alexametrics
Liga 1 2020

FIFPro Kritik PSSI Terkait Kebijakan Pemotongan Gaji Pemain 75 Persen

22 Mei 2020, 07:00:54 WIB

JawaPos.com – Tindakan PSSI yang mengeluarkan surat keputusan soal pemotongan gaji untuk pemain di Indonesia mendapat kritik pedas dari FIFPro. Organisasi yang mewadahi lebih dari 65 ribu pesepak bola di dunia itu menganggap PSSI sangat tidak manusiawi dalam situasi pandemi korona seperti saat ini.

Hal tersebut dikatakan Direktur Hukum FIFPro Roy Vermeer dalam rilis di laman resmi. Roy menyatakan bahwa PSSI seenaknya sendiri. Padahal, pesan AFC ataupun AFF sangat jelas. Yakni, mencari jalan keluar terbaik dalam memotong gaji selama pandemi korona (Covid-19).

Masalahnya, PSSI mengeluarkan keputusan secara sepihak. Tanpa koordinasi atau pembicaraan terlebih dahulu dengan Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) maupun pemain secara langsung. PSSI juga seakan tutup telinga atas protes yang sudah dilayangkan APPI.

PSSI hanya berdiskusi dengan klub dan operator kompetisi, yakni PT LIB. Padahal, perihal pemotongan gaji, yang terkena dampak adalah para pemain. Karena tindakan itu, FIFPro akhirnya mengkritik pedas SK yang dikeluarkan PSSI. ’’Selama pandemi korona, kami telah melihat sejumlah federasi tidak melakukan tindakan yang semestinya soal hak pemain,’’ tegasnya.

Seperti diketahui, PSSI mengeluarkan SK perihal pemotongan gaji. Klub-klub Liga 1 boleh membayar gaji para pemain maksimal 25 persen dari kontrak yang tertera. SK itu berlaku Maret hingga Juni. Klub masih wajib membayar pemain meskipun kompetisi dihentikan sementara.

Roy menambahkan, PSSI abai dengan nasib para pemain. Sebab, pemotongan gaji tersebut dianggap sangat tidak adil. Tidak semua pemain punya gaji di atas rata-rata. Jika dipotong lebih dari 75 persen, hak dasar pesepak bola pasti sangat tersakiti. ’’Regulasi itu mengabaikan nasib pemain profesional,’’ beber dia.

PSSI juga dianggap telah melakukan pelanggaran lain selama pandemi korona. Salah satunya mengintervensi kontrak pemain. PSSI mengintervensi klub yang merupakan pemberi kerja kepada para pemain terkait dengan masalah gaji. Akibatnya, banyak pesepak bola profesional Indonesia yang memperoleh gaji di bawah rata-rata pendapatan para pekerja.

Roy menyebut fakta-fakta itu mempertegas bahwa PSSI tidak peduli dengan seluruh peraturan yang dikeluarkan soal kontrak kerja pemain. Terutama di masa pandemi korona saat ini. ’’Fakta bahwa ukuran pemotongan ini terus berlanjut hingga sekarang membuktikan bahwa PSSI tidak peduli dengan standar internasional dan tidak peduli dengan nasib pemain di Indonesia,’’ terangnya.

Sementara itu, Sekjen APPI Mohamad Hardika Aji mengaku tidak kaget atas sikap FIFPro kepada PSSI. Sebab, selama ini FIFPro memang memantau seluruh federasi selama pandemi. Terutama perihal nasib para pemain profesional terkait dengan pemotongan gaji.

APPI juga terus berkoordinasi dengan FIFPro setelah PSSI mengeluarkan SK soal pemotongan gaji. Bahkan, APPI minta penjelasan PSSI karena tidak dilibatkan dalam penyusunan SK tersebut. ’’Kami akhirnya melaporkan apa adanya kepada FIFPro. Bahkan, FIFPro sudah mengirimkan surat langsung ke PSSI. Indonesia ini jadi salah satu negara yang mendapat perhatian dari FIFPro,’’ terangnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : rid/ali

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads