alexametrics

Kongres PSSI: Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Prestasi

Catatan: Mohammad Ilham, Wartawan Jawa Pos
14 Oktober 2019, 17:00:07 WIB

JawaPos.com – Kongres PSSI sudah di depan mata. Tinggal hitungan hari. Agenda utamanya tentu saja pemilihan ketua umum baru serta exco alias komite eksekutif. Di tangan mereka lah nantinya kebijakan pembinaan sepak bola tanah air selama lima tahun ke depan ditumpukan.

Idealnya, Kongres PSSI bisa menghadirkan harapan. Harapan akan adanya perubahan. Harapan akan semangat baru. Harapan akan federasi yang dikelola dengan lebih profesional. Harapan akan prestasi sepak bola Indonesia. Harapan akan kompetisi yang lebih tertata.

Problemnya, apakah kita bisa berharap? Dengan calon ketua umum, calon wakil ketua umum, dan calon anggota exco yang namanya sudah muncul, apakah harapan itu hadir di benak pecinta bola tanah air? Saya masih mencoba berharap sembari menunda putus asa akan sepak bola kita. Entah kalian.

Beberapa nama baru yang sempat mencuat memberikan setitik harapan. Begini, saya tidak sedang mendegradasi kualitas ataupun integritas muka lama. Namun, kenyataannya, mereka sudah gagal. Sudah lama mereka bercokol sebagai petinggi organisasi sepak bola kita dan hasilnya nol besar.

Kenapa tidak kita memberikan kesempatan kepada muka baru. Benar, kalian bisa bilang muka baru tanpa pengalaman. Muka baru belum tentu paham. Kenyataannya, muka lama dan cara lama toh sudah gagal membawa sepak bola kita berprestasi. Mengapa tidak berikan kesempatan kepada muka baru.

Saya setuju dengan kata-kata dari Harvey Dent alias Two Face: Anda lebih baik mati sebagai pahlawan, atau hidup terlalu lama dan melihat diri sendiri menjadi penjahatnya. Pada suatu masa, beberapa muka lama di federasi kita, pernah dianggap sebagai hero. Dan, ternyata mereka terlalu lama di sana.

Itulah alasan mengapa perlu ada pergantian kepengurusan. Perlu ada rotasi kepemimpinan. Sebab, terlalu lama di PSSI, hanya akan menghadirkan oligarki. Saya tidak perlu menyebut nama. Ada pengurus yang dulunya dipuja sebagai arsiteknya sepak bola Indonesia, kini apa yang terjadi?

Begini, ketika Edy Rahmayadi terpilih sebagai ketum dalam Kongres PSSI 2016 di Ancol, dia didampingi dua wakil ketum, yakni Joko Driyono dan Iwan Budianto. Kini, Jokdri berada dalam tahanan karena kasus perusakan barang bukti. Dan, nama kedua sempat disebut oleh Satgas Antimafia Bola. Meski tanpa kelanjutan.

Lalu, terpilih pula 12 anggota exco PSSI. Dari 12 orang tersebut, Hidayat jadi tersangka kasus match fixing. Johar Lin Eng malah sudah divonis bersalah terkait dengan pengaturan pertandingan Persibara Banjarnegara bersama salah seorang anggota Komdis PSSI, Dwi Irianto alias Mbah Putih.

Beberapa nama lainnya juga sempat disebut-sebut Satgas Antimafia Bola, meski pada akhirnya tidak ada kelanjutan. Sebab, memang sangat sulit membuktikan keculasan dalam sepak bola kita. Apalagi, memang tidak ada regulasi yang kuat untuk menjerat pengatur skor dan pertandingan di negeri kita.

Dan, seperti kita ketahui, sebagian nama lama itu masih masuk dalam daftar calon wakil ketua umum maupun anggota exco. Tentu saja, itu hak mereka. Dan, sesuai regulasi, hak itu boleh mereka ambil. Namun, selain hak, ada tanggung jawab. Apakah selama ini tanggung jawab itu telah dijalankan dengan baik?

Kalau memang berjalan dengan baik, mengapa prestasi sepak bola kita jalan di tempat atau malah mundur. Mengapa kompetisi berjalan kacau balau dengan berbagai isu miring. Mengapa Satgas Antimafia Bola bentukan Polri sempat turun tangan mengurusi ruwetnya pengelolaan sepak bola kita?

Pelajaran dari kepengurusan lama PSSI, bahwa ketum bukanlah segalanya. Apalagi, kalau ketum punya kesibukan dan jabatan lain yang masih diemban. Wakil ketua umum, sekjen, dan exco yang lebih berperan. Maka, selain memilih ketum yang tepat, penting untuk memilih orang-orang di kelilingnya yang berintegritas.

Nah, problemnya adalah apakah para pemilihnya berintegritas dan memang punya tujuan utama demi sepak bola kita? Dalam Kongres PSSI, hanya voters yang berhak memberikan suara. Mereka terdiri dari 34 Asprov PSSI, 18 klub Liga 1, 16 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, 1 asosiasi futsal Indonesia, dan 1 asosiasi sepak bola perempuan.

Ya, mereka lah orang-orang yang mewakili suara publik sepak bola kita. Apabila mereka memilih dengan baik, maka hasilnya baik pula. Lalu, bagaimana suara publik secara umum. Apakah berdemo saat Kongres PSSI berlangsung efektif? Itulah yang sering kita lakukan dan hasilnya selalu tak sampai ke dalam ruangan kongres.

Langkah yang berulang saya suarakan terkait dengan Kongres PSSI adalah bagaimana pecinta bola tanah air terlibat. Tak perlu jauh-jauh ke kantor PSSI pusat di Jakarta atau arena kongres. Cukup datangi saja voters terdekat. Bisa Asprov PSSI setempat atau klub yang punya hak suara.

Ayo satukan suara dulu. Setelah itu, datangi dan meminta untuk membuat kesepakatan. Toh, nantinya akan terdengar kok voters mana yang mengambil keputusan A atau B dalam kongres. Dari sana, publik bisa menilai, apakah kesepakatan yang kalian buat itu dijalankan atau tidak oleh voters.

Seiring waktu, yang patah akan tumbuh kembali, yang hilang akan berganti. Itulah yang ingin kita yakini, bukan? Sayang sekali, di sepak bola kita, yang terjadi bukan seperti itu. Yang selalu berulang tanpa henti adalah: yang patah tumbuh, yang hilang prestasi.

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads