alexametrics
Aktivitas Pemain Bola saat Pandemi Korona

Bermodal Awal Rp 2,5 Juta, Kerupuk Jossa Andika Banyak Peminat

23 Mei 2020, 17:31:39 WIB

JawaPos.com – Jossa Andika Dwi Pratama tidak menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat dalam satu bulan terakhir. Rencana kontraknya di Persebaya Surabaya U-20 terpaksa ditunda gara-gara pandemi korona. Tanpa penghasilan, pemain asal Sidoarjo itu banting setir dengan merintis usaha berjualan kerupuk.

Baru saja bersantap sahur dan salat Subuh, Jossa tidak bisa beristirahat seperti anak muda lain seusianya. Dia harus menyiapkan pesanan kerupuk rambak yang satu bulan terakhir digelutinya. Beberapa bal kerupuk disiapkannya untuk diantar kepada para pembeli.

Capek? Jelas. Apalagi, malam hari sebelumnya, Jossa baru saja melakukan latihan mandiri untuk menjaga kondisi fisik sebagai pesepak bola. Tapi, dia tidak bisa mengeluh. Rasa lelah itu harus dilawannya. Jika tidak, seharian tidak akan ada uang di kantongnya.

Ya, pandemi korona memang berdampak besar bagi kehidupannya saat ini. Sebelum ada korona, sehari-hari aktivitasnya selalu soal sepak bola. Latihan, latihan, dan latihan. Apalagi, Jossa merupakan salah satu bintang di Elite Pro Academy Liga 1 2019 lalu bersama Persebaya U-18.

Persiapan panjang agar bisa diterima lagi di Persebaya U-20 sudah dilakukannya. Kontrak baru hampir digenggamnya. ’’Ya, gara-gara korona ini, kontrak itu ditunda dulu. Tidak tahu sampai kapan,’’ katanya pasrah.

Padahal, dikontrak Persebaya U-20 adalah harapan untuk mendapat penghasilan sendiri. Sekaligus menjadi langkah penting untuk menjadi pesepak bola profesional.

Anak kedua dari dua bersaudara tersebut sempat stres. Tidak ada sepak bola berarti tidak ada income. Meski sang ayah masih bekerja sebagai PNS, Jossa sudah berjanji ’’haram’’ baginya meminta uang ke sang ayah sejak lulus SMA pada 2018 lalu. Dia ingin membuktikan bisa hidup dari sepak bola.

Tak mau terus mengutuk keadaan karena pandemi korona, Jossa mencoba bangkit. Bisnis kecil-kecilan pun dibangunnya. ’’Saya akhirnya milih jualan kerupuk rambak aneka rasa. Kakak punya link ke penjual besarnya. Saya akhirnya serahin modal Rp 2,5 juta untuk memulai usaha,’’ tuturnya.

Tak mudah, ada jatuh bangun ketika memulai usaha. Hinaan pun tak jarang mampir ke telinganya dari kawan-kawan sejawat. ’’Ada yang bilang, ’Jossa pemain Persebaya, kok jualan kerupuk’. Sakit hati. Tapi saya jawab, ’Kalau tidak jualan kerupuk, saya tidak makan’,’’ kenangnya.

Instagram pribadi pun dijadikan sarana untuk promosi. Beruntung, namanya sudah banyak dikenal Bonek dan netizen di media sosial. Kurang lebih ada 4 ribuan followers di IG pribadinya. ’’Saya juga sudah bikin IG sendiri untuk jualan kerupuk. Ya promo-promo lewat IG pribadi,’’ tuturnya.

Beruntung, Jossa punya beberapa rekan di luar sepak bola. Ada satu rekannya seorang penyanyi yang punya basis fans besar di Instagram. Pria yang sempat berguru ke Australia bersama Persebaya U-18 itu pun mencoba untuk meng-endorse temannya tersebut. ’’Saya kirimin jualan saya, dipromokan di Instagram-nya. Alhamdulillah, dari situ akhirnya banyak yang beli. Dari sesama pesepak bola malah tidak semua mau bantu. Malu mungkin ya kok promoin jualan kerupuk,’’ jelasnya, lantas tertawa.

Usahanya untuk survive pun berbuah hasil. Satu bulan menggeluti bisnis kerupuk rambak, modal awalnya sudah kembali. Bahkan, Jossa saat ini sudah menikmati untung dari usahanya tersebut. ’’Rencananya, beberapa keuntungan saya sedekahkan. Biar makin banyak penghasilannya,’’ ungkapnya.

Selain promo lewat endorsement temannya yang terkenal, Jossa punya cara marketing lain untuk melariskan bisnisnya. Salah satunya adalah mengantarkan langsung kepada pembeli alias COD. Walau ada ketakutan soal pandemi korona, pemain 19 tahun itu harus melakukannya.

Menurut dia, dengan menemui langsung pembeli, ada link bagus yang dibangun. Pembeli jadi kenal dengan penjual. Kalau rasanya cocok, pembeli tak ragu untuk membeli lagi. ’’Wilayah Sidoarjo saja yang saya antar. Di luar itu, saya kirim lewat ekspedisi,’’ katanya.

Selain COD, Jossa selalu mengoptimalkan IG pribadinya. Setiap ada pembeli, dia selalu meminta untuk memamerkan rasa kerupuk rambak jualannya melalui video. Video itu bisa di-upload lewat IG pribadi pembeli atau dikirimkan padanya. ’’Nanti saya up di IG pribadi. Pembeli pasti senang ketika namanya di-tag di IG,’’ ucapnya.

Jossa mengaku tetap menjalankan protokol korona setiap kali melakukan COD. Memakai masker dan selalu membawa bekal hand sanitizer setiap kali mengantarkan pesanan. ’’Pembeli jadi percaya kalau jualan saya bebas korona,’’ jelasnya, lantas tertawa.

Berkat keuletannya tersebut, jualannya laris manis. Tiga hari sekali, 50 bal kerupuk rambak ludes terjual. Satu bal kerupuk dihargai Rp 55 ribu. ’’Tiga hari sekali nyetok. Ya alhamdulillah habis terus,’’ ungkapnya.

Nah, walau menekuni bisnisnya, Jossa tetap tidak melupakan cita-cita. Latihan rutin tetap jadi agenda pertama di kesehariannya. Bahkan, jadwal COD bisa berubah gara-gara program latihan yang dijalani.

Ya, Jossa tidak mau cita-citanya terbengkalai sebagai pesepak bola. Beruntung, pembeli-pembelinya sadar siapa Jossa. ’’Kalau ada program latihan sore, mau tidak mau COD pagi hari. Yang jelas, setiap hari harus latihan, jaga kondisi,’’ jelasnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : rid



Close Ads