lebih blak-blakan. Kalau Koh Chris nggak terlalu mau menyakiti pemain. Kalau saya, bahasanya bisa langsung to the point,” kata Herry.

“Koh Chris itu adalah pemain hebat di zamannya. Jadi dia adalah pemain top. Dan dia memiliki karisma. Banyak pemain menghormatinya walaupun ngomongnya pelan-pelan,” lanjut Herry.

“Dengan nama besarnya, pemain mau ndengerin. Sekarang, kita harus melihat karakter pemain. Nggak semua pemain bisa terima kalau kita ngomong keras. Ada juga saat kita ngomong halus, dia malah kesentuh. Ada yang kalau kita kerasin, malah ngambek. Kalau begitu, ya saya panggil berdua, tidak bisa dimarahi di depan umum karena dia bisa tersinggung. Makanya, penting untuk memahami karakter pemain,” tambah pelatih yang mengantarkan Candra Wijaya/Tony Gunawan meraih emas Olimpiade Sydney 2000 tersebut.

Herry mengakui bahwa kepergian Sin Fu meninggalkan kekosongan luar biasa dalam regenerasi tunggal putra. Padahal, dalam era puncak Sin Fu, Indonesia sempat sangat mendominasi dengan menempatkan delapan pemain di posisi 1 sampai 8 dunia.

“Itu semua hasil Oom Tong,” tegas Herry.

Saat Sin Fu hengkang pada 1998, dominasi tunggal putra Indonesia pelan-pelan memudar. Praktis, hanya Taufik Hidayat yang menjadi andalan.

Kalau tunggal putra masih “diselamatkan” oleh Taufik, sektor ganda putri malah hilang sama sekali.

“Sebelum Oom Tong masuk, ganda putri memang tidak diperhitungkan. Jadi, dia agak keras dalam mengubah metode latihan. Ketika itu saya yang masih pelatih pratama, suka ngintip cara Oom Tong melatih ganda putri,” kata Herry.

*

Sebagai teman sekamar, Sin Fu memang kerap curhat kepada Herry soal status kewargaan yang tidak jelas di Indonesia. Saat dia hendak pindah ke Tiongkok, Herry mengatakan bahwa Sin Fu luar biasa bimbang.

Bahkan Sin Fu sempat menawarkan kepada Herry untuk membeli rumahnya. Rumah itu terletak di Cipayung, Jakarta Timur. Jadi, berdekatan dengan pusat latihan PBSI. Setiap kali akan melatih, Sin Fu cukup jalan kaki dari rumahnya menuju pelatnas.

Menurut Herry, Sin Fu membanderol rumahnya itu dengan harga Rp 400 juta.

Kalau mau memilih, kata Herry, Sin Fu masih tetap ingin berada di negara kelahirannya, Indonesia. Apalagi, dua anaknya juga lahir di tanah air. Namun, situasinya memang memaksanya untuk segera pindah. Apalagi, di Tiongkok, Sin Fu langung melatih di level tertinggi.

Baru setahun, dia pindah dari seorang pelatih klub di provinsi Fuzhou menjadi pelatih kepala tunggal putra tim nasional Tiongkok.

Jadi menurut Herry, oleh pihak Tiongkok, Sin Fu tidak diperlakukan sebagai pelatih baru dari nol. “Semua jasa Oom Tong masih dihitung, dia langsung diberi rumah dan fasilitas. Pensiunnya dijamin, gajinya disesuaikan dengan levelnya yang tinggi,” ucap Herry.

Kepedulian Tiongkok kepada Sin Fu juga jauh lebih tinggi. Apalagi, pelatih kepala timnas Tiongkok Li Yongbo juga begitu hormat kepada Sin Fu. Padahal, bagi pelatih-pelatih lain, Yongbo adalah sosok yang sangat menyeramkan.

“Li Yongbo memang kalah senior dari Oom Tong. Jadi dia nggak berani. Selain itu, Li Yongbo hormat karena kemampuan dan jam terbang Oom Tong yang sangat tinggi,” cerita Herry.

Tong Sin Fu (kiri) bersama Li Yongbo memberikan selamat kepada Lin Dan setelah dia mengalahkan bintang Malaysia Lee Chong Wei pada semifinal Piala Sudirman 2009 di Guangzhou Gymnasium, 16 Mei 2009. (Liu Jin/AFP)

*

Wartawan Jawa Pos M. Dinarsa Kurniawan pernah bertemu dengan Sin Fu pada Kejuaraan Dunia 2009. Itu setahun sebelum dia memutuskan pensiun sebagai pelatih.

Dalam pengamatan Dinarsa, tunggal putra terbaik sepanjang masa Lin Dan begitu hormat kepada Sin Fu. Dalam setiap pertandingan, Lin Dan selalu menoleh kepada Sin Fu. Dia terus meminta instruksi saat lawan berhasil mencetak angka.

Saat itu, Lin Dan berhasil menjadi juara dunia untuk kali ketiga setelah pada 2006 dan 2007. Bahkan pada final ajang yang berlangsung di Gachibowli Indoor Stadium, Hyderabad, India itu, Lin Dan berhadapan dengan pemain lain hasil didikan Sin Fu, Chen Jin.

Pada kejuaraan dunia 2009 tersebut, timnas Tiongkok mendominasi dengan meraih empat dari lima gelar. Mereka hanya kehilangan trofi ganda campuran (ganda Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl menjadi juara dengan mengalahkan wakil Indonesia Nova Widianto/Lilyana Natsir di final).

Empat nomor lain dikuasai Tiongkok. Bahkan, tiga partai final mempertemukan para pemain Negeri Panda.

Melatih pemain Tiongkok, kata Sin Fu, tidak terlalu susah. Sebab, mereka sangat berbakat. “Di Tiongkok, para pemandu bakat telah menyediakan pemain-pemain bagus. Kami para pelatih, tinggal memoles,” katanya dengan bahasa Indonesia yang masih sangat fasih.

Pelatih Tiongkok Li Yongbo (kanan) dan Tong Sin Fu memegang trofi Piala Thomas 2008 di Istora Senayan, Jakarta, 8 Mei 2008. (Adek Berry/AFP)

Lin Dan sendiri sempat mengatakan kepada kantor berita Xinhua bahwa Sin Fu bukan cuma sosok pelatih yang mengajarkan teknik dan pemahaman bulu tangkis level dunia.

Lebih dari itu, bagi Lin Dan, Sin Fu adalah sosok kakek yang sangat baik di luar lapangan. Lin Dan merasa berutang budi dengan nasihat-nasihat dan petuah kehidupan dari Sin Fu.

Pada 2002, Sin Fu menerima tugas berat sebagai pelatih kepala ganda putra Tiongkok. Hasilnya, dia melahirkan Cai Yun/Fu Haifeng yang belakangan menembus final Olimpiade Beijing 2008 dan meraih emas Olimpiade London 2012.

Sin Fu membuat mentalitas Cai Yun/Fu Haifeng sangat luar biasa. Taktik yang sangat fleksibel dan adaptif, membuat mereka bisa menjadi juara dunia empat kali pada 2006, 2009, 2010, dan 2011.

Bahkan, bersama Zhang Nan, Fu Haifeng juga sukses meraih emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Sin Fu memang terkenal rendah hati dan tidak mau menonjolkan diri. Saat ditanya apa resep sehingga kita berhasil mendominasi tunggal putra dunia pada awal 1990-an, Sin Fu mengatakan bahwa itu akibat dari mentalitas dan bakat pemain Indonesia yang memang sudah sangat luar biasa.

“Para pemain Indonesia saat itu memang berbeda dengan yang ada sekarang (2009, Red),” katanya. “Secara kualitas mereka lebih baik. Selain itu, saya lihat mereka punya semangat dan kemauan keras untuk menjadi juara,” ucap Sin Fu lagi.

“Filosofi saya adalah bukan pelatih yang harus pandai, melainkan pemain sendiri. Tugas pelatih hanya membantu,” sambungnya.

Sin Fu merupakan salah seorang pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya asal Semarang Hou Chia Chang. Di Tiongkok, Sin Fu dan Chia Chang melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis.

Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta. Di Tiongkok, karir bulu tangkis Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun, dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975.

Saat itu, pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama Sin Fu tidak dikenal di dunia internasional.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai membebaskan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Sin Fu langsung mencuri perhatian. Dalam sebuah laga ekshibisi, Sin Fu membantai tunggal putra terbaik Eropa saat itu, Erland Kops. Sin Fu menghajar bintang asal Denmark itu dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0.

Oleh pers Barat, Sin Fu dijuluki The Thing.

Ketika itu tunggal putra dunia didominasi Rudy Hartono. Legenda Indonesia itu berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Sin Fu tidak pernah berkesempatan berduel melawan Rudy. “Kalau seandainya Oom Tong juga bermain di All England, bisa saja jalan sejarah akan berbeda,” yakin Herry IP.

Sin Fu mulai melatih pada akhir 1979. Selama enam tahun, dia memoles para pemain putri Tiongkok.

Kemudian, pada 1986, Sin Fu pulang ke Indonesia. Awalnya, dia menjadi pelatih klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Ketika itu dia dikontrak USD 750 per bulan. Setelah itu, Sin Fu ditarik oleh Pelatnas Cipayung.

Pada 1998, Sin Fu memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi WNI berkali-kali kandas. Bahkan, dia ditipu aparat pemerintah. Sudah memberikan uang Rp 30 sampai Rp 50 juta, namun tetap saja dia gagal menyandang status WNI.

Saat wartawan Jawa Pos menanyakan soal kejadian itu, Sin Fu enggan bercerita lebih banyak.

“Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama,” katanya. “Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata,” lanjut Sin Fu.

Saat itu, Sin Fu hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI.

“Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut,” tambahnya.

Tong Sin Fu saat memberikan arahan kepada para pemain dan pelatih muda Tiongkok. (Sina Weibo).

Sin Fu mengaku masih punya banyak sanak-saudara di Indonesia. Sesekali dia pulang ke Indonesia. Apalagi, kedua anaknya juga lahir di Indonesia.

Sebelas tahun lalu, Sin Fu setuju bahwa prestasi tunggal putra nasional tak sebaik pada era-era sebelumnya. Tapi, dia yakin, Indonesia akan kembali bangkit. “Hanya masalah waktu menunggu bulu tangkis Indonesia berkibar kembali,” katanya. (*/habis)

Catatan: bagian pertama dan kedua artikel Tong Sin Fu ini, bisa dibaca di sini dan sini. 

Editor : Ainur Rohman



Close Ads