alexametrics

Wawancara dengan Greysia Polii: Refleksi Karier dan Alasan Pensiun

3 Juni 2022, 19:10:01 WIB

JawaPos.com-Lanny Tedjo, salah seorang pelatih pertama Greysia Polii di PB Jaya Raya memiliki kesan yang kuat dan sangat mendalam terhadap mantan anak asuhnya itu.

Greysia, dalam kenangan Lanny, adalah pemain terkecil di angkatannya. Namun, Greysia kecil adalah anak yang sangat aktif. Dia suka lari ke sana dan kemari.

Greysia kecil adalah anak yang sangat serius menjalani latihan. Dia tidak pernah mengeluh. Semua program, Greysia lahap dengan penuh semangat. “Nggak mau kalahnya, semangatnya, pedenya, semua kelihatan sekali sejak dia kecil,” kata Lanny kepada JawaPos.com.

Greysia masuk PB Jaya Raya pada 1996 atau ketika dia berusia sembilan tahun. Dia lalu mulai masuk asrama pada umur 11 tahun. Greysia sendiri sudah serius berlatih bulu tangkis sejak umur lima atau enam tahun.

Sejak awal, karier Greysia tidak berjalan dengan mulus dan menguntungkan. Sang ayah, Willy Polii, meninggal saat Greysia berusia dua tahun. Momen sedih ini, membuat perekonomian keluarga kecilnya menjadi terguncang.

Sang ibu, Evie Pakasi, harus berjuang sendirian untuk membesarkan Greysia. Pada 1995, ketika Greysia berusia 8 tahun, Evie memutuskan untuk pindah dari Manado ke Jakarta. Tujuannya agar Greysia mendapatkan tempat latihan bulu tangkis terbaik dan sekolah yang lebih baik.

Evie sampai harus menjahit baju agar roda perekonomian terus bergerak. Pengorbanan itu tidak sia-sia. Greysia kecil, lantas bertumbuh dan memberikan hal yang besar bagi bangsa Indonesia.

Greysia (bersama Nitya Krishinda Maheswari) menjadi ganda putri pertama Indonesia yang meraih emas Asian Games setelah 36 tahun. Lalu, Greysia (bersama Apriyani Rahayu) menjadi ganda putri Indonesia pertama dalam sejarah yang meraih emas Olimpiade.

Sebuah kebangkitan yang hebat. Sebab, Greysia bersama partnernya terdahulu, Meiliana Jauhari, sempat sangat terpuruk. Mereka didiskualifikasi pada Olimpiade London 2012.

Greysia/Meiliana mendapatkan kartu hitam dalam laga terakhir penyisihan grup C. Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menganggap mereka tidak bermain sungguh-sungguh ketika berhadapan dengan ganda Korea Selatan Ha Jung-eun/Kim Min-jung.

IOC dan BWF akhirnya mendiskualifikasi Greysia/Meiliana dari London 2012. Dua ganda Korea Selatan Ha/Kim dan Jung Kyung-eun/Kim Ha-na, serta Wang Xiaoli/Yu Yang asal Tiongkok, juga mendapatkan sanksi yang sama.

Empat pasangan itu dianggap tidak mengeluarkan kemampuan terbaik, sengaja mengalah, dan berusaha memanipulasi drawing dengan mencari lawan termudah di babak perempat final.

Sepulang ke Indonesia, situasi tidak bertambah baik. PP PBSI menghukum Greysia/Meiliana dan pelatih Paulus Firman dengan skorsing empat bulan.

Meiliana Jauhari (kiri) dan Greysia Polii saat meninggalkan arena Olimpiade London 2012. (Adek Berry/AFP)

Dan begitulah jalannya. Setelah berada di titik terendah, Greysia bangkit, melakukan banyak pengorbanan, dan menciptakan sejarah-sejarah besar bagi Indonesia.

Perjalanan karier Greysia yang begitu awet selama 30 tahun (19 tahun terakhir menjadi pemain pelatnas PP PBSI), akhirnya berakhir hari ini (3/6).

Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Greysia menegaskan bahwa dia secara resmi telah pensiun.

Seremoni perpisahan Greysia akan tergelar pada hari Minggu, 12 Juni 2022. Tepatnya pada pukul 09.00 sampai 11.00 WIB di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Bertajuk “Testimonial Day Greysia Polii”, acara itu akan diisi oleh penampilan musisi Raisa. Selain itu, akan ada beberapa exhibition match yang melibatkan rekan-rekan Greysia dari Indonesia dan luar negeri. Dalam laga exhibition match inilah, Greysia bakal memainkan laga terakhirnya.

Setelah pensiun, Greysia masih aktif terlibat di bulu tangkis. Perempuan yang pada Agustus mendatang berusia 35 tahun itu, akan meneruskan perannya sebagai Ketua Komisi Atlet BWF.

Bagaimana Greysia merefleksikan kariernya? Juga mengapa akhirnya dia memutuskan pensiun? Berikut kutipan wawancara dengan salah satu pemain ganda putri terbesar dalam sejarah Indonesia tersebut.

Pertandingan yang paling berkesan dalam perjalanan karier Greysia itu apa sih?

Yang berkesan, paling pahit itu Olimpiade 2012. Yang berkesan memorable, selain Olimpiade (2020) ada Asian Games (2014). Karena itu tuh hal-hal yang prosesnya panjang banget untuk bisa menembus juara di level Internasional. Jadi itu pertama kali yang menurut saya benar-benar memorable dan tidak akan bisa saya lupakan seumur hidup.

Saya dengan Nitya, kami sebelumnya tidak punya prestasi yang membanggakan di ganda putri. Tapi dengan juara Asian Games itu, membuat kami memiliki spirit. Jadi lebih percaya diri lagi kalau ganda putri Indonesia itu level dunia. Jadi saya merasa itu start-nya dan Olimpiade kemarin itu buahnya sih.

Greysia Polii (kanan) dan Nitya Krishinda Maheswari saat berlaga pada Asian Games Incheon 2014. Saat itu, Greysia/Nitya meraih emas. (Pornchai Kittiwongsakul/AFP)

Lawan paling susah dalam karier Greysia itu siapa?

Saya merasa ganda Tiongkok. Ya Gao Ling dan lain-lain. Jadi di situ saya merasa susah banget lawan mereka..ha..ha..ha..

Ya itu sih, saya merasa itu yang susah sepanjang karier. Waktu itu, saya pernah sama Jo (Novita) menang satu set melawan mereka. Tetap akhirnya kalah. Tetapi saya sudah seneng banget..ha..ha..ha..

Karena saya merasa mereka komplet sekali. Badan tinggi, smes, dan pukulannya kuat. Dan yang pasti mental bermain mereka yang menurut saya paling top.

Saat meraih emas Olimpiade, apakah Greysia merasa prestasi ini sudah cukup? Keinginan untuk pensiun langsung datang ketika itu?

Saya sebenarnya sudah mau pensiun itu lama banget. Bertahun-tahun. Sejak 2012, saya juga mau pensiun. Ada hal-hal yang membuat saya mau berhenti lah. Setelah 2016 itu, juga sempat mau berhenti. Waktu itu, ada transisi. Yakni saat Nitya cedera dan junior di bawah saya yang kejauhan umurnya.

Jadi tidak ada di pikiran saya kalau saya bisa berjalan sejauh ini. Waktu itu 2016 dan 2017, saya diskusi di pelatnas. Saya hanya akan bertanding untuk mengangkat adik-adik yang ada di bawah. Pada 2017 sebetulnya ada rencana nikah. Tetapi tidak jadi. Itu yang membuat saya memutuskan untuk menunggu setengah tahun atau setahun lagi. Saya ingin melihat bagaimana perkembangannya.

Kalau memang sudah ada yang bagus dan bisa bersaing di top ten, saya keluar. Rencananya seperti itu. Beneran! Tetapi ternyata Tuhan berkata lain.

Tuhan memberikan jalan untuk terus juara dan berprestasi. Ya nggak sampai enam bulan itu, malah juara lagi (juara Thailand Open 2017, gelar pertama Greysia/Apriyani Rahayu, Red). Hal-hal yang jarang terjadi, ganda putri bisa juara.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu mencium medali emas Olimpiade Tokyo 2020. (Alexander Nemenov/AFP)

Berarti kan ada suatu hal yang harus saya pikirkan dan pertahankan lagi pada saat itu. Jadi itu momen di balik saya harus lanjut lagi sampai saat ini. Dan pas sudah waktunya, saya berhenti.

Di lihat juga, saya kan sudah menikah. Dan setiap wanita ketika menikah, otomatis mau membangun keluarga. Dan sudah saatnya saya memikirkan bagaimana nanti masa depan saya. Bukan hanya untuk satu atau tiga tahun. Tapi saya ingin melihat 10 dan 20 tahun kemudian.

Saya sudah pikirkan hal itu. Kami juga berusaha untuk program punya anak. Dan itu harus dipikirkan sekarang. Nggak bisa ditunda dua tahun, tiga tahun, karena usia juga.

Hal-hal itulah yang membuat saya akhirnya bilang saya mau kelar di bulu tangkis. Dan lalu, saya dikasih bonusnya gede banget sama Tuhan dengan juara Olimpiade. Kayaknya pas aja gitu untuk bisa menutup karier dengan sebuah prestasi.

Sebelumnya, saya juga sudah bilang dengan Koh Didi (pelatih ganda putri Eng Hian, Red) bahwa habis Olimpiade, saya berhenti. Tapi berhentinya kapan kan tidak akan lama dari situ.

Dan kemarin, setelah kami tidak ikut ke kejuaraan dunia, ada omongan dengan Koh Didi dan PBSI agar saya tidak berhenti. Karena kenapa? kalau saya keluar, level dunia dengan Apriyani itu kan hilang.

Apalagi rankingnya jauh. Tidak bisa ngangkat. Nanti dari bawah lagi. Sengaja ditunggu. Jadi makanya saya bilang di medsos bahwa saya juga kasih tahu alasannya kenapa masih main. Karena saya menunggu saja. Menunggu Apriyani dan Fadia (Siti Fadia Silva) tanding, supaya mereka dapat ranking dan tidak perlu dari bawah lagi.

Makanya mengapa mereka bisa ikut Indonesia Masters dan Indonesia Open. Dan kenapa saya tidak ikut. Itu sudah dipikirkan oleh kami. Dan pas juga sponsor kami bilang farewell party. Ya udah, Indonesia Masters tanggal 12 Juni saja.

Apriyani Rahayu bersama partner barunya Siti Fadia Silva saat meraih emas SEA Games 2021 Hanoi. (Humas PP PBSI)

Mengapa perpisahannya tidak di Indonesia Open?

Alasannya karena pemain yang sudah kalah tidak langsung pulang. Karena setelah Indonesia Masters masih ada Indonesia Open. Jadi dibuatnya di Indonesia Masters. Sebab, para pemain masih ngumpul dan perlu latihan. Tidak kemana-mana. Hal itulah mengapa penutupannya di Indonesia Masters.

Jadi mengapa saya pensiunnya nunggu setahun ini, ya tujuannya untuk adik-adik itu. Apriyani dengan siapapun partner dia saat itu, akhirnya bisa main di level super 1000. Karena ada ranking dari saya dan Apriyani. Kalau saya langsung keluar, BWF biasanya langsung take down ya. Apriyani mulai dari bawah lagi. Hal itu yang kami consider lagi.

Mengapa saya tidak main lagi ya karena Apriyani dan Fadia harus bisa kejar ranking. Kalau saya main lagi, kapan waktunya mereka mengejar poin untuk Olimpiade (Paris 2024). Iya itu jadi hal yang kami bicarakan dan saya sudah tidak ada hal yang membebani. Jadi, semua bisa saya nikmati.

Saya sekarang tuh senang ya karena kalau dulu prescon ada beban kan karena masih main..ha..ha.ha.. Sekarang tidak, jadi lega banget..Ha..ha..ha..

Rencana Greysia setelah pensiun apa?

Prioritas saya adalah keluarga. Otomatis saya ingin memiliki waktu bersama keluarga. Dan yang lain-lain dari itu akan didiskusikan lagi. Saya sekarang ada bisnis yang saya bangun. Saya juga jadi ketua atlet dari BWF.

Lalu PBSI juga sudah bilang untuk jangan tinggalkan pelatnas gitu aja. Semoga dengan waktu saya dan hidup saya, saya bisa kasih itu semua.

Tapi saya selalu bilang saat ini saya sudah 30 tahun di bulu tangkis. Di asrama, sejak saya usia 11 tahun. Jadi waktu saya buat keluarga, buat mama, dan buat suami, saya nomor satukan dulu. Untuk paling nggak beberapa tahun ke depan. Kayak gitu sih.

Memang sangat, haduh gimana ya. Saya galau juga sih selama setahun setelah Olimpiade ini. Bukan karena pensiunnya, kalau itu saya merasa sudah cukup. Tapi galaunya itu lebih kepada haduh gimana ya masih di bulu tangkis atau enggak. Ngurus banyak banget. Jadi semoga lah, doakan untuk bisa lakukan yang positif untuk Indonesia lah.

Soal pensiun ini, bagaimana tanggapan teman-teman di pelatnas dan luar negeri?

Ya mereka gimana ya, mereka sebenarnya menyayangkan. Haduh kenapa sih kok gitu? Bukan karena pertandingannya, tapi nanti dibilang nggak bakal ketemu lagi setelah tanding.

Ya, bagaimana nanti lah. Gue akan visit ke negara lu lah..ha..ha..ha..Kayak gitu sih. Hubungan ini yang bikin saya galau dan rindukan.

Karena kehidupan di bulu tangkis yang traveling, latihan, itulah yang saya akan rindukan. Begini, kemarin saya bilang sama salah satu teman di luar negeri, latihannya itu bikin capek banget. Kehidupannya. Gue pengen tanding lagi bisa nggak kalau gue tanpa latihan? Ha..ha..ha..Hal kayak begitu yang dikangenin.

Sekarang sudah bisa bangun siang. Tidak lagi merasakan badan sakit dan sakit kepala lagi. Pasti beberapa bulan ke depan saya akan merasakan, kenapa ya badan saya sakit-sakit lagi..ha..ha..ha..Capeknya beda ya.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu merayakan keberhasilan meraih emas Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza, 2 Augustus 2021. (Alexander Nemenov/AFP)

Kalau sama Apriyani ada percakapan khusus nggak?

Haduh Apri…ha..ha..ha..

Apri sih sebenarnya dia sudah siap nggak siap. Memang dia sudah tahu. Saya sudah bilang. Bahkan bukan setelah Olimpiade saja. Tapi sebelum Olimpiade kalau nggak salah 2018. Saya masih ingat pembicaraan saya dengan dia.

“Pri, gue nih udah nggak bakal lama lagi mainnya.” Saya nih nggak bisa nungguin kedewasaannya dia. Dia nih harus ketarik saya terus. Ego, semuanya, dan ternyata dia mau belajar.

Karena dia sudah tahu kalau saya sudah tidak lama lagi mainnya. Jadi itu yang jadi acuan dia. Kalau mau berhasil, ya sekarang. Saya selalu bilang ke dia. Now or never.

Gue nggak punya waktu banyak. Paling gue sampe 2020 doang loh.” Kayak gitu-gitu doang loh yang saya katakan, bukan ngancem ya. Maksudnya itu adalah kenyataannya.

Dan dia selalu bilang “Iya kak, iya kak. Kakak nggak lama lagi, saya tahu.” Jadi itu yang membuat dia termotivasi dan saya sendiri juga termotivasi. Karena saya tahu tidak akan lama di bulu tangkis.

Jadi seorang atlet, karena usia juga. Saya bisa main 34 ke 35 tahun saja merasa bonus. Karena saya bisa main bulu tangkis dan saya cewek lagi. Saya juga bingung kok bisa ya.

Dulu waktu saya umur 20, cedera banyak banget. Di kaki, lutut, dan lain-lain. Jadi kayak badan saya tuh ringkih. Tapi semakin tua malah seperti muda gitu loh. Saya bilang ke Koh Didi, sebenarnya badan saya tuh siap nggak sih?

Setiap empat tahun, saya selalu cek badan. Karena kan saya bertanding pakai fisik. Tapi semakin tua mereka bilang “Kok badan lu semakin lama malah bagus? Empat tahun lagi, juga bisa nih.”

Entar empat tahun kemudian dicek lagi. Lalu bilangnya, “Gila lu mah, empat tahun lagi juga bisa.” Terus mau sampai kapan? Ha..ha..ha…

Koh Didi juga bilang gitu. Tapi kan Koh Didi tahu dia harus melepaskan dan merelakan. Dia mau, sebagai pelatih, atletnya tidak hanya sukses di kariernya. Tetapi juga di keluarganya.

Ya karena hal inilah pada akhirnya, harus ada ada kata cukup dan ya sudah. Bahkan saya tes fisik di 2022, kalau mau, saya pasti bisa. Tapi memang sekarang saya merasa cukup. Saya ingin waktu saya buat keluarga. (*)

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Rizky Ahmad Fauzi

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads