alexametrics
Liga 1 2019

Persija Selamat dari Degradasi Berkat Tiga Penalti Kontroversial

14 Desember 2019, 13:24:51 WIB

JawaPos.com – Lengkap sudah komposisi tim yang harus turun kasta ke Liga 2. Setelah Kalteng Putra, tadi malam giliran Semen Padang dan Badak Lampung FC yang harus terdepak. Persija menutup peluang Semen Padang dan Badak Lampung untuk bertahan, seiring kemenangan empat gol tanpa balas atas Madura United di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tadi malam.

Namun, kemenangan itu memantik emosi di kubu Madura United. Sebab, tiga dari empat gol Persija, dicetak dari titik penalti. Dan, semuanya dieksekusi oleh Marko Simic. Yakni pada menit ke-21′, 29′ dan 45+3′. Satu gol lainnya dilesakkan Ramdani Lestaluhu (26′). Begitu kesalnya, pelatih Madura United Rasiman langsung menghampiri wasit Thoriq Alkatiri usai peluit babak pertama selesai ditiupkan. Dia protes keras terhadap wasit level FIFA itu.

’’Saya sempat tanya ke dia, apa perasaannya ketika dia berdiri di depan saya dan mendapatkan tiga penalti dalam kurun waktu 30 menit? Dia jawab Demi Allah saya hanya menjalankan tugas, padahal bukan itu yang saya tanyakan,” kecam Rasiman. ”30 menit tiga penalti itu yang saya tidak bisa pahami, ngono yo ngono tapi mbok ojo ngono,’’ protesnya.

Wajar jika Rasiman merasakan ada kejanggalan. Pasalnya, Persija butuh kemenangan untuk memastikan bertahan di Liga 1. ’’Di ruang ganti, para pemain sudah sangat frustasi gara-gara penalti,” lanjut Rasiman. ”Tapi saya tegaskan tetap bermain sesuai rule dengan sisa tenaga, jangan main ngawur yang malah merugikan tim. Pemain harusnya mendapat respek karena di babak kedua permainan kami tidak hancur,’’ katanya.

Dia juga menolak anggapan jika Madura United sengaja ‘mengalah’ dari Persija tadi malam. Baginya, tuduhan itu sangat tidak mendasar. Salah satu buktinya adalah timnya memainkan seluruh pemain terbaik yang ada. Bahkan, Zulfiandi dan Syahrian Abimanyu yang baru pulang dari Sea Games 2019 langsung dimainkan. Sebelum penalti pertama dari Simic pun, Rasiman menilai timnya mengontrol pertandingan. ’’Penalti itu meruntuhkan mental para pemain. Saya fokus untuk tidak melakukan itu (main-main dengan pertandingan), kami ingin jadi atlet terhormat, bukan seperti itu,’’ tegasnya.

Dia berharap dengan adanya tiga pinalti bagi timnya, PSSI dan PT LIB bisa berbenah. Bisa melihat bahwa teknologi VAR sudah sangat dibutuhkan di sepak bola Indonesia.’’Sekali lagi saya tidak mengkritisi keputusan Thoriq, tapi laga penentuan seperti ini dihiasi tiga penalti, akhirnya membuat semua berasumsi. Harapan saya ini jadi cambuk bahwa teknologi dibutuhkan,’’ pintanya.

Rasiman memaparkan pertandingan melawan Persija adalah yang terburuk sepanjang karirnya. Dia tidak pernah merasakan disakiti dengan tiga penalti dalam satu babak selama jadi pelatih. ’’Saya pernah ketika pertanding di Kalimantan, kena penalti di menit ke-84 tapi tidak masuk. Dan di menit ke-90 kena penalti lagi. Saya pikir itu pertandingan terburuk, tapi ternyata ini lebih buruk,’’ ujarnya.

Presiden Madura United Achsanul Qosasi juga membantah kalau timnya sengaja mengalah. Dia menegaskan tidak ada instruksi untuk melepas pertandingan melawan Persija. ’’Gara-garanya tiga penalti dalam 30 menit itu yang tidak jelas. Itu menjatuhkan mental pemain,’’ kata Achsanul.

Justru AQ –sapaannya- curiga dengan tiga pinalti tersebut. ’’Itu (tiga penalti, red) yang patut dicurigai. Jadi caranya seperti itu ya, ini pelajaran baru buat saya,’’ paparnya.

Pelatih Persija Edson Tavares tidak peduli soal tiga penalti yang menguntungkan timnya. Yang jelas, dia puas dengan apa yang ditunjukkan anak asuhnya. ’’Kami mencetak empat gol dan tidak kebobolan dalam satu pertandingan, Alhamdulillah,’’ bebernya.

Selain itu, misinya juga sudah selesai di Persija. Yakni memperbaiki permainan tim dan menyelamatkan dari jurang degradasi. ’’Terima kasih untuk semuanya di tim, kami bertahan di Liga 1 musim depan,’’ tuturnya

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : Rid


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads