alexametrics

Kisah Mufida Rizqiyani Husna, Dokter Perempuan di PSIS Semarang

23 Juni 2022, 18:43:27 WIB

JawaPos.com-PSIS Semarang tidak hanya merekrut pemain-pemain baru. Manajemen tim berjuluk Mahesa Jenar itu juga belum lama ini mendatangkan dokter tim anyar. Perempuan. Mufida Rizqiyani Husna.

—-

Mufida Rizqiyani Husna langsung berdiri ketika melihat Rachmad Hidayat terjatuh kesakitan setelah mencetak gol keenam PSIS Semarang atas Persita Tangerang pada 13 Juni lalu.

Bersama fisioterapis Mahesa Jenar Sigit Pramudya, dia sudah bersiap di pinggir lapangan. Menunggu instruksi wasit agar dirinya masuk untuk menolong Rachmad yang kesakitan.

Setelah wasit memberikan kode agar masuk ke lapangan, dengan cekatan Mufida berlari menuju eks pemain PSMS Medan tersebut. Seketika juga, suara siulan dan sorakan dari penonton di tribun tertuju kepadanya.

Dia tidak menanggapi. Tetap fokus memeriksa kondisi Rachmad yang butuh pertolongan.

Dengan telaten, Mufida memeriksa bagian tubuh Rachmad yang sakit. Dia ingin memastikan bahwa sang pemain baik-baik saja. ’’Oke tidak apa-apa,’’ katanya sambil memberikan kode kepada pelatih PSIS Sergio Alexandre yang memang menunggu kabar kondisi Rachmad.

Mufida adalah dokter tim baru dari PSIS. Dia baru bergabung dengan klub berkostum biru tersebut musim ini. ’’Jujur tidak pernah kepikiran bisa kerja di tim sepak bola seperti PSIS,’’ tuturnya ketika ditanya Jawa Pos.

Perempuan yang akrab disapa Pipit itu mengaku awalnya hanya melamar ke PSIS ketika tahu ada lowongan dokter tim. Kebetulan, skripsinya di Universitas Muhammadiyah Purwokerto adalah soal cedera atlet. ’’Saat itu saya membahas soal atlet-atlet porprov,’’ ungkapnya.

Pipit tidak menyangka bisa langsung diterima. Bahkan, layaknya pemain baru PSIS, dia diperkenalkan secara resmi di Instagram PSIS. Setelah itu, followers-nya pun bertambah drastis. ’’Sempat kaget sih, tapi sekarang ya sudah biasa,’’ jelasnya, lantas tersenyum.

Perempuan kelahiran 25 Oktober 1996 itu mengaku menikmati pekerjaannya saat ini. Dia menganggap menjadi dokter tim memberikan pengalaman luar biasa dalam kariernya. ’’Saya tidak menyangka sih bisa seseru ini,’’ ujarnya.

Pipit mengaku tidak sulit beradaptasi. Sebab, pemain, staf pelatih, hingga ofisial tim menerimanya dengan baik. ’’Mereka baik sekali, sopan ke saya. Saya jadi nyaman,’’ tuturnya.

Malah, perempuan asal Klaten itu bak sosok adik yang dilindungi para pemain. Diperhatikan. Dijaga betul agar tidak ada yang mengganggu pekerjaannya. Salah satunya ketika PSIS bertanding melawan Dewa United Jumat (17/6) lalu.

Pipit yang sakit perut karena menstruasi diminta beristirahat saja di ruang ganti oleh pemain. Pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Manahan, Solo, itu juga diguyur hujan deras sehingga pemain khawatir dengan kondisinya.

’’Katanya tidak apa-apa dok, istirahat dulu. Kami aman-aman saja, nanti kalau ada yang penting pasti panggil dokter,’’ ucapnya.

Ya, sepanjang babak pertama, Pipit memang tidak terlihat berada di bench PSIS. Hanya fisioterapis tim Sigit yang ada di sana dan siap membantu pemain yang cedera. ’’Tapi, ketika babak kedua, sakit perutnya sedikit enakan, saya keluar ikut membantu,’’ paparnya.

Selain itu, saat melakoni latihan rutin, pemain PSIS tidak manja. Malah, sering memintanya berteduh saja jika latihan dilangsungkan di pagi hingga siang hari dengan cuaca terik. ’’Kekeluargaan seperti ini yang membuat saya sangat menikmati jadi dokter di PSIS,’’ tegasnya.

Nah, soal catcalling yang sering diterimanya ketika bertanding bersama PSIS, Pipit merasa biasa saja. Justru, dia sempat kaget ketika pertandingan melawan Persita. Namanya ramai di media sosial karena mendapat

dari suporter. ’’Saya sendiri tidak ngeh soal itu,’’ bebernya.

Sebab, dia hanya fokus bekerja ketika di lapangan. Tidak mau memperhatikan hal lain. ’’Jadi, saya tidak mendengar kanan kiri. Saya fokus kondisi pemain di lapangan,’’ ucapnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : rid/c17/ali

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads