alexametrics

Manajemen Persegres Gresik United Seperti Membakar Rumah Sendiri

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
16 Agustus 2019, 12:30:08 WIB

JawaPos.com – Tidak ada tim yang lebih hebat dari Persegres Gresik United dalam kemampuan menghancurkan diri sendiri. Atau, mungkin saja ini taktik yang dimainkan agar mereka bisa tampak indah layaknya burung Phoenix. Hancur lebur menjadi abu tak tersisa, lalu terlahir kembali dan bangkit dengan berapi-api. Semoga saja begitu.

Saya tidak sedang mengajak pembaca, terutama penggila sepak bola di Gresik untuk mengenang sejarah. Percuma sibuk membahas warisan generasi terdahulu, apabila saat ini tertatih-tatih tanpa masa depan. Apa yang akan diwariskan generasi ini untuk masa datang?

Situasi saat ini adalah, Persegres terjebak di antara dua tetangga yang sedang bahagia di puncak mata rantai kompetisi. Tetangga bagian timur, Persebaya, sudah bangkit dan bersaing di Liga 1. Tetangga sebelah barat sudah lama bertahan di kompetisi level teratas.

Kalau Persija Jakarta juara, atau Bali United kaya, atau PSM Makassar berjaya, tidak akan ada pengaruhnya bagi para pendukung Persegres. Toh, mereka bukan tetangga. Bayangkan, apabila tetangga sebelah rumahmu yang berjaya dan kalian terpuruk tanpa masa depan.

Bisa saja kita bersikap positif, ikut bahagia dan bangga karena tetangga kita sukses. Namun, apa yang bisa kalian banggakan dari itu. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang penggila sepak bola Gresik yang bersorak gila-gilaan saat Persebaya menang di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya?

Bisa saja kalian bersorak bahagia di stadion. Ibarat kalian menonton pertandingan sepak bola di rumah tetangga. Tapi, kan kalian akan tetap pulang ke rumah dan menyadari kalau televisi kalian sudah rusak tanpa ada upaya untuk memperbaiki atau beli yang baru.

Sekarang pilihan ada di tangan kalian. Para pecinta sepak bola Gresik. Apakah sibuk bergembira untuk kebahagiaan tetangga yang sedang kaya dan berjaya, ataukah menerima kenyataan bahwa kalian melarat dan kudu bekerja keras untuk bangkit. Problemnya, bangkit itu gampang dikatakan, tapi sulit dikerjakan.

Terlalu pelik memahami situasi Persegres Gresik United saat ini. Sejak dua musim lalu tim ini seolah ditakdirkan untuk menerima kegagalan dan meluncur mulus menuju kehancuran. Pada 2017 masih di Liga 1, pada 2018 berjuang di Liga 2, dan pada 2019 entah bisa ikut atau tidak di Liga 3.

Bukan hanya kacau balau di lapangan, melainkan juga salah urus di luar lapangan. Setiap musim, masalah yang dihadapi selalu sama. Sangat laten. Kesulitan membayar gaji para pemain. Utang tim terus membengkak dan selalu saja berdalih karena subsidi dari operator yang tak kunjung cair.

Teranyar, Persegres digugat para pemain melalui Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) ke Pengadilan Hubungan Industrial Gresik. Persidangan pertama terkait tunggakan gaji pemain itu dilakukan Senin (12/8). Parahnya, perwakilan manajemen sama sekali tidak ada yang hadir alias mangkir.

Sidang pun ditunda Selasa depan (20/8). APPI yang sudah hadir pun kecewa berat dan meminta PSSI agar membuat Persegres tidak bisa bermain di Liga 3 musim ini. Sebab, total ada 22 pemain yang gajinya belum dibayar selama musim 2017 dengan nilai Rp 458 juta. Bukan hanya itu, gaji para pemain pada musim lalu ketika bermain di Liga 2 juga masih tertunggak.

Parahnya lagi. Sudah jelas gagal dan salah urus, tapi pengelola yang reputasinya sudah luar biasa sukses dalam menghancurkan tim itu tetap ngotot menjadi bagian dalam membangun masa depan. Kenapa tidak, memberikan kesempatan kepada pengelola baru, entah siapa mereka nanti untuk bekerja.

Bulan depan, Liga 3 pra putaran nasional bergulir. Persegres masih jalan di tempat. Negosiasi hanya basa-basi yang sudah pasti basi. Win-win solution hanya angan. Lalu, ada pihak yang merasa bahwa situasinya menjadi zero sum game alias ada yang menang dan ada yang kalah. Padahal, kenyataan sebenarnya adalah semuanya kalah. Semuanya menjadi abu. Apalagi, bila akhirnya PSSI memenuhi tuntutan APPI. Buyarlah harapan Persegres berkompetisi musim ini.

Maaf, tulisan ini tidak dibuat untuk berbagi solusi. Toh, sudah berkali-kali dibahas dan dibicarakan. Sekarang tinggal tunggu kebesaran hati sang pemilik klub. Kalau begini terus, bukannya berapi-api laksana burung Phoenix, melainkan berapi-api seperti rumah yang kalian bakar sendiri.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads