alexametrics
Liga 1 2019

Pemain Terbebani, Suporter Sempat Ngamuk, Akhirnya Persela Menang Juga

21 November 2019, 07:00:00 WIB

JawaPos.com – Dalam sepersekian detik, M. Zaenuri memutuskan untuk memilih mengarahkan bola daripada menendang keras ketika mendapat bola muntah hasil sepak pojok Kei Hirose. Keputusan bek asal Bojonegoro itu sangat tepat. Bola sepakannya yang diarahkan ke pojok kiri atas gawang Perseru Badak Lampung FC yang dikawal Daryono saat pertandingan memasuki menit ke-92 itu berhasil mengantarkan Persela Lamongan memenangi pertarungan panjang nan melelahkan di Stadion Surajaya, Lamongan, kemarin sore. Gol Zaenuri itu menjadi satu-satunya gol yang tercipta dalam laga penuh drama tersebut.

”Saya sempat berpikir kalau saya tendang keras, bola bisa kena lawan atau melambung,” kata Zaenuri kepada Jawa Pos selepas pertandingan. Bek 24 tahun itu pun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sebab, golnya tidak hanya membuat Persela menang. Tapi, juga menjaga asa tim berjuluk Laskar Joko Tingkir itu bertahan di Liga 1 musim depan. Kemenangan tersebut untuk sementara melepaskan Persela dari zona degradasi. ”Senangnya luar biasa pokoknya. Apalagi, golnya lahir di menit-menit akhir dan tekanan untuk menang begitu besar,” ungkapnya.

Persela Lamongan

Kemenangan Persela kemarin (20/11) memang diraih dengan sangat tidak gampang. Bukan hanya lantaran Perseru Badak Lampung FC memberikan perlawanan sengit. Namun, tekanan dari suporter Persela juga begitu besar kepada Eky Taufik dkk. Tribun utara dan selatan Stadion Surajaya dipenuhi spanduk berisi dukungan sekaligus kritikan. Tidak sedikit kata-katanya yang sangat pedas.

Tekanan semakin besar saat Persela memulai babak kedua. Salah satu kelompok suporter Persela Curva Boys 1967 memilih boikot dan mengosongkan tribun. Tak ada nyanyian dukungan ketika tribun utara kosong. Pada menit ke-73 laga bahkan harus dihentikan wasit. Suporter Persela yang kecewa dengan eksekusi penalti Alex Dos Santos Goncalves yang ditepis kiper Perseru Badak Lampung FC semenit sebelumnya turun ke lapangan. Mula-mula mereka membakar spanduk di tribun selatan. Setelah itu, mereka masuk lapangan dan mengejar pemain-pemain Persela. Papan-papan reklame di sisi lapangan tak luput dari amuk suporter. Semua dirusak. Gawang sisi utara dan selatan juga nyaris dibakar. Untung, aparat bisa mencegahnya.

Laga pun terhenti 48 menit. Ketika semua suporter bisa diarahkan kembali ke tribun, pertandingan dilanjutkan. Perseru Badak Lampung FC sebenarnya sempat gamang untuk kembali ke lapangan. ”Ini bukan olahraga. Tapi, ini perang. Kami bermain dengan tekanan yang begitu besar setelah laga terhenti,” keluh pelatih Perseru Badak Lampung FC Milan Petrovic.

Setelah pertandingan yang tersisa 17 menit kembali dimainkan, pemain-pemain Perseru Badak Lampung FC tertekan. Mereka terus dibombardir penggawa-penggawa Persela. Ketika injury time memasuki menit kedua, petaka akhirnya menghampiri tim asal Bumi Andalas tersebut. Persela berhasil mencetak gol lewat Zaenuri. Gol yang sejatinya juga terlahir dari tekanan yang begitu besar ke Persela.

”Saya benar-benar mengapresiasi perjuangan para pemain. Mereka berjuang sampai akhir. Mereka juga mampu menaklukkan tekanan yang begitu besar. Tekanan yang tidak mudah untuk dilewati,” ujar pelatih Persela Nil Maizar.
Tekanan itu pula yang disebut Nil membuat Alex gagal mengeksekusi penalti. ”Sebenarnya saya menunjuk Kei Hirose. Tapi, dia ternyata menyerahkan ke Alex. Itu menandakan besarnya tekanan yang ada,” ujar pelatih asal Payakumbuh, Sumatera Barat, tersebut.

Bek Persela Arif Satria pun tidak memungkiri betapa besar beban yang dipikul dirinya dan rekan-rekan. Semua pemain Persela disebutnya bisa memahami tekanan itu. Sebab, suporter sangat mencintai Persela dan tidak ingin timnya terdegradasi. ”Kami memahami cinta mereka. Tapi, kami berharap mereka bisa menyuarakannya lebih positif. Sebab, kami butuh dukungan untuk lolos dari degradasi,” ujarnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : fim/ali

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads