alexametrics

Wow Menyenangkannya, Azrul Ananda Mulai Bicara soal Persebaya Juara

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
24 Desember 2019, 07:00:01 WIB

JawaPos.com – Saya yakin, ada pro kontra terkait tulisan tergres Presiden Persebaya Azrul Ananda berjudul ”Kita Punya Problem Home” di situs resmi klub. Saya tidak sedang membahas pro kontra itu. Silakan, itu milik pembaca sekalian. Saya tertarik kepada kepada lima kata dari total 666 kata yang tertulis dari judul hingga isi.

Ya, lima kata itu adalah: JUARA. Plus satu kata ”People’s Champion.” Kata-kata itulah yang dirindukan Bonek. Sejak dipegang Azrul Ananda, Persebaya memang pernah juara, di Liga 2. Namun, dengan sejarah panjang dan reputasi hebat klub ini, target juara memang selalu ingin didengar pendukungnya.

Selama ini, kita mungkin lebih sering mendengar kata sustainable. Dan narasi-narasi masa depan yang belum mengerucut pada satu kata: JUARA. Lalu, tulisan yang tayang 23 Desember 2019 itu meluncurkan lima kata ”JUARA.” Sudah saya fokus pada itu saja, yang lainnya silakan Bonek atau pembaca sekalian menginterpretasi.

Kalau pada musim pertama menangani Persebaya, tentu saja targetnya saat itu sederhana: kalau bisa promosi. Itu tercapai. Bahkan, bonusnya juara Liga 2. Setelah naik ke level teratas, manajemen Persebaya terus menjaga ekspektasi. Merawatnya agar tak berlebihan. Harus pas takarannya.

Saya setuju dengan itu. Meski punya nama besar. Enam kali jadi juara. Tapi, namanya tertidur lama, banyak otot-otot yang belum pulih. Tak heran, publik sepak bola Surabaya lebih sering mendengar kata-kata sustainable ketimbang juara atau mengejar gelar.

Bicara soal menjaga ekspektasi. Ini bukan sesuatu yang baru bagi saya setidaknya. Saya sudah memilih, memilah, dan mengedit berita terkait Persebaya sejak masih bersama dalam satu payung dengan Jawa Pos pada musim pertama, hingga kemudian berpisah jalan.

Sejak setiap judul dan konten masih dalam pengawasan langsung dari Aza –begitu kode wartawan Azrul selama di Jawa Pos–, hingga kemudian setiap judul dan konten murni berada di tangan redaktur. Dinamikanya berbeda-beda, tapi narasi yang dibangun tak beda jauh.

Presiden Persebaya ini sangat perhatian urusan menjaga ekspektasi. Tidak boleh berlebihan dan tak juga kurang. Bisa saja, persektif saya dibantah, tapi itulah yang saya rasakan terkait narasi Persebaya akan prestasinya di lapangan. Baik untuk hitungan semusim atau hanya pertandingan tertentu.

Karena itu, saya antusias dan terasa menyenangkan ketika Azrul Ananda mulai berbicara narasi juara. Bukan lagi narasi sustainable. Ini sesuatu yang layak dirayakan. Ini sesuatu yang layak ditunggu setiap langkahnya. Dan, urusan isu lain yang diulas dalam tulisan terbarunya, saya enggan ikut dalam arus pro kontra.

Bicara juara. Kalau ada yang bilang Bali United juara settingan. Bagi saya, memang iya. Manajemen Bali United memang telah membuat setting-an yang presisi agar mereka bisa prestasi di akhir musim. Penunjukan pelatih yang tepat, memilih skuad yang lengkap, dan memulai dengan kaki yang pas di awal kompetisi.

Hanya sedikit di dunia ini, tim yang juara secara kebetulan atau mengejutkan dalam sebuah kompetisi. Saya bicara soal kompetisi yang sehat. Artinya, saya malas bahas kompetisi dua musim sebelumnya di tanah air. Yang saya maksud, tim paling mengejutkan di level elite Eropa yang juara, kali terakhir Leicester City.

Manchester City juara, karena memang disiapkan untuk juara. Targetnya juga juara. Juventus juga begitu. Real Madrid atau Barcelona tak jauh beda. Poin yang ingin saya ungkapkan adalah, apabila ingin juara, maka persiapkan diri untuk menjadi juara. Langkah pertama, berani bicara soal juara.

Ketika pelatih Aji Santoso mengatakan soal target lebih tinggi pada musim depan, saya sudah melihat sinyal positif. ”Kalau misalnya musim ini finis di peringkat ketiga (pada akhirnya finis runner-up, Red), ya setidaknya musim depan kalau bisa juara atau runner-up,” kata Aji setelah laga melawan Perseru Badak Lampung (21/12).

Saat itu, di JawaPos.com, saya memasang judul berita ”Aji Santoso: Musim Depan Kalau Bisa Persebaya Juara atau Runner-up.” Kepada seorang rekan sesama jurnalis saya katakan, andaikan judulnya ”Azrul Ananda: Musim Depan Kalau Bisa Persebaya Juara.” Sungguh judul yang menyenangkan banyak orang.

Saya pikir, saya tidak pantas menjelaskan bagaimana cara agar Persebaya juara. Manajemen klub lah yang lebih paham modal, kekuatan, dan dinamika yang mereka hadapi. Setelah musim lalu finis di lima besar dan musim ini runner-up, maka juara Liga 1 adalah narasi yang mau tidak mau harus dikobarkan.

Apakah pada akhir musim nanti juara atau tidak, hanya Tuhan yang tahu. Mungkin kalau di Indonesia, hanya Tuhan dan akun Twitter Mafia Wasit lah. Hahaha.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads