alexametrics

Subsidi Rp 25 Juta, Bos Tim Liga 2: Seperti Manajemen Rokok Eceran

15 Oktober 2020, 11:36:04 WIB

JawaPos.com – Sama halnya dengan klub-klub Liga 1, 24 klub Liga 2 menyatakan diri akan tetap meneruskan kompetisi. Tetap berkomitmen mengikuti kompetisi Liga 2 musim ini pada pekan kedua November mendatang. Meski, risikonya sangat berat. Di antaranya adalah masalah finansial.

Ini tentu yang jadi perhatian PT LIB. Karena itu, dalam club meeting dengan klub Liga 2 Selasa lalu (13/10), LIB memberikan ’’bonus’’ subsidi kepada 24 klub. Bonus sebagai kompensasi penundaan kompetisi hingga November mendatang.

Direktur Utama LIB Akhmad Hadian Lukita mengatakan, setiap klub akan mendapat dana Rp 25 juta sejak Oktober. ’’Itu memang kebijakan dari PSSI. Dengan penundaan ini, istilahnya klub sudah persiapan, tapi tidak bisa diwujudkan dalam kompetisi. Itu sebagai kompensasi,’’ paparnya.

Apakah cukup? Lukita menyadari nilai itu masih jauh dari apa yang diharapkan. Tapi, kompensasi yang diberikan menurutnya sudah maksimal. LIB sendiri sudah mencarikan dana sekuat tenaga agar klub-klub Liga 2 bisa survive hingga kompetisi kembali digulirkan. ’’Doakan saja semua bisa berjalan dengan lancar,’’ bebernya.

Bagaimana respons klub? Presiden PS Hizbul Wathan Dhimam Abror menuturkan, subsidi Rp 25 juta itu jauh dari harapan. ’’Hampir semua klub saat diberi tahu tambahan subsidi itu bilangnya kurang. Karena rata-rata meminta Rp 100 juta,’’ jelasnya.

Bagi PSHW, sebenarnya tidak masalah dengan mundurnya kompetisi. Asalkan, selesainya tepat waktu. Yakni, sesuai dengan kesepakatan awal, Februari. Hal itu disebabkan dana yang dipunyai PSHW hanya cukup hingga kompetisi musim ini selesai.

Jika ada mundur-mundur lagi, malah jika batal pada November, mundur Desember atau bahkan Januari tahun depan, pihaknya tidak tahu lagi bagaimana mencarikan dana untuk ikut berkompetisi. ’’Anggaran kami insya Allah siap sampai akhir kompetisi,’’ paparnya.

Tapi, Abror pun tak lepas mengkritik cara LIB dalam memberikan tambahan subsidi. Dia menyebut, cara pemberian dana tambahan subsidi Rp 25 juta mulai Oktober ini menunjukkan manajemen LIB tidak bagus dalam mengelola kompetisi.

’’Seperti manajemen rokok eceran. Ngasih tambahan subsidi hanya Rp 25 juta. Padahal, kami kan tahu berapa uang LIB yang didapat dari komitmen dengan sponsor,’’ paparnya.

Menurut dia, LIB sama sekali tidak menyadari bagaimana sulitnya klub saat ini. Selain harus menghadapi pandemi korona, klub-klub harus dipaksa melakukan persiapan tanpa kejelasan. ’’Rata-rata klub pasti ngos-ngosan mengatasi biaya rutin dan biaya kompetisi,’’ ujarnya.

Editor : Ainur Rohman

Reporter : rid/c17/ali




Close Ads