alexametrics
Piala Gubernur Jatim 2020

Meski Pramusim dan Krisis Pemain, Persebaya Tetap Ingin Juara

19 Februari 2020, 07:30:30 WIB

JawaPos.com – Tahun 2005. Itu adalah tahun terakhir Persebaya Surabaya menjadi kampiun Piala Gubernur Jatim (PGJ). Artinya, sudah 15 tahun Green Force –julukan Persebaya–puasa gelar di PGJ.

Nah, Kamis (20/2) besok Persebaya berpeluang mengakhiri dahaga gelar di turnamen pramusim tersebut. Itu seiring dengan kemenangan 4-2 atas Arema FC di semifinal PGJ 2020 kemarin sore (18/2). Kemenangan pada laga di Stadion Gelora Soeprijadi, Kota Blitar, tersebut memastikan Persebaya tampil di final melawan Persija Jakarta besok.

Awalnya manajemen Persebaya tak mematok target tinggi di PGJ 2020. Tapi, karena sudah di final, pelatih Persebaya Aji Santoso tak mau tanggung-tanggung. ”Walaupun ini pramusim, saya akan berusaha untuk meraih hasil maksimal,” tandas pelatih 49 tahun itu.

Aji sangat bergairah menyongsong laga final. Apalagi, laga klasik tersebut berpotensi menghadirkan trofi pertama Aji di turnamen pramusim bersama Green Force sebagai pelatih. Sebagai pemain dia pernah membawa Persebaya menjuarai Liga Indonesia musim 1996–1997.

Masalahnya, Persebaya kembali dilanda krisis amunisi. Kendala lainnya adalah recovery yang sangat minim. Apalagi, Makan Konate dkk kemarin harus tampil habis-habisan melawan Arema. Persebaya bahkan sempat tertinggal. Baru tiga menit laga berjalan, sepakan Johan Alfarizi sudah membawa Arema unggul 1-0.

Gol cepat itu sempat membuat Persebaya down. Arema mampu menguasai jalannya laga. Tapi, semua berubah saat Singo Edan –julukan Arema FC– bermain dengan sepuluh orang. Itu terjadi setelah Jonathan Bauman mendapat kartu merah pada menit ke-17. Pemain asal Argentina tersebut menendang kaki Arif Satria dari belakang.

Situasi pun berbalik. Arema ganti tertekan. Empat gol langsung dicetak Green Force. Masing-masing melalui brace David da Silva (28’ dan 70’), Mahmoud Eid (45+2’), serta Irfan Jaya (53’). Singo Edan hanya mampu membalas melalui Elias Alderete pada menit ke-73. ”Jujur, kami bisa mengambil keuntungan dengan unggul jumlah pemain. Kami mendominasi,” jelas Aji.

Pelatih Arema FC Mario Gomez berkomentar senada dengan Aji. Dia menilai anak asuhnya langsung tampil buruk ketika bertanding dengan sepuluh pemain. ”Sebelum kalah jumlah pemain, kami mendominasi. Begitu pula saat kami sama-sama bermain dengan sepuluh pemain,” terang pelatih asal Argentina tersebut. Selain Bauman, bek kanan Persebaya Abu Rizal Maulana juga mendapat kartu merah pada menit ke-60.

Ya, tak hanya hujan gol, derbi Jatim itu juga banjir kartu. Total, ada sebelas kartu kuning dan dua kartu merah yang dikeluarkan wasit Fariq Hitaba. Enam kartu kuning bagi Persebaya, sedangkan lima lainnya diterima pemain Arema.

Mario Gomez menganggap hal tersebut sangat wajar. Apalagi, kedua tim memang punya rivalitas yang panas. Karena itu, dia sama sekali tidak marah kepada Bauman meski sudah diusir sejak menit ke-17. ”Banyak kartu itu wajar. Karena kami terus melakukan tekanan untuk mengejar ketertinggalan. Tapi, kalau kartu merah itu bukan gaya main kami. Itu lebih ke individu pemain,” paparnya.

Meski timnya terlibat rivalitas panas, Gomez tak ragu memuji kualitas yang dimiliki Persebaya. Menurut dia, Green Force memiliki pemain dengan kualitas individu yang sangat bagus. ”Mereka menjadi satu tim yang kuat dengan adanya pemain seperti Konate dan David da Silva. Mereka tim bagus,” puji pelatih 62 tahun itu. Meski demikian, Gomez memilih fokus membenahi timnya. ”Tujuan utama kami adalah di Liga 1,” tambahnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads