alexametrics

Pramusim Jadi Modal Berharga, Target Utama Persebaya Juara Liga 1

21 Februari 2020, 07:30:06 WIB

JawaPos.com – Penantian panjang selama 15 tahun itu berakhir kemarin. Persebaya Surabaya tampil sebagai juara Piala Gubernur Jatim (PGJ) 2020. Green Force-julukan Persebaya-menjadi kampiun untuk kedua kalinya setelah 2005, seiring kemenangan 4-1 atas Persija Jakarta pada laga final di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo kemarin.

Torehan juara ini melebihi target yang dibebankan manajemen. Sebab, sejatinya Persebaya tak mematok target tinggi dalam ajang pramusim ini. “Tidak ada target khusus. Tapi, selalu saya tekankan kepada pemain untuk tampil maksimal di setiap pertandingan,” kata pelatih Persebaya Aji Santoso. “Ini jadi modal berharga di Liga 1,” tambahnya.

Persebaya Surabaya

Gairah meraih trofi memang sudah membuncah. Itu terlihat dari spirit yang ditunjukkan Makan Konate dkk sejak kickoff pertandingan. Baru tiga menit laga berjalan, Oktafianus Fernando sudah membobol gawang Persija. Macan Kemayoran-julukan Persija kian tertekan setelah Ryuji Utomo mendapat kartu merah di menit ke-31. Persija sempat menyamakan kedudukan melalui tandukan Marko Simic (43′). Tapi, unggul jumlah pemain membuat Persebaya mampu mencetak tiga gol tambahan. Masing-masing melalui Makan Konate (52′), Ricky Kambuaya (55′) dan Mahmoud Eid (80′). “Anak-anak sabar dalam mencari gol setelah unggul jumlah pemain. Itu kuncinya,” jelas Aji.

Aji bersyukur timnya bisa mengikuti turnamen pramusim ini. Sebab, dari turnamen ini, banyak pemain muda Green Force yang tampil cemerlang. Sebut saja Hambali Tholib, Rizky Ridho, M. Alwi Slamat, M. Supriadi hingga Koko Ari Araya. Nama terakhir bahkan dipanggil mengikuti pemusatan latihan timnas senior. Nah, skuad muda itulah yang akan dijadikan tumpuan musim ini. “Semoga mereka lebih bagus saat tampil di kompetisi nanti,” jelas mantan pelatih Persela Lamongan itu.

Hambali siap-siap saja jika memang jadi tumpuan pada musim ini. Apalagi, penampilannya sepanjang gelaran PGJ 2020 cukup oke. Dia mampu mencetak satu gol saat melawan Persik Kediri (10/2). “Saya sangat bersyukur bisa membawa Persebaya juara. Ini jadi modal kami di Liga 1 nanti,” kata pemain 19 tahun itu.

Di sisi lain, pelatih Persija Sergio Farias tetap tenang meski kalah telak. Dia punya alasan mengapa timnya sampai kebobolan empat gol. Salah satunya, karena Persija harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-31. “Setelah kartu merah, semuanya jadi susah buat kami. Kami mau menyerang, tapi tidak bisa,” keluh Farias. ”Transisi pertahanan juga buruk,” jelas pelatih asal Brasil itu. Belum lagi, dukungan Bonek makin membuat pemain Persija tertekan.

Sejatinya, Farias senang saja dengan banyaknya suporter di stadion. “Tapi harusnya supporter Persija juga datang. Kalau hanya pendukung satu klub saja yang hadir (di stadion), itu tidak bagus buat sepak bola Indonesia,” kata Farias. Gelandang Persija Marc Klok juga menyayangkan tidak hadirnya The Jak. “Laga final harusnya digelar di tempat netral. Tapi ini malah digelar di kandang Persebaya. Tapi tidak masalah. Kami akan fokus ke Liga 1,” jelasnya.

Kehadiran Bonek itu pula yang membuat Persija tak hadir dalam proses pengalungan medali. Mereka hanya diwakili sang manajer Bambang Pamungkas sebagai penerima medali. Meski begitu, Farias mengaku tak masalah. “Karena pihak keamanan yang meminta kami tidak keluar. Situasi tidak bagus. Ini demi kebaikan kami,” katanya.

Sebaliknya, kehadiran Bonek, menurut Aji, mampu menyulut motivasi bermain Green Force. “Bonek membuat kami semangat,” kata Aji yang mendedikasikan gelar juara buat Bonek.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus/bas

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads