
Ilustrasi
JawaPos.Com-Kabar tidak mengenakan terus berdatangan dari sepak bola tanah air. Selain kompetisi yang vakum akibat dihentikan secara sepihak oleh PSSI, masalah lain pun terus bermunculan.
Terbaru, sejumlah anak-anak Indonesia yang rata-rata di bawah 13 tahun harus terlantar di negeri orang setelah tidak mendapat tiket pulang ke tanah air.
Para anak bangsa yang sedang bernasib kurang beruntung itu adalah mereka yang membela Tim nasional pelajar U-13 Kampiun Indonesia yang tidak bisa pulang ke Indonesia setelah berlaga di kejuaraan International Invitational Youth Football Tournament Pinas CUp Philipina pada 27-30 Oktober lalu.
Padahal, dalam even yang sangat bergengsi tersebut, mereka sukses mengharumkan nama Indonesia setelah keluar sebagai juara. Pihak Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) membenarkan informasi tersebut setelah berkomunikasi langsung dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Filipina.
Dari hasil laporan tersebut, tercatat total 13 orang dari skuad tersebut yang masih tertinggal di Manila, Filipina. Itu terdiri dari 11 orang pemain dan ditemani oleh dua oficial tim.
''Untuk sementara mereka sedang ditampung di rumah salah satu warga Indonesia yang berdomisili di Filipina,'' kata juru bicara Kemenpora Gatot. S Dewa Broto.
Menurut Gatot, mereka juga kaget setelah menerima laporan bahwa tim tersebut berangkat karena hasil rekomendasi dari Kemenpora. Dari informasi yang mereka terima dari laporan orang tua anak yang ikut berangkat ke Filipina, skuad tersebut dibentuk oleh Kemenpora lewat Tim Transisi PSSI yang merekomendasikan salah satu Even Organizer (EO) bernama Kampiun Indonesia.
''Namun, setelah ditelusuri secara kilat, ternyata surat rekomendasi dari Tim Transisi ke Kampiun Indonesia itu palsu. Ada pihak yang sengaja memanfaatkan situasi. Karena setelah kami crosscheck ternyata mereka menggunakan surat bodong. Kami sedang menelusuri siapa otak dibalik semua ini,'' kata Gatot.
Meski begitu, pria yang juga Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora ini menyatakan bahwa, negara tidak akan diam melihat anak bangsa terlantar di negeri orang.
''Kami akan tetap mengambil sikap dan berusaha secepatnya agar mereka kembali,'' tambahnya.
Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cerdas Bangsa yang dipercaya oleh orang tua anak-anak Tim Nasional Pelajar U-13 Indonesia itu membenarkan bahwa ada modus penipuan di balik masalah tersebut.
''Kampiun Indonesia memalsukan surat tim transisi atas nama Pak Bibit Samad Rianto, ini kan persoalan pidana,'' kata kuasa hukum Martin Siwabessy.
Siwabessy juga menjelaskan bahwa, upaya penipuan tersebut telah mengakibatkan kerugian sebesar ratusan juta rupiah. Sebab, setiap orang tua dimintai dana besar dengan jumlah berbeda.
''Mulai dari lima juta sampai dengan sepuluh juta rupah, kami akan telusuri masalah ini lebih dalam lagi,'' ujarnya.
Sementara itu, direktur Kampiun Indonesia, Gatut Hari Suparjanto belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar. Namun, pria yang bertanggungjawab atas rombongan Timnas pelajar U-13 Kampiun Indonesia itu dikabarkan sudah berpisah dengan rombongan dan sedang berlibur di Singapura.(dik/JPG)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
