← Beranda

Amul Huzni, Tahun Kesedihan yang Dialami Rasulullah Menjelang Isra Mi'raj, Inilah 3 Peristiwa yang membuat Rasul Sedih!

Suryana EpendiMinggu, 4 Februari 2024 | 23.41 WIB
Peristiwa Isra Mi’raj dan tahun kesedihan yang dialami Rasulullah. (pixabay_PANJTANPAK_GRAPHIC05)

JawaPos.com – Peristiwa Isra Mi’raj sebagai perjalanan sejarah yang agung, hanya dialami oleh manusia agung yaitu Baginda Rasulullah Muhammad Saw. Dibalik perjalanan Isra Mi’raj ternyata menyimpan kesedihan yang amat dalam bagi Rasulullah karena  masa ini juga sering disebut amul huzni yaitu tahun kesedihan Rasulullah.

Peristiwa Isra Mi'raj juga disebut sebagai hiburan yang diberikan oleh Allah Swt kepada Muhammad atas kesedihan yang mendalam. Ada tiga peristiwa yang dialami Rasulullah sehingga disebut Tahun kesedihan.

Dilansir dari nu.or.id mengungkapkan keterangan atas tiga peristiwa yang dialami oleh Rasulullah sebelum peristiwa Isra Mi'raj.

Baca Juga: Contraflow akan Diberlakukan di Tol Trans Jawa selama Libur Panjang Isra Mikraj dan Imlek, Berikut Ini Jadwalnya

Kita juga perlu mengetahui tiga peristiwa apa saja yang telah dialami oleh Rasulullah sehingga disebut sebagi tahun kesedihan bagi Rasulullah. Tiga peristiwa tersebut, diantaranya:

Pertama,  ketika Rasul ditinggal oleh ibunya Rasul tinggal bersama kakeknya, namun ketika kakek Rasul meninggal dunia, Rasul tinggal bersama paman beliau yaitu Abu Thalib. Pada tahun kesedihan atau amul huzni yaitu Rasulullah ditinggal oleh pamannya Abu Thalib.

Rasulullah saat tingga bersama Abu Thalib merupakan paman yang baik dan telah merawat Rasul semenjak usia anak-anak sampai menjadi pelindung ketika Rasul sudah melaksanakan dakwah.

Baca Juga: Umat Islam Patut Pahami Penerapan Nilai-nilai Isra' Mi'raj Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kegiatan dakwah Rasulullah selalu mengalami gangguan dari kafir Quraisy, saat itulah paman Rasulullah Abu Thalib senantiasa memberikan perlindungan terhadap Rasulullah.

Penduduk Makkah enggan untuk mengganggu Rasul karena kehadiran paman yang setia melindungi dakwah Rasulullah. Paman Rasulullh ini memiliki kedudukan yang sangat disegani juga dihormati oleh penduduka Makkah.

Sehingga, sepeninggal Abu Thalib para kaum kafir quraisy merasa gembira lantaran tidak ada lagi orang yang memiliki kedudukan di Makkah itu membela dan melindungi Rasul dalam menyampaikan dakwahnya.

Baca Juga: Hikmah dari Peristiwa Isra’ Mi'raj Bagi Umat Muslim, Perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah Menuju Palestina

Ditinggalkan oleh paman yang menyayangi Rasul semenjak rasul anak-anak sampai dewasa, merupakan kesedihan sangat dalam yang dialami oleh Rasulullah.

Kedua, bukan hanya ditinggal oleh paman saja, ternyata  ditahun yang sama istri tercinta rasulullah, yaitu Sayyidatina Khadijah meninggal dunia.

Ditinggal Khadijah seorang istri tercinta membuat Rasul merasa sangat sedih. Khadijah memiliki peran yang begitu besar dalam kehidupan Rasulullah, bukan hanya sebatas sebagai istri tapi juga yang selalu ikut membantu dan menjadi pendamping dakwah yang senantiasa membuat hati Rasulullah tentram.

Dukungan dari Khadijah terhadap Rasulullah bukan hanya sebagai istri tapi lebih dari itu, Khadijah sebagai saudagar mau mengorbankan semua harta yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah Rasulullah.

Kehilangan Khadijah merupakan seperti kemarau yang merenggut setiap sumber kehidupan. Peran besar Khadijah sangat dirasakan oleh Rasul, meninggalnya Khadijah merupakan kesedihan yang sangat luar biasa.

Baca Juga: Mengenal 7 Peristiwa Penting Di Bulan Rajab, Isra Mikraj hingga Pembebasan Baitul Maqdis Palestina

Ketiga, selain dari kepergian orang terkasih yang membuat Rasul merasa terpuruk, Rasulullah juga mengalami hal yang amat kasar saat melakukan dakwah pada penduduk Thaif.

Nabi yang melaksanakan dakwah di Thaif berharap penduduk Thaif mau menerima dakwah Rasulullah, ternyata harapan itu tidak berbuah manis.

Penduduk Thaif enggan menerima dakwah dari Rasulullah, bahkan penolakan penduduk Thaif dilakukan secara kasar. Bahkan penduduk Thaif mengusir nabi dengan dilempari batu yang membuat luka pada kaki Rasulullah.

Baca Juga: Kapan Peringatan Isra Miraj 2024? Catat Ini Tanggal Baiknya

Atas kesedihan dan kesusahan yang dialami oleh Rasulullah itulah, Allah meng-isra-mi’raj-kan Rasulullah. Perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, lalu dilanjutkan menuju sidratul muntaha untuk bertemu langsung dengan-Nya.

Perjalanan yang dilakukan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha merupakan bagian dari perjalanan untuk menghibur Rasulullah atas kesedihan yang telah dialami Rasulullah.

perjalanan yang dialami oleh Rasul ini memiliki kesan yang baik dan menjadi pelipur lara atas segala kesedihan. ketika sebelumnya di bumi Rasul menerima cacian, hinaan, dan perilaku tidak baik, maka kini di langit Rasul menerima kemuliaan dan segala perilaku hormat yang luar biasa dari Dzat yang maha luar biasa.

Baca Juga: Catat, Ini Doa dan Amalan Isra Mikraj pada 27 Rajab, Bisa Kabulkan Segala Macam Hajat

Atas segala kemuliaan yang diterima ini tak membuat Rasulullah lupa diri. Penghormatan  dan ketentraman berada di sisi Allah taidak menjadikan enggan untuk kembali lagi ke bumi.

Rasulullah kembali turun ke bumi dengan segala risiko yang akan dihadapi. Baginya setiap kenikmatan yang didapatkan saat bersama Tuhan di langit mesti dibagi dan ditebarkan sebagai rahmat di muka bumi.

Sikap ini menjadi pendidikan luhur bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Naik dan bertemunya Rasulullah dengan Allah adalah merupakan gambaran seorang yang sedang atau telah berada pada posisi atas, baik dalam hal ruhani atau lainnya seperti status sosial, ekonomi, dan pangkat jabatan. 

Sedang turunnya Rasul ke bumi sebagai cerminan sikap tidak melalaikan dan mau berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kebetulan berada pada posisi bawah. 

EDITOR: Nicolaus Ade