JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kawan, Sepak Bola Itu Membahagiakan

Oleh Miftakhul F.S., Wartawan Jawa Pos

26 September 2018, 11:10:59 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kawan, Sepak Bola Itu Membahagiakan
Suporter Indonesia turut berduka atas kematian yang menimpa Haringga Sirila, anggota The Jakmania. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Sampai kapan rivalitas dimaknai dengan saling menghilangkan nyawa? Bukankah kita ke stadion untuk menikmati sepak bola? Untuk merayakan sepak bola.

Untuk bersenang-senang dan meneguk kebahagiaan. Bukan untuk menjemput kematian.

Tapi, kematian suporter di sepak bola Indonesia masih saja terjadi. Dan atas apa yang terjadi di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Minggu siang itu (23/9): Bobotoh salah, Jakmania salah, dan kita semua juga salah.

Kawan, Sepak Bola Itu Membahagiakan
Haringga semasa hidup (Repro: Gobang Mahardika/JawaPos.com)

Hilangnya nyawa Haringga Sirila, suporter Persija Jakarta, setelah dikeroyok suporter Persib Bandung di GBLA bukan semata tentang Bobotoh dan Jakmania. Tapi juga tentang kita semua. Tentang negara bersama alat kelengkapannya -pemerintah daerah dan kepolisian di antaranya- yang tak pernah hadir di tengah-tengah suporter. Tak pernah melihat suporter secara utuh. Suporter hanya dilihat sebagai sekumpulan pencinta dan pendukung kesebelasan sepak bola.

Negara dan alat kelengkapannya pun hanya bertindak setelah ada kejadian. Upaya preventif secara kontinu tak pernah dijalankan. Padahal, pemerintah daerah dan kepolisian punya perangkat untuk itu. Suporter hanya mereka lihat ketika ada pertandingan: menjelang atau pas hari pertandingan. Selebihnya, mereka tak diacuhkan. Padahal, permasalahan antarsuporter tidak hanya terjadi ketika ada pertandingan. Tapi berlangsung sehari-hari dan begitu dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sekolah dan lembaga pendidikan juga terlalu sibuk dengan angka-angka. Alpa untuk menguatkan karakter peserta didiknya -yang di dalamnya ada banyak suporter sepak bola di sana.

Masyarakat bersama tokoh-tokohnya pun lalai dengan keberadaan anak-anaknya. Mereka seakan membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan sendirinya. Tanpa ada proses komunikasi yang intensif dan hangat.

PSSI pun tak pernah serius menyentuh suporter. Nyaris tak ada komunikasi intensif dan apalagi edukasi. PSSI dan juga manajemen kesebelasan sepak bola sering kali hanya menempatkan suporter sebagai objek. Hanya menjadikannya bahan eksploitasi ekonomi dan politik.

PSSI juga tak serius membuat prosedur tetap (protap) penyelenggaraan pertandingan yang bisa membuat nyaman siapa saja yang datang ke stadion. Kalaupun ada, itu seakan seadanya. Itu pun tidak dijalankan secara ketat dan tegas.

Dan tewasnya Haringga, juga sederet nama lainnya, tak terlepas dari kesalahan-kesalahan itu. Maka, ketika kita semua menginginkan tak ada lagi kematian sia-sia di sepak bola Indonesia, kesalahan-kesalahan itu harus dibenahi.

Dan ketika kesalahan-kesalahan itu dibenahi atau sekalipun tak pernah diperbaiki, semua tetap berpulang kepada suporter. Merekalah yang memegang peran penting berakhirnya peristiwa-peristiwa berdarah di sepak bola. Sebab, peristiwa itu dekat sekaligus melekat dengan mereka. Dan pilihannya adalah kita semua, suporter di Indonesia, harus menepikan egonya. Berkomitmen bersama-sama yang benar-benar dijalankan semuanya untuk tidak saling menghilangkan nyawa. Komitmen yang bukan saja di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Bukan hanya untuk hari ini. Atau sepekan ke depan. Tapi selamanya.

Sebab, suporter Indonesia, seperti umumnya bangsa ini, sering menjadi pelupa. Ketika terjadi kematian suporter, semua merasa berduka. Semua menegaskan, peristiwa itu harus menjadi yang terakhir. Tapi, komitmen tersebut tak pernah benar-benar dijalankan.

Kematian Ricko -Bobotoh yang jadi korban salah sasaran di laga Persib melawan Persija di GBLA setahun lalu- menjadi contoh terangnya. Sesaat setelah kematian Ricko, semua menyatakan dukacita. Menegaskan untuk menjadikan tragedi itu sebagai yang terakhir. Bobotoh dan Jakmania berangkulan. Di mana-mana.

Namun, kehangatan tersebut tak bertahan lama. Tiga atau empat bulan setelah kematian Ricko, suporter Persib dan Persija tersebut kembali saling melempar caci maki. Kebencian itu menemukan titik puncaknya dengan hilangnya nyawa Haringga.

Karena itu, jika memang semua berkomitmen tak ada lagi korban setelah Haringga, kepergian Haringga harus menjadi titik balik. Tak perlu lagi ada yang sok jagoan. Tak perlu lagi ada yang bertindak konyol pergi ke stadion rival jika memang sudah diimbau untuk tidak datang. Toh, pergi ke stadion rival pun, kita juga tidak bisa mendukung kesebelasan kesayangan. Atau paling banter hanya untuk bergaya di media sosial.

Sekali lagi, jika ini harus diakhiri, semua suporter harus menepikan ego. Tak lagi memelihara dan menyuburkan kebencian. Pentolan-pentolan, dan dirigen suporter harus tampil di depan untuk itu. Mereka harus menjadi contoh. Harus berani mengingatkan dan menegur jika ada anggota dalam kelompok suporternya yang melenceng.

Dan komitmen untuk menepikan ego itu bisa dimulai dari jari kita. Di mana kita tidak lagi asal menulis komentar di dunia maya. Dimulai dari nyanyian kita. Di mana dirigen dan pentolan suporter harus menghentikan nyanyian-nyanyian kebencian yang selama ini dilantangkan di tribun.

Ingat kawan, sepak bola itu membahagiakan. Kekerasan, juga kebencian, hanya akan menjauhkan kita dari kenikmatan-kenikmatan sepak bola. (*)

(*)

Alur Cerita Berita

Kawan, Sepak Bola Itu Membahagiakan 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Persib dan Persija Harus Dihukum Tegas 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Fanatisme Berujung Maut Bagi Haringga 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Polisi Ringkus Oknum Bobotoh Pengeroyok Haringga 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Dirut Persija: Kok Main Bunuh? Ini Negara Hukum! 26 September 2018, 11:10:59 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up