alexametrics
Liga 1 2019

Sepurane, Arek-arek Pengen Persebaya Menang!

30 Oktober 2019, 07:00:52 WIB

JawaPos.com – Hat-trick yang menyakitkan. Ya, itulah episode buruk yang harus dilewati Persebaya Surabaya dalam dua pekan terakhir ini. Tiga kekalahan beruntun harus diderita tim asuhan Wolfgang Pikal tersebut.

Tragisnya, kekalahan ketiga itu harus diderita saat Persebaya bermain di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, kemarin sore. Mereka dipaksa takluk 2-3 (1-3) oleh PSS Sleman.

Persebaya Surabaya

Kekalahan pertama Green Force –julukan Persebaya– di laga kandang itu langsung memantik kekecewaan ribuan Bonek. Sinyal kekecewaan tersebut bahkan sudah terlihat saat peluit panjang babak pertama belum terdengar.

Bonek di tribun utara langsung mengambil sikap. Mereka mengosongkan tribun sebagai bentuk protes. Pengosongan tribun dilakukan seusai Yevhen Bokhashvili mencetak gol ketiga bagi PSS pada menit ke-43. Setelah itu, chant kekecewaan dinyanyikan.

Pada babak kedua, tribun tetap dibiarkan kosong. Tapi kali ini dibumbui tulisan ’’Sepurane, arek-arek pengen Persebaya menang!’’

Bentuk protes tak berhenti sampai di situ. Memasuki menit ke-68, flare mulai menyala. Flare berasal dari tribun kidul dan gate 21. Aksi makin parah setelah peluit panjang ditiup. Bonek yang muntap merangsek ke lapangan. Mereka mendatangi penggawa Green Force. Pemain pun berlarian masuk ke ruang ganti.

Situasi makin tak terkendali. Papan iklan diambil, kemudian dirusak. Setelah itu dibakar. Tak cukup di situ. Gawang di sebelah utara juga dibakar. Lintasan lari di depan tribun VIP juga dibakar.

Situasi tak kondusif itu memaksa para pemain Green Force pulang lebih cepat. Mereka bahkan tak mengadakan konferensi pers seusai laga. Untung, aksi mereda setelah Bonek mendatangi tribun suporter PSS Sleman. Lalu, mereka bernyanyi bersama.

Namun, dengan kondisi itu, Persebaya terancam sanksi berat. Bahkan, bukan tak mungkin mereka bakal melakoni laga usiran.

Soal itu, manajemen berharap tidak sampai terjadi. ’’Kami nggak berharap seperti itu (laga usiran, Red). Kami ingin bisa main di sini (GBT). Bangkit di sini juga,’’ kata Nanang Prianto, media officer Persebaya. ’’Tapi, kembali lagi, sanksi kan jadi domainnya PSSI. Kami tunggu saja pekan depan,’’ ujarnya.

Karena itu, Nanang tak mau berpikir terlalu jauh soal ancaman sanksi. ’’Kami nggak berani berandai-andai. Nanti kami tunggu sidang komdis saja,’’ tegasnya.

Di sisi lain, tiga kekalahan membuat Pikal makin tertekan. Sebab, menilik musim lalu, Angel Alfredo Vera pernah mengalami situasi serupa. Di bawah arahannya, Green Force kalah tiga kali secara beruntun. Pelatih asal Argentina itu pun kemudian dipecat.

PSS Sleman

Lalu, bagaimana dengan Pikal? Padahal, jika dirunut, sudah enam laga Green Force puasa kemenangan. Artinya, performa Persebaya di bawah Pikal lebih buruk ketimbang Alfredo.

Sayang, Pikal tak hadir dalam sesi konferensi pers setelah laga kemarin sore. Mereka meninggalkan Stadion GBT lebih cepat lantaran situasi tengah tidak kondusif.

Nah, soal nasib Pikal, Nanang tak mau berbicara terlalu banyak. Sebab, dia merasa itu bukan ranahnya. ’’Saya sebagai media officer kan nggak bisa melakukan evaluasi. Kami tunggu nanti saja lah,’’ katanya.

Di sisi lain, pelatih PSS Sleman Seto Nurdiantoro berharap Persebaya lekas bangkit. Apalagi, hubungan kedua suporter cukup harmonis. Seto tak ingin Persebaya terpuruk terlalu lama.

Bek PSS Asyraq Gufron senada dengan sang pelatih. Pemain 23 tahun itu berharap Persebaya bisa segera meraih kemenangan. Apalagi, Gufron adalah pemain asli Suroboyo. ’’Rasanya campur aduk,’’ ungkapnya sembari meneteskan air mata.

Seto menambahkan, Gufron memang cinta Persebaya. ’’Tapi, dia tetap pemain profesional di lapangan,’’ ujarnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus/nia/fim/bas

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads