alexametrics
Aktivitas Suporter Bola saat Pandemi Korona

Bonek Tribun Kidul Bagikan Masker dan Face Shield saat Sore dan Malam

13 Juli 2020, 12:05:04 WIB

JawaPos.com – Niat baik tak selamanya mendapatkan sambutan baik. Hal itu pula yang dialami Tribun Kidul saat membagi-bagikan face shield.

Waktu menunjukkan pukul 17.30. Azan Magrib Sabtu sore (11/7) itu baru tuntas berkumandang. Devara Noumanto, koordinator Tribun Kidul, langsung memberikan komando. Meminta arek-arek segera bergerak. ’’Ayo langsung dibagi wae,’’ celetuk pria yang akrab disapa Sinyo tersebut.

Sinyo memang membawa face shield yang akan dibagikan. Ada 200 face shield yang dibawa dengan kantong hitam. Titik pembagian berada di Pasar Simo, Surabaya. Bukan tanpa alasan Tribun Kidul melakukan pembagian di pasar tersebut.

Alasannya, Pasar Simo baru berdenyut pada sore hari. Kios-kios pedagang baru dibuka pukul 15.30. Begitu pula dengan pedagang yang memakai lapak sederhana di pinggir jalan. Selama ini, pembagian face shield atau masker lebih sering dilakukan pagi hari. ’’Padahal, banyak aktivitas warga yang baru dimulai saat sore atau malam hari. Mereka juga harus diperhatikan,’’ kata Sinyo.

Karena itulah, Tribun Kidul bergerilya pada sore dan malam hari. Menyentuh kawasan yang selama ini tidak terjamah bantuan oleh pihak-pihak lain. Bahkan, bukan kali ini saja Tribun Kidul melakukan hal itu. Tiga pembagian face shield lainnya malah dilakukan malam hari. Yakni, di Pasar Kapas Krampung, sentra PKL Tambaksari, dan PKL Taman Mundu. ’’Sasaran kami memang pedagang kali lima yang keluarnya malam hari. Mereka harus tetap patuh aturan kesehatan,’’ jelas pria asli Surabaya itu.

Tidak mudah bagi Sinyo dkk dalam melakukan aktivitas mulia tersebut. Mereka sering mendapat penolakan dari para pedagang. Di Pasar Simo, misalnya. Salah seorang pedagang ogah diberi face shield. ’’Emoh, Mas. Gawe opo? (Ogah, Mas. Buat apa?).’’ Begitu kata perempuan yang berjualan ayam potong tersebut. Kondisi itu sampai membuat Sinyo turun tangan. Dia kemudian menjelaskan betapa pentingnya face shield untuk menghindari ancaman Covid-19. Lima menit berselang, si pedagang akhirnya mau memakai face shield.

Sinyo sudah kenyang penolakan seperti itu. Beberapa kali dia malah sempat beradu argumen dengan pedagang kaki lima. ’’Mereka ngeyel menolak bantuan face shield. Padahal, ini penting,’’ tegasnya.

Lantas, bagaimana Sinyo meyakinkan para pedagang yang ngeyel itu? ’’Saya sampai mbujuk. Tak sampaikan, kalau pakai face shield itu biar nggak kena percikan minyak saat bikin nasi goreng. Biar makin ganteng. Harus ada omongan yang mudah dicerna,’’ bebernya.

Sinyo tahu bahwa kesadaran warga akan ancaman Covid-19 masih rendah. Karena itu, dia juga akan melakukan edukasi hingga ke grassroots. Bukan sekadar bagi face shield. ’’Kebanyakan grassroots belum tahu pentingnya alat kesehatan. Termasuk cuci tangan dan jaga jarak. Padahal, seperti pedagang, mereka berinteraksi dengan banyak orang,’’ tegas pria yang punya anak kembar tersebut.

Hal itulah yang membuat Surabaya jadi salah satu daerah dengan jumlah pasien Covid-19 tertinggi. Nah, bersama elemen Bonek lainnya, Tribun Kidul akan kian masif melakukan gerakan. ’’Bonek punya program bagikan satu juta masker,’’ katanya.

Dia berharap aksi itu menjadi titik balik kebangkitan Surabaya melawan korona. ’’Kami ingin Surabaya kembali jadi zona hijau,’’ tambah Sinyo.

Menyandang status warga dari zona merah sempat membuat Sinyo gerah. Awal bulan ini, dia sempat pergi ke Bandung. Saat masuk sebuah toko pakaian, dia ditanya dari mana asalnya oleh pelayan. ’’Dia tahu kalau saya dari Surabaya. Kemudian, saya ditanya surat kesehatan dan lain-lain,’’ tuturnya.

Hal itu membuat Sinyo gerah. ’’Artinya, Surabaya ini identik dengan Covid. Ini yang harus diubah,’’ tegasnya.

Editor : Mohammad Ilham

Reporter : gus

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads