alexametrics
Wawancara Dengan Lifter Lisa Setiawati

Mau Mati pun Saya Harus Bisa Angkat 100 Kilogram

2 Desember 2019, 20:18:49 WIB

JawaPos.com – Tangis histeris Lisa Setiawati pecah setelah turun dari percobaan ketiga clean and jerk kemarin (1/12). Lifter yang terjun di kelas 45 kg tersebut jatuh terduduk, gagal mengangkat beban 100 kg.

Lisa akhirnya meraih perak dengan total angkatan 169 kg (73 kg snatch dan 96 kg clean and jerk). Kalah oleh lifter Vietnam Vuong Thi Huyen yang membukukan angkatan 171 kg (77 kg snatch dan 94 kg clean and jerk). Berikut ini obrolan wartawan Jawa Pos  Tyasefania Febrianti setelah Lisa lebih tenang.

Selamat Lisa, Anda sudah berjuang sekuat tenaga….

Terima kasih atas dukungan, doa, dan partisipasinya. Mohon maaf, saya belum bisa memberikan emas untuk Indonesia. Mohon maaf sekali lagi. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Ini hasil yang Allah berikan untuk saya.

Selama ini Anda belum pernah mengangkat clean and jerk 100 kg. Mengapa tadi melakukannya?

Itu suatu keharusan karena saya terlalu berambisi untuk mendapatkan medali emas. Mungkin, kalau tadi snatch berhasil menembak sampai 75 kg atau 76 kg di angkatan ketiga, saya bisa menyusul Vietnam sehingga bisa melawan di clean and jerk. Tetapi, memang belum rezekinya. Bahkan, sampai clean and jerk saya mati-matian juga karena selisihnya hampir 5 kg dan itu harus saya kejar. Mau mati sekalipun, memang harus segitu kalau mau dapat emas. Nggak bisa nggak.

Apa yang terjadi di saat snatch?

Pada percobaan pertama, saya dianggap fault. Jadinya hanya bisa 73 kg. Nah, gara-gara itu ada perubahan strategi. Seandainya saya bisa angkat 75 kg, cuma selisih 2 kg dengan Vietnam. Jadi, di clean and jerk lebih mudah menyusul. Seumur hidup, saya nggak pernah angkat seberat itu (100 kg, Red). Paling mentok 95 kg. Itu pun jarang. Kadang saya tarik saja nggak clean karena punya trauma. Tetapi, di sini saya merasakan harus berjuang. Mati ya mati sekalian karena ini yang terakhir.

Trauma apa?

Dulu pada 2015 pernah coba angkat clean and jerk 85 kg, tapi jatuh ke depan. Ada pembengkakan karena posisi siku kanan kegeser sama besi. Saya trauma. Di sinilah saya merasakan trauma itu cuma terjadi sekali, nggak boleh terulang-ulang. Pelatih meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa.

Benar ini SEA Games terakhir Anda?

Memang ini adalah SEA Games pertama saya dan bisa saja yang terakhir. Di situ saya merasa sedih. Saya mohon maaf. Saya sudah berusaha sekuat tenaga (Lisa kembali menangis sesenggukan).

Lisa Setiawati menangis dan sangat terpukul karena gagal meraih emas SEA Games 2019. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Tidak ingin lanjut?

Tim pelatih maunya tetap lanjut. Cuma usia saya sudah 31 tahun. Sudah menikah dan harus punya baby. Kalau mau lanjut, kan rawan banget buat cewek. Kata suami, stop. Awalnya suami nggak izinin ikut SEA Games. Tapi, saya keukeuh ini yang terakhir. Seumur hidup pengin bisa cobain karena ini kali pertama ada kelas 45 kg di SEA Games. Saya ingin menunjukkan yang terbaik.

Apa pelajaran terpenting yang Anda petik dari kegagalan ini?

Bahwa waktu tidak bisa terulang. Bagi atlet, umur memang bukan suatu patokan buat berprestasi. Tetapi, umur juga yang menentukan kita berada di mana. Saya menyesal kenapa dulu waktu muda tidak sungguh-sungguh dan serius jadi atlet. Dulu pikirannya jadi atlet itu kita harus mengorbankan keluarga dan waktu. Apa saja harus dikorbanin, nggak bisa nawar, nggak bisa komplain. Jika bisa kembali ke masa muda, saya pasti akan serius latihan.

Ada pesan untuk generasi angkat besi Indonesia selanjutnya?

Jangan menyerah. Latihan, semangat. Saya saja yang sudah kepala tiga masih ingin sekali berlatih dan bertanding.

Apa rencana Anda setelah ini?

Saya belum tahu.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : Tyasefania Febrianti dari Manila, Filipina



Close Ads