alexametrics

Brian Ferreira Memanfaatkan Pertahanan Persebaya yang Kacau Balau

Ulasan: Ainur Rohman, Wartawan Jawa Pos
13 Juli 2019, 23:26:56 WIB

JawaPos.com-PSS Sleman meraih kemenangan keduanya secara beruntun di Liga 1 2019. Bermain di kandang sendiri, Stadion Maguwoharjo, PSS mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 2-1 pada matchday kedelapan.

Pada 7 Juli lalu, PSS meraih hasil penting, menekuk tuan rumah Kalteng Putra dengan skor 2-0. Di sisi lain, Persebaya gagal menang dalam dua laga terakhirnya.

Sebelumnya, Green Force ditahan imbang tamunya Barito Putera dengan skor 2-2 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Padahal, sebelum tertahan melawan Barito itu, Persebaya bisa meraih tiga kemenangan beruntun di Liga 1, termasuk membantai Persib Bandung dengan skor 4-0 di Surabaya.

Persebaya memulai pertandingan dengan baik, unggul lebih dulu melalui sepakan Damian Lizio pada menit ke-27.

Namun, performa lini belakang yang hancur lebur, membuat Persebaya kebobolan dua gol jarak dekat. Pertama, lewat tendangan striker asal Ukarina Yevhen Bokhashvili pada menit ke-39.

Kacaunya komunikasi dan koordinasi di jantung pertahanan Persebaya, membuat winger PSS Haris Tuharea mencetak gol kemenangan bagi timnya.

’’Ini pertandingan yang seru dan berjalan baik. Saya belajar banyak dari Coach Djadjang (Nurdjaman),’’ kata pelatih PSS Seto Nurdiantoro. ”Tentu saja, meski menang, akan ada evaluasi. Terutama untuk membuat tim kami lebih enak ditonton lagi,” tambahnya dalam konferensi pers setelah pertandingan.

PSS Memilih Berinisiatif dengan Garis Pertahanan Tinggi

Sebagai tuan rumah, pelatih PSS Seto Nurdiantoro melakukan inisiatif dan kontrol di awal permainan. Bermain dengan pola dasar 4-2-3-1 yang bisa menjadi 4-3-3 saat menyerang dan 4-4-1-1 (atau 4-5-1) ketika bertahan, PSS memasang garis pertahanan tinggi. Pada 10 menit pertama, pemain PSS melakukan pressing sampai sepertiga permainan Persebaya.

PSS terlihat nyaman menyuasai bola karena memiliki gelandang berkualitas pada diri Brian Ferreira. Mantan pemain tim nasional Argentina U-17 tersebut menjadi pusat dan inti dalam permainan PSS.

Tugasnya adalah men-delay permainan, sambil mencari celah untuk mengirimkan umpan kepada Irkham Zahrul Milla di kanan atau Haris Tuharea yang beroperasi di kiri. Tetapi, kadang, Ferreira juga kerap mengirimkan umpan menusuk langsung ke depan menuju Bokhashvili.

Kalau tidak ada space, Ferreira juga kerap melakukan tendangan jarak jauh. Total, tembakan Ferreira mencapai tujuh kali. Itu adalah jumlah terbanyak dari pemain manapun pada pertandingan ini. Baik itu dari kubu PSS ataupun Persebaya.

PSS dan Persebaya memang banyak melakukan tembakan. PSS memproduksi 22 kali (9 akurat). Sedangkan Persebaya mengkreasi 19 sepakan (4 akurat).

Pelatih Persebaya Djadjang Nurdjaman seperti biasa, memainkan formasi favoritnya 4-3-3. Tanpa adanya Amido Balde yang dikabarkan mengalami sakit saluran pencernaan, Djanur memasang Osvaldo Haay. Selain itu, Mokhamad Syaifuddin kembali bermain sebagai starter. Dia menggantikan bek tengah utama Hansamu Yama Pranata yang cedera.

Kejutan kecil terjadi di lini tengah. Djanur mengganti Misbakus Solikin yang biasanya bermain sejak menit pertama dengan Fandi Eko Utomo. Fandi yang lebih bertenaga, tampaknya ditugaskan untuk melakukan marking dan memutus aliran bola dari gelandang bertahan PSS asal Brasil, Guilherme Batata.

Langkah Djanur untuk bermain sabar tampak sangat menjanjikan. Setelah 15 menit gagal menemukan celah pada lini tengah PSS yang solid, Persebaya akhirnya memiliki peluang bagus pertama pada menit ke-16. Sebuah umpan cepat dari Damian Lizio, diterima dengan bagus oleh Manuchekhr Dzhalilov.

Kans tersebut terbuang sia-sia karena Dzhalilov terlalu lama dalam mengeksekusi bola. Momentum di gawang hilang karena dua pemain PSS melakukan blok kepada tendangan Dzhalilov.

Cara bertahan PSS yang rapat dengan Batata dan Dave Mustaine yang menjadi double pivot, membuat penyerangan Persebaya menjadi tumpul. Akhirnya, kecepatan Irfan Jaya di sebelah kanan seolah tidak berguna.

Apalagi, kapten PSS Bagus Nirwanto melakukan marking yang bagus kepada kapten Persebaya Ruben Sanadi. Itu membuat Ruben nyaris tidak pernah melakukan build-up jauh ke pertahanan PSS.  Padahal, salah satu senjata terbaik Persebaya di musim ini dan musim lalu adalah manuver-manuver Sanadi.

Karena sektor kiri buntu, Persebaya juga mencoba membangun serangan dari Novan Setya Sasongko di kanan. Novan memang sering naik. Namun crossingcrossingnya ke dalam kota penalti terus mentah. Sebab, sepeninggal Balde, Persebaya tak memiliki barisan penyerang yang kuat dalam duel udara.

Pada menit ke-27, Persebaya akhirnya mencetak gol pembuka melalui Damian Lizio. Gol tersebut berawal dari upaya Dzhalilov untuk menjadikan Osvaldo Haay sebagai tembok pemantul bola.

Siasat itu, awalnya, tidak berjalan dengan sangat sempurna karena Dzhalilov tidak bisa menjangkau bola. Namun untung bagi Persebaya, bola itu mengarah kepada Irfan Jaya yang langsung menedang bola ke gawang. Eksekusi Irfan dari dalam kotak penalti tersebut mengenai mistar. Tetapi bola lalu mental dan mengarah kepada Lizio yang langsung menghajarnya untuk mengoyak gawang kiper Try Hamdani Goentara.

Dalam kondisi unggul, Persebaya kembali memilih bereaksi atas apapun yang dilakukan PSS. Empat pemain belakang Persebaya cukup disiplin. Mereka tidak memberikan ruang kepada para anggota kompartemen penyerangan PSS.

Muhammad Hidayat juga terus mempressing Brian Ferreira. Ini membuat Ferreira seakan tidak memiliki opsi selain melakukan tendangan jauh dari luar kotak penalti. Upaya terbaik Ferreira terjadi pada menit ke-34. Tetapi tendangan kerasnya masih mampu ditepis kiper Persebaya, Miswar Saputra.

Lima menit setelah peluang tersebut, Ferreira menjadi kunci atas gol balasan PSS yang dicetak oleh Bokhashvili. Semua bermula saat Bagus Nirwanto maju jauh ke depan.

Dengan sangat baik, kapten PSS tersebut mampu membaca arah lari Ferreira yang langsung menusuk ke dalam kotak penalti. Membelah pertahanan Persebaya, Ferreira lolos dari penjagaan Otavio Dutra untuk mengirimkan assist pendek kepada Bokhashvili.

Gol itu seharusnya tidak lahir andai Syaifuddin dan Novan sedikit lebih cerdas dalam membaca permainan. Posisi keduanya yang sudah mengapit Bokhashvili di depan dan belakang menjadi percuma. Sebab, baik Syaifuddin dan Novan, malah terpaku kepada bola dan tidak melihat gerakan Bokhashvili dari belakang.

Sepanjang sisa babak pertama, PSS tetap mendominasi permainan dan memakai serangan yang sama; menembak dari luar kotak penalti. Peluang terakhir PSS sebelum turun minum adalah tendangan jarak jauh Dave Mustaine pada menit kedua injury time babak pertama.

Brian Ferreira Terbaik Dalam Assist, Umpan Kunci, dan Dribel 

Pada 10 menit babak kedua, Brian Ferreira kembali memberikan teror kepada pertahanan Persebaya. Semuanya lewat sektor tengah permainan. Namun, gol kemenangan PSS justru bermula dari sisi kanan.

Ferreira yang lolos dari marking Hidayat dan Dzhalilov, memberikan umpan terobosan kepada Irkham Zahrul Milla. Pemain 21 tahun itu berlari kencang, memanfaatkan kelengahan Ruben Sanadi yang gagal menutup ruang. Irkham lantas mengirimkan umpan ke tengah.

Sodoran Irkham itu seharusnya tidak terlalu berbahaya. Namun, bola silang mendatar tersebut gagal ditangkap oleh Miswar Saputra yang sudah menjatuhkan diri. Yang lebih kacau balau, bola itu meluncur melewati dua kaki Syaifudin, lantas mengarah kepada Haris Tuharea.

Tanpa penjagaan, mantan pemain PS Mojokerto Putra itu menceploskan bola ke gawang yang kosong. Novan yang seharusnya melakukan marking kepada Haris, gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Jarak penjagaan Novan terlalu jauh. Lagi-lagi, dia terlihat terlalu fokus pada bola, bukan pada pergerakan Haris.

Setelah gol Haris Tuharea itu, intensitas pertandingan berjalan lebih tinggi. Kedua tim bermain lebih terbuka dan ofensif. Persebaya memiliki peluang emas untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-62. Namun, tendangan jarak dekat Osvaldo Haay setelah mendapatkan sodoran dari Irfan Jaya mampu ditepis Try Goentara.

PSS juga memiliki peluang bagus masing-masing dalam lima menit terakhir pertandingan. Pertama, lewat serangan balik, Bokhashvili berhasil merangsek ke pertahanan Persebaya. Namun, sepakannya menghajar mistar.

Kedua, pemain pengganti Kushedya Hari Yudo yang sebelumnya berhasil mengobrak-abrik pertahanan Persebaya, tidak mampu menuntaskan aksinya menjadi gol.

Pemain terbaik dalam laga ini tentu saja Brian Ferreira. Berdasarkan data Jawa Pos yang bekerja sama dengan lembaga penyedia statistik sepak bola Statoskop, Ferreira berhasil mencetak satu assist, dua umpan kunci, dan tiga dribel.

Jumlah umpannya yang mencapai 34, sama dengan Dave Mustaine. Dia hanya kalah dari Batata (44 kali). Namun, Ferreira memiliki peran yang jauh lebih besar sebagai konduktor terpenting dalam penyerangan PSS. Batata sendiri mencatat satu umpan kunci, nol assist, dan nol dribel. Sedangkan Mustaine sama sekali tidak memproduksi umpan kunci, assist, ataupun dribel.

Sepanjang musim debutnya di Liga Indonesia, Brian Ferreira mencetak empat assist dalam tujuh pertandingan. Itu jumlah luar biasa. Mengingat, PSS secara total cuma membukukan enam assist. Jumlah assist Ferreira sama dengan Ruben Sanadi (Persebaya) dan hanya kalah dari pemain Bhayangkara FC Flavio Junior (lima assist).

Tambahan tiga angka membuat PSS untuk sementara merangsek ke papan atas klasemen Liga 1. Super Elang Jawa menempati posisi kelima dengan poin 12. Jumlah itu sejatinya sama dengan Persebaya. Namun, Persebaya mencatat selisih gol lebih baik. PSS sendiri memiliki sedikit keuntungan karena punya tabungan pertandingan satu kali lebih banyak ketimbang Persebaya. (*)

 

Editor : Ainur Rohman



Close Ads