alexametrics

Tugas Polisi Memang Mengayomi, Apakah Tak Boleh Ikut Kompetisi?

Catatan: Edy van Derhoofd, @HoofdbureauID
13 Februari 2020, 12:00:55 WIB

JawaPos.com – Tugasmu mengayomi,

Tugasmu mengayomi…

Sepenggal nyanyian atau istilah ”ngechant” bait tersebut sering terdengar di tribun stadion sepak bola. Apalagi ketika ada pertandingan tim besutan institusi Polri, yakni Bhayangkara FC. Chant tersebut begitu karib di telinga kita, para penikmat sepak bola tanah air.

Entah siapa yang memulai atau mungkin menciptakan chant tersebut, namun kalau kita dengar dan resapi, ada rasa senang, suka, lucu, dan mendalam bagi yang memahami makna penggalan chant nyanyian tersebut.

Ya, itu adalah bagian dari slogan Kepolisian ”Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat” sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945 Pasal 30 ayat (4), kemudian dalam Ketetapan MPR RI No VII/MPR/2000 Pasal 6 ayat (1) yang menyebutkan peran Polri untuk ”Memberikan Pengayoman, dan Pelayanan kepada Masyarakat”.

Memang, chant atau penggalan nyanyian tersebut tidak asing di telinga kita di awal tahun 2019 lalu, bukan hanya di kalangan suporter sepak bola di Indonesia, namun pernah kita dengar di kalangan politisi dan ormas saat mereka turun jalan saat perhelatan Pemilu 2019. Sekali lagi, entah apa maksud dan tujuannya, di sini penulis tidak akan membahas lebih dalam.

Kembali ke sepak bola dan suporterny. Saat chant itu dinyanyikan dengan beat-nya yang bisa menjadikan pembakar semangat, maka bagi yang memaknai itu sebuah nyanyian dukungan akan sangat membantu mental para pemainnya. Namun, apabila dimaknai itu sebuah sindiran atau bahkan kritikan maka akan berbeda lagi maknanya. Tinggal kita sebagai pendengar atau mungkin yang ikut menyanyikan penggalan tersebut yang bisa merasakan. Sebab, sekali lagi banyak sudut pandang atas chant atau nyanyian tersebut.

Oke, sebuah sindiran atau mungkin kritikan kepada kepolisian. Lalu, dalam persepak bolaan atau bahkan dunia olah raga yang lebih besar lagi apa yang menjadi dasar sindiran dengan chant tersebut? Jika di luar olah raga bolehlah Polisi dilarang terlibat politik praktis. Jangankan dalam berpolitik, dalam berorganisasi pun anggota polisi diatur mulai dalam sebuah perundang-undangan hingga peraturan-peraturan yang tentunya mengikat ke dalam individu dan institusi Polri itu sendiri.

Mungkin maksud chant itu bahwa polisi tidak boleh ikut dalam kompetisi sepak bola di mana Bhayangkara FC indentik dengan lembaga Kepolisian atau PS Tira Persikabo dengan TNI.

Namun, olahraga bukan hanya sepak bola. Banyak kok personil Kepolisian yang mengikuti ajang olah raga mulai bola voli, bela diri, dirgantara, ketangkasan dan masih banyak lagi. Demikian juga personil TNI. Bisa dibayangkan apabila chant tersebut dinyanyikan di seluruh tribun cabang olah raga di Indonesia karena hadirnya Polisi sebagai salah satu kontestan di sana.

Bukan hanya di Indonesia, bisa jadi saat timnas (yang di dalamnya ada personel polisi) bisa-bisa suporter lawan juga akan ngechant hal yang sama. Rasa senang, suka, lucu dan mendalam pasti akan melintas lagi di benak kita.

Dalam sepak bola nasional, biarkan Bhayangkara FC bermain dengan rule- nya. Tentunya tanpa menggunakan fasilitas institusi Polri secara ”free”. Banyak batasan yang mengikat klub itu, jika ada yang bertanya ”darimana dana untuk mengontrak pemain, wasit dan sebagainya?” sudah banyak kok dibahas oleh pengamat sepak bola.

Keterlibatan pemain dari unsur polisi pun juga tidak secara mayoritas, karena mereka bermain profesional. Sedangkan pengerahan suporter saat mereka bertanding pun juga bisa kita lihat dalam setiap ada pertandingan Bhayangkara FC. Lalu, apakah masih ada pertanyaan bahwa seluruh personil Polri sudah pasti sebagai penonton atau suporter Bhayangkara FC?

Hingga saat ini pun belum ada ”tangan besi” semacam perintah dari pimpinan tertinggi polri kepada anggotanya untuk menjadi suporter saat Bhayangkara FC bertanding. Dan, jangan sampai itu terjadi.

Bisa dibayangkan apabila itu diterapkan, bisa-bisa seluruh stadion yang didatangi Bhayangkara FC, baik saat kandang maupun tandang akan penuh dengan polisi sebagai penonton di tribun sesuai kuota atau kapasitas stadion. Kenyataanya, selama ini bisa saksikan sendiri baik saat menonton di tribun atau di layar kaca. Atau, apakah polisi akan menjadi BharaMania setiap Bhayangkara FC bermain? Tentu juga tidak kan. Kembali ke pribadi masing-masing di mana tidak ada sikap otoriter dan perintah resmi menjadi apa dan siapa.

Biarkan kami pribadi menjadi Bonek, Aremania, Viking, The Jak, Pasoepati, atau suporter lainnya sesuai klub kebanggaan masing-masing. Penulis pun bahkan sempat dijuluki ”Bonek” oleh rekan-rekannya, bahkan ada Jenderal Bintang Satu dan Dua juga kalau memanggil penulis dengan sebutan ”he bonek!!”.

Dan Bhayangkara FC biarkan bermain dengan effort-nya. Dukung dunia olah raga yang ikut membawa nama besar negeri ini, yang melahirkan atlet-atlet profesional dari manapun sumbernya. Polisi akan tetap dengan khitah-nya. Polisi akan hadir dalam setiap perhelatan untuk mengamankan, memberikan pengayoman, dan tentunya perlindungan bagi setiap individu yang berkaitan.

Tugasmu mengayomi, tugasmu mengayomi… Ya, tugasku melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat untuk menciptakan dan memelihara ketertiban masyarakat itu sendiri.

Salam olah raga, semoga bermanfaat. (*)

Editor : Mohammad Ilham

Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads