alexametrics
Perangi Mafia Bola

Polri Kembali Bergerak dengan Satgas Antimafia Bola Jilid III

25 Januari 2020, 08:00:34 WIB

JawaPos.com – Masa kerja Satgas Antimafia Bola jilid II memang sudah berakhir. Satgas yang dibentuk Polri pada Agustus tahun lalu itu telah menuntaskan tugas pada akhir Desember 2019. Meski tidak segarang jilid pertama, satgas yang masih dipimpin Brigjen Pol Hendro Pandowo tersebut berhasil mengungkap satu kasus pengaturan skor di Liga 3.

Yakni, pertandingan antara Persikasi Bekasi melawan Perses Sumedang di Liga 3. Enam orang ditetapkan sebagai tersangka. Pada 16 Januari sudah ditetapkan P-21 dan tiga hari kemudian para tersangka serta barang bukti diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Sumedang.

Tetapi, masih ada PR besar bagi Satgas Antimafia Bola. Terutama untuk jilid pertama. Sebab, sampai saat ini, kasus pengaturan skor yang melibatkan petinggi PSMP Mojokerto Putra belum selesai. Hendro yang ditanya Jawa Pos kemarin (24/1) membenarkan hal tersebut.

Dia menuturkan, ada dua kasus yang belum diselesaikan Satgas Antimafia Bola jilid pertama. Yakni, untuk tersangka Vigit dan Hidayat. Untuk Vigit, namanya disebut-sebut oleh Dwi Irianto, mantan anggota Komisi Disiplin PSSI. Mbah Putih –sapaan Dwi– menyatakan menerima uang Rp 115 juta dari Vigit untuk meloloskan PSMP dari Liga 3 ke Liga 2. Mbah Putih sudah dihukum di Kejaksaan Tinggi karena terbukti melakukan pengaturan skor berdasar laporan Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indriyani.

Vigit juga dijerat atas tuduhan pengaturan skor gol penalti gaib yang dilakukan pemain PSMP Krisna Adi pada babak 8 besar Liga 2 2018. Yakni, ketika melawan Aceh United. Saat itu PSMP sengaja tidak serius melakukan eksekusi penalti untuk meloloskan tim lain menuju semifinal. Vigit dianggap menjadi sosok pengatur di dalamnya.

Hendro mengatakan, untuk kasus Vigit, berkasnya sudah diserahkan kepada jaksa penuntut umum. ’’Tapi, masih ada beberapa hal yang harus dipenuhi, baik alat bukti maupun saksi,’’ katanya. Nah, untuk kasus Hidayat yang terlibat pengaturan skor di laga PSS Sleman melawan Madura United, mantan Kapolrestabes Bandung tersebut menuturkan bahwa pihaknya terpaksa menutup kasus itu. Alasannya, tersangka sudah meninggal. ’’November, tersangka meninggal. Akhirnya kami hentikan penyelidikan pada 23 Desember, sudah sampai SP3,’’ jelasnya.

Pria 51 tahun itu mengungkapkan, dengan kehadiran Satgas Antimafia Bola jilid I dan II, seharusnya tidak ada lagi pengaturan skor di sepak bola Indonesia. Dia juga sudah melaporkan hal tersebut kepada Kapolri bahwa masa kerja Satgas Antimafia Bola jilid II sudah selesai. ’’Beliau lalu memerintahkan kami meneruskan tugas Satgas Antimafia Bola ke jilid III,’’ ucapnya.

Karena itu, saat ini pihaknya masih berkoordinasi untuk melakukan persiapan. Timnya juga sudah melakukan rapat koordinasi pembentukan Satgas Antimafia Bola jilid 3. ’’Rencana sudah kami susun. Kemudian, surat tugas Kapolri kami susun juga. Tentu akan segera kami selesaikan untuk memenuhi harapan masyarakat membersihkan sepak bola Indonesia. Mohon dukungannya,’’ tuturnya.

Ketua Umum PSSI Moch. Iriawan menyambut positif rencana dibentuknya Satgas Antimafia Bola jilid III. ’’Pak Menpora (Zainuddin Amali) juga meminta satgas dibentuk terus,’’ ungkapnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : rid/bas

Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads