JawaPos Radar

Cerita Indra Kahfi dan Andritany, Sekamar Sekaligus Berbagi Pakaian

26/08/2016, 20:20 WIB | Editor: fimjepe
Cerita Indra Kahfi dan Andritany, Sekamar Sekaligus Berbagi Pakaian
Saudara kandung, Indra Kahfi Ardhiyasa dan Andritany Ardhiyasa yang sama-sama dipanggil seleksi Timnas Indonesia. (Sidik Tualeka/Jawa Pos)
Share this

Sejak Boaz Solossa dan Ortizan Solossa di Pra-Piala Dunia 2006, tidak ada lagi pemain bersaudara di timnas Indonesia. Asa itu kini dimiliki Indra Kahfi Ardhiyasa dan Andritany Ardhiyasa yang berjuang merebut tempat untuk Piala AFF 2016.

 

SIDIK MAULANA TUALEKA, Jakarta

 

PADA suatu sore, lima tahun lalu, Indra begitu serius memelototi layar kaca yang menayangkan pertandingan uji coba timnas U-23 melawan timnas senior di Stadion Manahan, Solo. Perhatiannya dalam laga yang berakhir 1-1 itu pun lebih tertuju kepada sosok di bawah mistar gawang timnas U-23. Sosok tersebut adalah sang adik, Andritany.

Ada perasaan bangga sekaligus iri yang dirasakan Indra saat itu. Bangga, tentu saja, karena adiknya untuk kali pertama dipercaya membela timnas U-23. ’’Saya memang iri, tapi lebih untuk memotivasi saya supaya bisa berkostum timnas. Masak adiknya (Andritany, Red) bisa, kakaknya tidak bisa,’’ kata Indra menceritakan kenangan pada Agustus 2011 itu.

Waktu terus berputar dan tahun berganti. Cita-cita besar Indra pun selangkah lagi bisa terwujud. Itu terjadi setelah bek Bhayangkara Surabaya United (BSU) tersebut dipanggil pelatih timnas senior Alfred Riedl untuk mengikuti seleksi skuad proyeksi Piala AFF 2016.

Riedl memanggil pemain berusia 29 tahun itu setelah BSU menghadapi Semen Padang di pekan ke-15 Indonesia Soccer Championship (ISC) pada 12 Agustus lalu. Pelatih berkebangsaan Austria tersebut meminta Indra langsung terbang dari Padang ke Jakarta.

Untuk memilih 23 pemain utama yang dibawa ke Piala AFF di Myanmar dan Filipina pada 19 November–17 Desember, Riedl memanggil 47 pemain. Mereka pun mengikuti seleksi dalam dua gelombang di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. Gelombang pertama berlangsung pada 9–11 Agustus, sedangkan gelombang kedua pada 16–17 Agustus.

Indra awalnya tidak begitu yakin dengan panggilan Riedl. Selain saingannya lebih berpengalaman, kansnya berat lantaran ada kebijakan pembatasan dua pemain untuk setiap klub. Padahal, selain Indra, ada empat pemain BSU lagi yang dipanggil. Yakni, Evan Dimas, Hargianto, Zulfiandi, dan Putu Gede Juni Antara.

Namun, kesempatan membela timnas tak ingin disia-siakan Indra. Walhasil, suami Fraya Shena Sadewi sekaligus ayah Alisyah Azaleha, 3, itu bergegas menuju Jakarta hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Kebetulan, Andritany yang membela Persija Jakarta dipanggil Riedl untuk ikut seleksi pada waktu bersamaan. Kebetulan pula, setiba di hotel, Indra dan Andritany ditempatkan di kamar yang sama. Dengan begitu, Indra bisa berbagi baju dengan sang adik yang berusia lima tahun lebih muda tersebut.

’’Kalau saya dan Andri (sapaan akrab Andritany, Red) bisa sama-sama lolos (ke timnas Piala AFF, Red), mungkin itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga,’’ ujar Indra yang menjadi anggota kepolisian sejak 2004. ’’Terutama bagi ayah yang mendukung kami bermain bola sejak kecil. Sungguh, dia akan senang dengan capaian kami sekarang,’’ imbuh mantan pemain Deltras Sidoarjo tersebut.

Talih Ardhiyasa, ayah Indra dan Andritany, memang terobsesi menjadikan dua putranya pesepak bola hebat. Tanah kosong yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka di Ciganjur, Jakarta Selatan, pun menjadi tempat Talih menempa Indra dan Andritany dengan si kulit bundar.

 Boleh dibilang, Talih adalah pelatih pertama untuk Indra dan Andri sebelum mereka masuk SSB Jayakarta pada awal 1999. Di Jayakarta, Indra bertahan lama sampai akhirnya direkrut Persikota Tangerang pada 2010. Di sisi lain, Andritany menyeberang ke Akademi Sepak Bola Intinusa Olah Prima (ASIOP).

Keputusan Andritany bergabung dengan ASIOP sangat tepat. Sebab, di sana, bakatnya sebagai penjaga gawang terasah. Bakatnya pun dilirik timnas U-14 pada 2003. Sejak saat itu, Andritany menjadi pilihan utama di timnas junior, yakni timnas U-15 dan U-17 (2005), timnas U-18 (2008), dan timnas U-23 yang meraih medali perak pada SEA Games 2011.

Pada 2014, kiper pengidola Fabian Barthez itu mulai menembus timnas senior di laga terakhir kualifikasi Piala Asia 2015. Walhasil, Andritany tidak begitu kaget saat Riedl memberikan kesempatan kepadanya ikut dalam seleksi timnas Piala AFF. ’’Yang kaget saat tahu Indra juga dipanggil. Saya ikut senang dan bangga bisa bersamanya meski ini baru tahap seleksi,’’ ujar pemilik satu caps tersebut.

Andritany pun teringat saat dirinya dan Indra bermain sepak bola bersama di dalam rumah saat kecil. Hampir setiap hari mereka melakukannya. ’’Namanya masih anak kecil, saat itu kami main-main pakai bola tenis. Sedangkan gawangnya dari kursi kayu meja makan,’’ jelasnya. ’’Saat kecil, tidak ada di antara kami yang ingin menjadi kiper atau pemain bertahan. Nggak tahunya sekarang kejadian,’’ imbuhnya.

Sementara itu, asisten pelatih timnas senior Wolfgang Pikal menyatakan bahwa Indra dan Andritany dipanggil ke timnas berkat penampilan moncer selama TSC. ’’Awalnya pun saya dan Riedl tidak tahu bahwa mereka adalah kakak beradik,’’ ujarnya. (*/c19/dns)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up