alexametrics

Wawancara Eksklusif dengan Krisna Adi Darma (2-Habis)

Masih Punya Bukti-Bukti Kuat
19 Juli 2019, 18:30:39 WIB

Setelah disanksi tak boleh bermain sepak bola seumur hidup karena skandal di Bireuen tahun lalu, Krisna Adi berusaha bangkit. Dia bertekad mengejar keadilan. Namun dia bingung harus memulai dari mana. Tetapi yang pasti, Krisna menegaskan bahwa dia memiliki bukti-bukti yang sangat kuat. Berikut lanjutan perbincangannya dengan wartawan Jawa Pos Radar Jogja Ana R. Dewi.

Setelah melakukan eksekusi penalti itu, mengapa kamu berselebrasi dengan sujud syukur?

Saat itu saya minta ampunan kepada Tuhan. Di situ saya berdoa memohon ampun. Ampunilah dosaku jika ini pembohongan publik yang berhubungan dengan banyak orang dan masyarakat. Karena alasan saya hanya dua tadi. Saya tahu, saat itu banyak yang menghujat. Bahkan dari seluruh Indonesia. Namun ya sudah, mereka tidak tahu apa-apa. Hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Wawancara Eksklusif dengan Krisna Adi Darma (2-Habis)
DISKUSI: Wakil ketua Satgas Antimafia Bola Krishna Murti (kiri) menjenguk Krisna Adi di Balecatur, Kecamatan Gamping, Sleman (9/1). (Instagram/Krisnaadi9 )

Ketua Komsi Disiplin PSSI Asep Edwin pernah mengunjungimu di Jogja. Apa kamu sempat bertemu dengannya?

Terkait Komdis yang datang ke rumah saya Januari lalu, saya tidak pernah bertemu dengan pak Asep. Yang ketemu adalah kakak saya, Johan Arga. Saya juga tidak pernah meminta bantuan dengan nominal berapapun kepada Komdis PSSI. Bagi saya komdis mau menemui dan membahas sanksi saja saya bersyukur dan berterimakasih sekali.

Ada Isu, Komdis lewat Asep Edwin sempat menawarkan bantuan berupa uang kepadamu? 

Saya tegaskan, saya tidak pernah meminta nominal berapapun! Wong saya saja tidak bertemu langsung dengan Pak Asep. Saya tidak mau dicap mata duitan. Yang menemui adalah kakak saya Johan Arga, tanpa sepengetahuan saya. Seandainya kemarin ada pembicaraan dan ketemu, saya ingin menyelesaikannya. Padahal awalnya saya optimistis kasus saya selesai. Namun semua berubah saat Komdis mengira saya ingin memeras dengan nominal yang besar. Sama sekali, demi Tuhan, saya tidak pernah meminta apapun.

Saat terbaring di rumah sakit, banyak pihak yang menemui dan membantumu. Apakah kamu tahu soal ini?

Yang saya tahu, bantuan total sekitar Rp 90 juta hampir Rp 100 juta. Namun saya tidak tahu detailnya dari mana saja datangnya. Yang saya tahu hanya tiga, yakni dari APPI, KPSN, dan Satgas (Antimafia Bola). Yang menerima semua itu adalah kakak saya (Johan Arga). Saya sendiri dan istri malah tidak menerima. Namun saya bersyukur masih ada beberapa pihak yang peduli terhadap saya.

Lalu, apakah kamu masih mau memperjuangkan kasusmu?

Saya siap melangkah dan berani. Namun saya bingung lewat jalan mana. Harus ke siapa? Saya menunggu momentum. Bisa dibilang masalah saya ini ngambang dan tidak jelas. Mungkin saya akan menunggu KLB. Apabila tidak ada kemajuan, masih akan saya tunggu hingga pemilihan ketua PSSI yang baru saat Kongres. Nah jika sudah mentok, kasus saya ini tidak dibahas, saya masih punya barang bukti.

Apakah kamu berencana untuk mengajukan banding?

Ada rencana untuk mengajukan banding. Namun saya tidak menerima surat pemanggilan tiga kali. Bahkan keterangan secara lisan juga saya tidak dapat. Dari manajemen PSMP juga demikian. Sampai detik ini, manajemen PSMP tidak ada yang datang ke rumah saya. Saya merasa dizalimi.

Komdis kabarnya sudah melayangkan surat itu…

Ya, dan saya kecewa kenapa Komdis PSSI tidak menelusuri apabila surat itu tidak pernah sampai ke saya. Kenapa malah dibiarin begitu saja dan lepas tangan? Lantas bagaimana saya mengajukan banding? Permasalahannya, apa yang mau di banding? Wong surat saja saya tidak dapat!

Editor : Ainur Rohman

Close Ads