alexametrics

Dikonfrontasi dengan Mbah Putih, Peran Jokdri di Match Fixing Didalami

20 Februari 2019, 09:00:33 WIB

JawaPos.com – Pertanyaan itu mengagetkan Joko Driyono (Jokdri). Tapi, pelaksana tugas (Plt) ketua umum PSSI tersebut tetap berusaha tersenyum. “Saya kira nanti saja,” katanya kepada Jawa Pos sembari masuk ke mobil.

Kemarin pagi WIB (19/2) itu Jokdri baru selesai menjalani pemeriksaan sekitar 20 jam oleh Satgas Antimafia Bola di Mapolda Metro Jaya, Jakarta. Kepada mantan CEO PT Liga Indonesia tersebut, Jawa Pos menanyakan apakah benar dirinya dipertemukan dengan Dwi “Mbah Putih” Irianto selama pemeriksaan.

Mbah Putih adalah tersangka kasus pengaturan hasil pertandingan atau match fixing yang didasarkan pada laporan Manajer klub Liga 3 Persibara Banjarnegara Lasmi Indriyani.

Dikonfrontasi dengan Mbah Putih, Peran Jokdri di Match Fixing Didalami
Mbah Putih (Radar Jogja/Jawa Pos)

Dari pantauan Jawa Pos, Mbah Putih memang terlihat keluar dari ruang penyidik sekitar pukul 23.00 Senin (18/2). Ditemani dua polisi, anggota Komisi Disiplin PSSI itu memakai baju tahanan berwarna oranye dan menutup kepala dengan kain hitam. Dia juga terlihat mempercepat langkah menuju ruang tahanan ketika awak media berusaha mewawancarainya.

Dipertemukannya dengan Mbah Putih itu memperkuat dugaan bahwa Jokdri juga bakal tersandung skandal match fixing. Sebelumnya pria asal Ngawi, Jawa Timur, tersebut telah menjadi tersangka kasus perusakan barang bukti. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, barang bukti yang dirusak tiga orang suruhan Jokdri terkait dengan dugaan match fixing. Terutama untuk kasus yang dilaporkan Lasmi.

Artinya, dokumen itu terkait dengan pertandingan Persibara dan beberapa klub lain. “Ini berkaitan dengan peran Jokdri secara institusional,” ujarnya di Jakarta kemarin. Maksud peran institusional tersebut, lanjut Dedi, seperti mengatur perangkat pertandingan dan jadwal pertandingan. “Itu yang didalami,” ungkapnya.

Dedi menjelaskan bahwa dokumen terkait pertandingan Persibara tersebut hanya satu di antara sekian pertandingan yang diduga terjadi rekayasa. Apakah itu berarti Jokdri merupakan aktor intelektual pengaturan skor di Indonesia? Dedi menampik. Menurut dia, masih terlalu dini berasumsi semacam itu. “Kita harus hormati asas praduga tidak bersalah,” tutur mantan Kapolres Ponorogo, Jawa Timur, tersebut.

Satgas Antimafia Bola menyatakan, Jokdri telah melanggar empat pasal KUHP. Antara lain pasal 363 terkait pencurian dan pemberatan serta pasal 232 tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan. Lalu pasal 233 tentang perusakan barang bukti dan pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 dan 233.

Pasal berlapis itu dikenakan karena Jokdri menjadi dalang perusakan dokumen yang dilakukan tiga tersangka sebelumnya: Musmuliadi dan Abdul Gofur, office boy Rasuna Office Park, serta Muhammad Mardani, sopir Jokdri. Ketiganya pun sudah mengaku melakukan perusakan dan penghilangan dokumen atas perintah mantan Sekjen PSSI tersebut.

Mengenai belum ditahannya Jokdri, Dedi mengatakan, itu didasarkan pada pertimbangan subjektif penyidik. Yang diambil melalui mekanisme gelar perkara. “Analisis komprehensif hingga (memutuskan) tidak memerlukan penahanan dulu,” ucapnya.

Bukankah perusakan barang bukti biasanya menjadi alasan penahanan? Dedi menjelaskan bahwa tiga pelaku perusakan barang bukti juga tidak ditahan karena kooperatif. Dia menyatakan, kemungkinan melarikan diri juga pasti telah dipertimbangkan penyidik. “Kan sudah dilakukan (pencekalan),” ujar jenderal bintang satu itu.

Polisi memang sudah mengirimkan surat kepada imigrasi yang berisi permintaan untuk mencegah Jokdri bepergian ke luar negeri. Sementara itu, hingga saat ini satgas masih terus melakukan pengembangan. Terutama untuk mengetahui siapa yang diduga terlibat dalam pidana pengaturan skor. Untuk kasus pengaturan hasil pertandingan, sejauh ini sudah sebelas orang yang dijadikan tersangka dan ditahan. “Nanti, kalau semua sudah tuntas, kami tetapkan tersangka. Atau justru perlu dimunculkan laporan baru untuk kasus lainnya,” ujar dia.

Jokdri diperiksa satgas sejak Senin (18/2) pukul 10.00 dan baru keluar Selasa (19/2) pukul 06.55. Sekeluar dari ruang pemeriksaan, dia tampak tersenyum. Tidak setegang ketika diperiksa kali pertama pada 15 Januari lalu.

Dengan memakai batik, senyum terus merekah dari bibirnya meski dicecar banyak pertanyaan oleh awak media. Jokdri mengaku senang bisa memenuhi panggilan satgas untuk kali pertama dengan menyandang predikat tersangka. Dia menyebutkan, Satgas Antimafia Bola bekerja sangat profesional. Tidak membuatnya takut atau sengaja menjebloskannya ke dalam pertanyaan-pertanyaan menjebak. “Tentu akan ada proses lanjutan. Mohon doanya agar proses ini bisa berjalan dengan baik,” ucapnya singkat.

Ditanya tentang apa saja yang ditanyakan Satgas Antimafia Bola selama kurang lebih 20 jam itu, Jokdri bungkam. Dia memilih kembali tersenyum dan lantas melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah menjemput.

Sementara itu, Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Argo Yuwono menerangkan, dalam waktu kurang lebih 20 jam tersebut, penyidik baru menanyakan 17 pertanyaan di antara 32 yang disiapkan. Alasannya, Jokdri yang meminta diberi waktu untuk istirahat terlebih dahulu. “Yang bersangkutan meminta untuk ditutup dan kemudian akan dilanjutkan pada Kamis, 21 Februari, jam 10.00 di Polda Metro Jaya,” paparnya.

Argo mengungkapkan, secara garis besar pertanyaannya memang seputar dugaan keterlibatan Jokdri dalam perusakan barang bukti di Rasuna Office Park. Masih sekitar itu, belum masuk ke kasus lain. Soal kemungkinan penahanan, Argo mengungkapkan, itu baru bisa dijawab setelah seluruh pertanyaan ditanyakan ke Jokdri. Itu pun bergantung jawaban pria yang telah sangat lama berkiprah bersama PSSI dan operator liga tersebut. “Dikonfrontasi dengan Mbah Putih? Nanti saja, itu belum ya, belum,” tuturnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (rid/idr/bry/c9/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Dikonfrontasi dengan Mbah Putih, Peran Jokdri di Match Fixing Didalami