alexametrics

Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya

Oleh Eka Kurniawan, Sastrawan*
25 September 2018, 13:06:07 WIB

JawaPos.com – Ada apa di balik kebrutalan suporter Persib Bandung yang mengeroyok hingga mati seorang suporter Persija Jakarta bernama Haringga Sirila? Pertama, jelas itu kasus pembunuhan dan harus ditangani sebagai kasus kriminal berat.

Kedua, yang membuatnya berbeda dengan kasus pembunuhan umumnya, meskipun pembunuhan tetaplah pembunuhan, ada unsur tribalisme yang menyedihkan di sini. Dan jelas penanganannya tak bisa dilepaskan dari pokok penting tersebut.

Sepak bola modern memang merupakan wujud baru dari tribalisme. Dengan kultus nyaris buta kepada klub dengan segala ritual pemujaannya. Jika sepak bola merupakan agama, stadion sebagai altar tempat pemujaan, klub sepak bola merupakan ordo-ordo di mana orang mengelompokkan diri dalam sejenis kesukuan.

Sialnya, klub sepak bola kemudian tak hanya menjadi bagian dari ekosistem sepak bola itu sendiri. Ordo bagi satu agama, tapi merembet menjadi identitas bahkan di luar persepakbolaan. Terutama ketika pranata sosial tradisional mulai hancur perlahan-lahan.

Tengok misalnya Jakmania dan Persija. Orang akan berpikir bahwa Persija merupakan klub sepak bola Jakarta, maka suporternya yang sebagian bergabung atau menggabungkan diri menjadi Jakmania dibayangkan sebagai orang Jakarta pula. Kenyataannya tidak begitu.

Di pinggiran, di wilayah-wilayah yang secara administrasi masuk ke Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Karawang, dengan mudah kita akan menemukan kantong-kantong suporter Jakmania. Siapa mereka? Bisa jadi mereka memang orang-orang Jakarta yang tergusur pembangunan dan harus menetap di luar wilayah Jakarta. Hal itu saya yakin juga berlaku untuk klub sepak bola lain dan suporternya, bahkan termasuk klub sepak bola mancanegara.

Problem terbesar mengapa kasus kebrutalan suporter ini terus-menerus terjadi saya pikir terletak dalam keengganan mengelola unsur tribalisme itu secara menyeluruh. Kita tahu kebrutalan suporter hingga menewaskan sesama suporter bukan kali ini saja terjadi.

Jika harus menyebut, sekelompok suporter Persija juga pernah melakukannya. Tapi, tentu saja itu tak bisa dijadikan pembenaran atas kasus yang baru terjadi. Pertanyaan pentingnya, mengapa itu terus terjadi dan apa upaya radikal untuk menghentikan kebrutalan tersebut?

Pada dasarnya, naluri tribalisme dalam sepak bola modern sudah banyak diketahui dan bahkan dengan jitu dimanfaatkan. Kelangsungan sepak bola modern sebagai industri rasanya tak akan sebesar ini tanpa kesadaran akan adanya sentimen kesukuan itu.

Ikatan yang kuat antara suporter dan klub mereka tak hanya memastikan stadion dipenuhi umat pemuja. Tapi juga menjamin penjualan merchandise dan menjadi alasan kuat untuk menarik sponsor.

Dalam sepak bola Indonesia, ikatan-ikatan primordial baru ini bahkan sering kali dianggap sebagai pintu masuk untuk memperoleh dukungan politik. Tak mengherankan jika kepala daerah atau politikus lokal merasa harus mengidentifikasikan diri dengan klub setempat. Bahkan, ketua umum PSSI tak mau meletakkan jabatannya meskipun telah terpilih sebagai gubernur.

Industri sepak bola mengeksploitasi sentimen tribalisme ini untuk tujuan-tujuan ekonomi dan politik, tapi gagal mengelola aspek-aspek primitifnya. Kegagalan itulah yang selalu membawa banyak masalah, dari sekadar vandalisme fasilitas stadion, kerusuhan di lapangan, hingga tawuran dan pengeroyokan yang mengakibatkan kematian.

Untuk memahami selintas kecenderungan tribalisme itu, kita bisa menengok sejenak ke sebuah novel penting yang banyak menjadi rujukan, bahkan oleh para ilmuwan. Novel tersebut memang tak memiliki hubungan dengan sepak bola, tapi barangkali bisa membuat kita paham mengenai perilaku suporter. Novel itu berjudul Lord of the Flies, karya William Golding.

Secara singkat novel tersebut berkisah tentang sekelompok anak yang terdampar di sebuah pulau setelah pesawat mereka jatuh. Terisolasi dari mana-mana, mereka secara alamiah membentuk kelompok, kemudian suku. Ada hasrat untuk mengatur diri sendiri, hasrat untuk berkuasa. Pada saat yang sama, juga timbul persaingan, rasa cemas akan ditinggalkan, di mana aspek-aspek negatif itu akan berakhir menjadi semua memangsa semua.

Suporter sepak bola bisa dilihat dari kacamata itu juga. Ada hasrat untuk mengelompokkan diri, tentu terpusat pada satu klub. Di dalam kelompok akan tercipta suatu persaingan antara kelompok-kelompok kecil, siapa lebih berkuasa atas yang lain.

Dan pada saat yang sama, jangan lupa keberadaan kelompok lain. Sementara klub mereka bersaing dalam kompetisi yang resmi, kelompok suporter dengan beragam masalah mereka juga berkompetisi satu sama lain, kali ini tanpa wadah yang jelas.

Sifat tribalisme itu seharusnya bisa dikelola dengan memberikan ruang bagi kelompok-kelompok suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas persepakbolaan. Suporter seharusnya menjadi bagian dari klub sehingga ambisi tribalisme bisa disalurkan ke lapangan. Ke dalam pertandingan, melalui klub.

Lihat bagaimana sikap PSSI, otoritas tertinggi sepak bola Indonesia, atas kasus ini. Mereka hanya menyampaikan belasungkawa, menyerahkan tragedi itu kepada kepolisian. Seolah PSSI tak punya wewenang apa pun. Padahal jelas, PSSI memiliki otoritas, tapi enggan mempergunakannya.

Otoritas sepak bola seharusnya punya nyali untuk bertindak, misalnya mendiskualifikasi atau menghukum Persib tidak bertanding selama sekian tahun. Menghukum Persib hanya bertanding tanpa penonton menunjukkan sikap lembek. Mendidik klub untuk tak pernah bertanggung jawab dan merasa tak perlu mengelola suporternya.

Jika suporter bisa kita anggap rakyat, jelas ada keengganan para pemegang otoritas, elite sepak bola, untuk berbagi kuasa dengan mereka. Kematian Haringga bukan hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga wujud nyata bahwa suporter hanya dianggap ada untuk dieksploitasi secara ekonomi dan politik. Nyawa mereka hanya berharga beberapa pertandingan tanpa penjualan tiket. Itu membuat tragedi ini lebih memilukan. 

*) Sastrawan, Pemerhati Sepak Bola

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya