alexametrics

#SimonOut Hanya Solusi Instan, Biang Keroknya Tata Kelola PSSI

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
16 Oktober 2019, 17:30:44 WIB

JawaPos.com – Begitu timnas Indonesia tumbang di kaki Vietnam 1-3 (15/10), #SimonOut sontak memenuhi lini masa media sosial. Bukan tuntutan yang berlebihan sebenarnya. Apalagi, di tangan Simon McMenemy sebagai pelatih, Yanto Basna dkk empat kali beruntun menelan kekalahan.

Namun, tunggu dulu, kalau kalian pikir dengan Simon Out semua akan jadi lebih baik, maka sepertinya kita perlu belajar ke Manchester United. Selepas kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013, klub berjuluk Setan Merah itu kehilangan jati dirinya sebagai tim raksasa dari Inggris.

David Moyes didatangkan sebagai percobaan pertama. Gagal. Moyes Out. Ryan Giggs sempat ditunjuk sebentar sebagai interim. Lalu, pelatih veteran asal Belanda Louis van Gaal didatangkan. Hasilnya, sama saja. Van Gaal jadi lelucon dan akhirnya out dari Old Trafford.

Pada 2016, ikhtiar manajemen United berlanjut dengan merekrut pelatih yang menamakan dirinya The Special One, Jose Mourinho. Hasilnya, tak jauh beda. United masih dianggap lelucon secara performa. Mourinho pun out. Kini, United ditangani Ole Gunnar Solskjaer. Dan, kita bisa nikmati lelucon sepanjang musim.

Pernyataan dari Mourinho bisa menjadi gambaran apa yang salah dari United sehingga terus anjlok meski berganti pelatih. ”Saya dipecat, mungkin saya memang pantas karena saya bertanggung jawab sebagai pelatih. Tapi, yang menyedihkan sekarang mereka lebih buruk dari sebelumnya,” ujarnya kepada TalkSport.

Keluhan tak jauh beda juga disampaikan Van Gaal. Pria yang sukses bersama Ajax Amsterdam dan Barcelona itu punya definisi akan United. ”Sayang sekali, kita berbicara tentang klub komersial, bukan klub sepak bola. Saya pernah bilang ke Ferguson pada akhir masa jabatannya, dia juga punya masalah dengan itu,” jelas Van Gaal.

Ed Woodward, pria yang bertanggung jawab atas roda organisasi di United, memang hebat dalam menangani bisnis di luar lapangan. Sejak bergabung ke United pada 2007, Woodward mampu mendongkrak penghasilan klub itu berlipat ganda. Dari 48,7 juta poundsterling pada 2005 menjadi 117,6 juta poundsterling pada 2012.

Saat itu, masih ada Sir Alex, sehingga di dalam lapangan, United masih bisa menjaga stabilitas. Pria asal Skotlandia itu punya kuasa hebat terkait urusan dalam lapangan. Tapi, penggantinya tidak punya karisma dan kekuatan seperti itu. Wajar, Sir Alex berkuasa begitu lama di Old Trafford.

Kritik paling keras kepada Woodward adalah payahnya dia dalam melakukan jual beli pemain. Jago dalam menggaet sponsor, tapi gagap dalam merekrut pemain. Moyes sudah meminta membeli Harry Maguire saat harganya masih 4 juta poundsterling pada 2013.

Dan, United baru membelinya di awal musim ini dengan harga lebih dari 20 kali lipat. Belum dari momentum dalam melepas pemain. Paul Pogba yang sudah jelas tidak betah, masih saja dipertahankan. Akibatnya, performanya anjlok dan United tidak memiliki pengganti sepadan.

Situasi tak jauh beda juga dialami timnas Indonesia dengan Simon McMenemy sebagai pelatih. Sepenuhnya menyalahkan pelatih asal Skotlandia itu sebagai biang kerok sungguh lah tidak adil. Sejak dia ditunjuk sebagai pelatih menggantikan Luis Milla, publik sudah menyadari ada yang keliru.

Saya juga melihat meme di Twitter, yang menggambarkan, Alfred Riedl membangun, Luis Milla menyempurnakan, dan McMenemy menghancurkannya. Bagi saya, itu bukan perbandingan yang adil, meski bisa dibilang tidak keliru juga meme tersebut. Itulah kenyataannya.

Lalu, apakah salah McMenemy? Saya pikir, tidak sepenuhnya. Sistem lah yang keliru. Tata kelola sepak bola kita yang bermasalah. Mereka yang menunjuk McMenemy sebagai pelatih layak kita tuding sebagai biang kerok dari anjloknya performa timnas kebanggaan yang sedang memalukan ini.

Cobalah diingat dengan seksama bagaimana kisah Rield out dari timnas Indonesia. Ingat juga bagaimana Milla pergi dari timnas. Di akhir masa jabatannya, PSSI menunggak gaji Milla. Ya, memang betul, nilainya begitu tinggi, di kisaran Rp 2 miliar per bulan untuk Milla dan stafnya.

Sekarang, McMenemy ditaksir gajinya berada di kisaran Rp 2-3 miliar pertahun. Perbandingan yang sangat jauh bukan. Kalau mengingat becandaan di warung kopi, jadinya begini: murah kok minta selamat. Namun, bukan itu saja problem yang membuat McMenemy kesulitan.

Berulang-ulang pelatih yang membawa Bhayangkara FC juara dua musim lalu tersebut mengeluhkan soal jadwal kompetisi yang sangat tidak bersahabat. Liga 1 berjalan berbarengan dengan jadwal sepak bola internasional. Jangan bicara sepak bola Eropa, di ASEAN saja kompetisi berhenti saat jadwal internasional berlangsung.

Jadwal kompetisi yang berubah-ubah dan tidak menentu jadi problem besar. Tentu saja, pemain hanya manusia biasa dan bukan robot. Bahkan, kalau robot pun perlu mengisi tenaga. Saat ini sudah Oktober, agenda internasional masih padat, dan Liga 1 terus masih banyak laga yang tak tentu jadwalnya.

Bukan hanya jadwal. Integritas kompetisi juga sering dipertanyakan. Terutama wasit, kebiasaan pemain melakukan pelanggaran tidak perlu atau protes tidak penting ke wasit, tidak lepas dari kebiasaan di kompetisi. Tidak banyak wasit di Indonesia yang berwibawa betul di hadapan pemain. Terlalu banyak kontroversi.

Problem di kompetisi juga sangat pelik. Bagaimana mungkin PSSI atau PT Liga Indonesia Baru (LIB) bisa tegas ke klub, kalau mereka sendiri melanggarnya. Contoh, bagaimana bisa mereka tegas ke klub soal tunggakan gaji ke pemain. Masalahnya, mereka juga menunggak subsidi atau bagian yang harusnya hak klub.

Terlalu banyak problem dalam tata kelola sepak bola kita. Siapa yang bertanggung jawab? Ya jelas PSSI lah. Karena itu, kita berharap Kongres PSSI bulan depan bisa menghadirkan harapan. Tata kelola yang lebih baik. Lebih berintegritas. Tapi, bisakah berharap kalau calon Exco-nya tetap orang-orang yang itu-itu saja?

Editor : Mohammad Ilham



Close Ads