alexametrics
Jersey Kontestan Liga 1 2019

Apparel Mandiri Lebih Untung

15 Mei 2019, 17:18:22 WIB

Kerja sama dengan apparel ternama bukan lagi prioritas bagi beberapa klub Liga 1. Beberapa di antaranya memilih untuk memproduksi apparel secara mandiri. Dengan begitu, mereka bisa menentukan desain dan variasi harga yang dilepas ke pasaran.

JawaPos.com – Pada musim lalu Persebaya Surabaya mampu menjual total 26 ribu jersey. Angka yang membuat klub berjuluk Green Force tersebut percaya diri untuk mengusung apparel mandiri pada musim ini. Apalagi, juara Liga 2 2017 itu mengusung 100 persen bahan lokal.

Jersey juga dibuat di Indonesia. Menurut Presiden Persebaya Azrul Ananda, hal itu sempat membuatnya sulit mencari perusahaan tekstil yang bisa diajak kerja sama. “Banyak yang angkat tangan. Mereka menganggap itu terlalu sulit. Tapi, semua itu memang harus dimulai,” katanya.

Karena itu, tak heran harga jersey Persebaya memang terbilang paling mahal jika dibandingkan dengan klub lain. Persebaya mematok harga Rp 750 ribu. Harga itu jauh di atas Bali United yang juga memproduksi apparel secara mandiri. Serdadu Tridatu mematok harga Rp 390 ribu.

Dengan memproduksi sendiri, Persebaya terbilang untung dalam penjualan jersey. Setidaknya, mereka memperoleh pendapatan kotor Rp 19,5 miliar. Azrul memang ingin membuat keuangan klub sehat. Salah satu caranya adalah menggenjot pendapatan dari sektor merchandise.

Menurut dia, sangat riskan apabila klub hanya bergantung pada pemasukan sponsor. “Itu bisnis yang tidak sehat,” katanya. Idealnya, ada tiga pilar pemasukan klub. Selain sponsorship, ada dari revenue penonton dan penjualan merchandise. “Idealnya adalah semua sektor berkontribusi setidaknya 30 persen,” ujar Azrul.

Bali United yang juga memproduksi sendiri, tapi dengan harga jual lebih murah kepada suporter, memang enggan bekerja sama dengan apparel asing. Dalam tiga musim berkompetisi di Liga 1, Stefano Lilipaly dkk menggunakan jersey produksi sendiri tanpa nama brand.

CEO Bali United Yabes Tanuri menuturkan, harga jual yang bisa disesuaikan dengan kantong suporter menjadi alasan utamanya. Dia tidak ingin fans Bali United sulit mendapatkan produk asli tim kesayangannya. “Yang jelas, saya ingin semuanya bisa mendukung Bali United,” ucapnya.

Nah, langkah Persebaya dan Bali United itu diikuti Barito Putera dan Borneo FC. Musim lalu Barito bekerja sama dengan Umbro. Saat ini mereka memakai brand sendiri dengan inisial H atau huruf depan nama sang manajer klub, Hasnuryadi Sulaiman. Borneo juga begitu. Jika musim lalu bersama Nike, kini mereka berganti NH atau inisial Nabil Husein, sang presiden klub.

“Semoga dengan apparel lokal yang lebih murah, fans bisa punya jersey asli tim,” kata Hasnur kepada Jawa Pos. Musim lalu banderol harga jersey mereka Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta.

Chief Marketing Borneo FC Novi Umar mengatakan, banyak keuntungan bagi tim. Dari segi desain, mereka lebih bisa berkreasi. Berbeda halnya ketika mereka bekerja sama dengan apparel lain. “Kalau kerja sama kan tentu harus menyesuaikan pihak kedua juga,” tutur Novi Umar.

Harga jersey orisinal klub berjuluk Pesut Etam tersebut juga cukup terjangkau, yakni Rp 300 ribu. ‘”Yang pasti, dengan apparel pribadi ini kami juga merasa keuntungan yang kami dapat lebih besar,” imbuh Novi Umar.

Editor : Edy Pramana

Reporter : gus/rid/nia/c19/ham