
Ahmad Fahrizal sedang merawat bibit tanaman alpukat Cipedak yang dia budidayakan di kebun di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. (M. Ali/Jawa Pos)
JawaPos.com - Petani milenial tidak hanya di daerah sentra pangan. Di tengah padatnya hutan beton Jakarta, ada sekelompok petani milenial. Di tengah keterbatasan lahan, mereka tidak bergerak di tanaman pangan seperti padi atau jagung. Salah satunya Ahmad Fahrizal, yang menekuni budidaya bibit alpukat Cipedak.
Sebelumnya karir Ahmad Fahrizal sebagai penyuluh pertanian di Dinas Pertanian DKI Jakarta sejatinya cukup moncer. Dia mengawali karir sebagai penyuluh pertanian honorer sejak 2007 yang lalu. Kemudian pada 2011 dia resign, meskipun sudah berstatus CPNS. ’’Teman seangkatan saya banyak yang diangkat jadi PNS pada 2015,’’ katanya lantas tersenyum, saat ditemui di pusat pembibitan alpukat Cipedak, di Jagakarsa, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Pria yang akrab disapa Rizal itu tidak menyesali keputusannya keluar dari abdi negara. Dia mengakui saat memutuskan keluar sebagai CPNS, belum ada jaminan bakal sukses menjadi petani. Dengan bekal menjadi penyuluh pertanian bertahun-tahun, dia hanya berbekal potensi sebagai petani di Jakarta cukup menjanjikan.
Alasannya lainnya adalah, di Jakarta harus ada petani. ’’Kalau di Jakarta tidak ada petani, buat apa ada Dinas Pertanian. Bubarkan saja dinas ini,’’ kata Rizal. Saya ingin jadi bagian regenerasi petani di Jakarta. Jangan sampai ada Dinas Pertanian, tetapi tidak ada petani yang dibina.
Awal-awal terjun sebagai petani, dia membudidayakan aneka jenis sayuran. Kemudian dia banting setir membudidayakan bibit alpukat Cipedak. Pria kelahiran Jakarta, 5 November 1988 itu mempunyai dorongan kuat untuk ikut melestarikan varietas alpukat khas tanah kelahirannya. Jangan sampai alpukat Cipedak tidak dikenal masyarakat.
Rizal mengatakan puncak permintaan bibit alpukat Cipedak terjadi saat pademi Covid-19 lalu. Dalam sebulan dia sempat menerima pesanan mencapai 20 ribu bibit. Untuk memenuhi permintaan, dia berkolaborasi dengan tujuh mitra kelompok tani. Kolaborasi ini kemudian berada di bawah payung Kelompok Tani Sejahtera Makmur.
Markas Rizal di sekitar Jl Kahfi II Jagakarsa, Jakarta Selatan sendiri digunakan sebagai etalase. Di lahan seluas 1.000 meter persegi itu, dipajang bibit alpukat Cipedak berbagai ukuran. Ukuran kecil dijual seharga Rp 50 ribu per bibit. Ukuran sedang dijual Rp 100 ribu per bibit dan ukuran besar Rp 200 ribu per bibit.
Harga tersebut bisa lebih murah jika dibeli dalam jumlah besar. ’’Untuk ukuran kecil, per 50 bibit kita jual Rp 40 ribuan. Kalau pesan 100 bibit, minimal Rp 35 ribu per bibit,’’ katanya. Pengiriman tidak hanya di pulau Jawa. Rizal mengatakan sempat mengirim sampai ke Manokwari. Menurut dia alpukat adalah tanaman adaptif. Sehingga cocok ditanam di mana saja.
Supaya penjualannya terus berjalan atau tidak pernah putus, Rizal mengelompokkan target konsumen menjadi lima jenis. Pertama adalah kategori konsumen harian. ’’Kebanyakan petani nunggu orang datang dan beli. Sambil duduk dan berdoa,’’ katanya.
Lalu pasar yang kedua adalah penghobi. Biasanya kelompok ini meminta varietas yang khusus. Misalnya pohon alpukat dengan akar lebat dan panjang. Atau dalam satu pohon, berbuah dua jenis alpukat. Untuk kategori ini, Rizal biasanya meminta uang muka pemesanan dulu. Karena dia harus melakukan proses khusus untuk menghadirkan bibit sesuai yang diharapkan. Kemudian harga bibitnya juga lebih mahal ketimbang bibit umumnya.
Kelompok yang ketiga adalah konsumen pekebun. Mereka biasanya memiliki lahan luas dan membeli bibit dalam jumlah besar. Untuk lahan satu hektar dengan pola tanam 5x5 meter, membutuhkan 400 pohon. ’’Kalau dia punya lahan 10 hektar, butuh 4.000 pohon,’’ katanya. Jumlah itu sudah menyerap satu siklus pembibitan Rizal bersama kelompok tani binaannya.
Lalu kelompok yang keempat adalah pemerintahan atau CSR perusahaan. Untuk kelompok ini, biasanya harganya cukup murah. Kemudian harus melalui proses lelang. Dia memiliki relasi khusus, untuk ikut proses lelang pengadaan pohon alpukat Cipedak. Pengadaan bibit alpukat biasanya digunakan untuk penghijauan, peneduh jalan, atau dibagikan ke masyarakat.
Berikutnya kelompok yang kelima adalah untuk konsumen edukasi. Misalnya kelompok mahasiswa, sekolah, atau masyarakat. Mereka perlu mendapatkan edukasi, diantaranya potensi bisnis dari alpukat Cipedak.
Dia mengatakan di pasar induk Kramat Jati, Jakarta, hampir jarang ada alpukat Cipedak. Karena sudah habis terjual di tingkat petani. Apalagi misalnya tengkulak di daerah sudah punya jaringan supermarket setempat. Mereka tidak perlu jauh-jauh kirim hasil panen alpukat ke Jakarta.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
