alexametrics
Liga 1 2019

Agen Dzhalilov Sebut Manajemen Persebaya Matikan Karir Pemain

22 September 2019, 10:00:13 WIB

JawaPos.com – Manajer Persebaya Surabaya Candra Wahyudi saat ini puasa bicara. Ternyata, hal itu tak hanya berlaku kepada awak media. Tetapi juga kepada agen Manuchekhr Dzhalilov, Ratna Mustika.

Dzhalilov memang sudah terdepak dari skuad Green Force, julukan Persebaya. Yang jadi masalah, pemain 28 tahun tersebut dicoret saat bursa transfer sudah ditutup. Hal itu sangat disesalkan Tika, sapaan Ratna Mustika. Sebab, sejak 30 Agustus lalu, dia sudah mencoba melakukan komunikasi dengan Candra. ”Saya tanya apakah Manu (Dzhalilov) ini dicoret. Sudah saya WhatsApp dan telepon berkali-kali, tapi tidak ada respons,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Persebaya Surabaya

Karena tak ada jawaban, Tika menganggap Dzhalilov aman. Karena itu, beberapa tawaran yang datang dia tolak. Sebab, Tika yakin Dzhalilov masih akan berseragam Persebaya pada putaran kedua Liga 1 musim 2019. Apalagi, saat baru tiba dari memperkuat timnas Tajikistan, Dzhalilov langsung ikut berlatih bersama skuad di Lapangan Polda Jatim (16/9).

Saat latihan, juga tidak ada tanda-tanda Dzhalilov akan terdepak. Padahal, saat itu (Senin, 16 September) adalah batas terakhir bursa transfer putaran kedua. Saat bursa transfer sudah ditutup, Tika sudah lega karena pemainnya tidak tercoret. Ternyata anggapan itu salah. ”Besoknya (17/9) Manu dipanggil manajemen. Dia dikasih tahu kalau dicoret dari skuad. Ini kan nggak benar,” cetus perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter itu.

Tika benar-benar berang dengan cara manajemen Green Force memperlakukan pemainnya. Apalagi, saat melakukan pencoretan, manajemen hanya memberi tahu Dzhalilov. ”Saya malah baru tahu pencoretan itu dari Manu. Ya saya kaget. Kok nggak ada kabar ke saya. Padahal sudah saya kontak sejak lama,” keluhnya.

Menurut Tika, itu adalah salah satu kasus paling pelik yang pernah dialaminya selama menjadi agen. ”Kalau tim lain diajak ngomong pasti jawab. Ini apa susahnya sih? Kok sama sekali nggak direspons,” omelnya.

Karena terdepak saat bursa transfer sudah tutup, Jalilov kini menganggur. Tika benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. ”Tahu gitu kan saya terima tawaran tim lain saat bursa transfer lalu,” sesalnya.

Dengan status tanpa klub, kondisi mental Dzhalilov bisa terpengaruh. Sebab, kondisi itu membuat posisinya di timnas Tajikistan akan terancam. ”Dia curhat ke saya. Ini kan seolah-olah mematikan karir si pemain,” tegasnya.

Tika menjelaskan, pencoretan boleh saja dilakukan. Asal komunikasi dengan agen juga bagus. Sebab, agen nanti bisa mencarikan klub baru bagi pemainnya. Dia menilai yang dilakukan manajemen Persebaya sudah keterlaluan. ”Ini bukan soal uang. Ini soal harga diri. Coba kalau manajemen (Persebaya) ada di posisi Manu. Pasti sakit juga,” tandasnya.

Bukan hanya Dzhalilov sejatinya yang merana. Damian Lizio merasakan hal serupa. Dicoret saat bursa transfer ditutup membuat pemain 30 tahun itu masih berstatus tanpa klub. Jawa Pos kemudian coba menghubungi Manajer Persebaya Candra Wahyudi. Namun, pesan singkat melalui WhatsApp maupun telepon tidak ditanggapi.

Sejatinya performa Dzhalilov maupun Lizio di Persebaya sepanjang putaran pertama Liga 1 tak buruk-buruk amat. Dzhalilov sudah tampil dalam 14 laga dan mencatatkan satu gol. Sedangkan Lizio mampu mencetak dua gol dengan jumlah laga yang sama dengan Dzhalilov.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus/ali

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads